in

Asal Usul Kata Tirakatan Memperingati Malam 1 Syuro

MENYAMBUT Tahun Baru Jawa atau malam 1 Syuro, sebagian masyarakat digunakan untuk berkumpul bersama menjalin keakraban antar warga dengan menggelar kegiatan tirakatan atau lek-lekan (tidak tidur sampai dinihari). Bahkan, adanya kegiatan warga ini membuat gang -gang perkampungan di Kota Semarang dan sekitarnya pun ditutup.

Biasanya, dalam acara malam itu diisi warga untuk memanjatkan doa bersama dan menggelar slametan di lingkungan RT/RW. Agar diberikan keselamatan dan berkah serta jauh dari musibah maupun bencana.

Diambil dari berbagai sumber, istilah kata tirakat sendiri berasal dari kata bahasa Arab “Thariqah”, yang karena gejala ablaut (yakni perubahan bentuk kata karena bunyi vokal) kemudian berubah ucap menjadi “Tirakat”. Istilah tirakat ini dikenal dalam masyarakat Jawa sebagai salah satu cara untuk menaklukkan diri sendiri. Ini artinya, tirakat dilakukan karena didorong oleh niat pribadi dan dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Pada malam 1 Syuro, identik dengan suasana mistis dan sakral. Karena itulah di beberapa daerah di Pulau Jawa ada ritual khusus yang dilakukan. Misalnya Kirab Kebo Bule di Keraton Solo. Lalu, tradisi Tapa Bisu, atau puasa tidak berbicara di daerah Yogyakarta. Dan di Semarang ada ritual kungkum, atau berendam di pertemuan arus Kali Kreo dan Kali Ungaran, di kawasan Tugu Soeharto, Jalan Tugu, Bendanduwur, Gajahmungkur untuk “laku ngalap berkah”. Masyarakat mempercayai, kalau mengikuti ritual itu akan mendapatkan berkah, keselamatan, dan keinginannya menjadi terkabul.

Bagi masyarakat Jawa, yang masih memegang kuat adat Kejawen, tak lepas dari cara berpikir dalam bertindak, masyarakat Jawa yang mengenal konsep kosmologi, yaitu tentang jagad cilik (mikrokosmos) dan jagad gedhe (makrokosmos), dimana manusia termasuk di jagad cilik dan alam semesta merupakan jagad gedhe.

Masyarakat Jawa masih percaya kekuatan alam semesta yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia di dunia, sehingga tidak lepas dengan ritual atau slametan saat waktu tertentu, maupun mengalami peristiwa penting. Seperti yang berhubungan dengan upacara siklus hidup, kelahiran, pernikahan dan kematian serta usai musim panen maupun sedekah laut dengan tujuan sama, yaitu untuk tanda syukur pada Tuhan atas rejeki yang diberikan. (HS-06)

Wagub Lampung Temui Ganjar, Sebut Jateng Sukses Atasi Kemiskinan Lewat UMKM

Menpora Sebut Kesuksesan ASEAN Para Games Harapan 270 Juta Rakyat Indonesia