in

Lestarikan Wayang Kedu Sebagai Salah Satu Warisan Budaya

Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko.

DI Indonesia, wayang sudah menjadi sebuah pertunjukan tradisi yang dikenal masyarakat sejak zaman dulu. Pertunjukan wayang kulit sangat digemari oleh masyarakat, karena cerita wayang sering dikaitkan dengan karakter manusia. Bahkan masyarakat Jawa sering mengidentifikasikan diri dengan tokoh wayang tertentu.

Wayang kulit sendiri dalam bahasa Jawa disebut ringgit, ringgit purwa atau wayang kulit purwa. Kata purwa (pertama) dipakai untuk membedakan wayang jenis ini dengan wayang kulit jenis lain seperti wayang gedhog, wayang kancil, dan lain lain. Purwa berarti awal. Wayang purwa diperkirakan memiliki umur yang paling tua di antara wayang kulit lainnya.

Pertunjukan wayang kulit tidak hanya berfungsi sebagai hiburan atau tontonan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan moral dan sarana komunikasi massa. Salah satu jenis wayang yang ada di Indonesia adalah Wayang Kedu. Jenis wayang ini berbeda dengan wayang yang berkembang di wilayah keraton, seperti di Yogyakarta dan Surakarta, yang banyak mengambil cerita dari Mahabarata dan Ramayana. Wayang Kedu mengambil cerita tentang kesuburan atau Dewi Sri.

Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko berharap, Wayang Kedu tetap lestari di tengah modernitas. Hal itu karena Wayang Kedu merupakan identitas tersendiri dari sebuah peradaban masyarakat di wilayah Kedu, khususnya di Temanggung, Wonosobo, Magelang, dan sekitarnya.

“Jangan sampai identitas yang terbentuk dari proses peradaban kebudayaan ini hilang. Padahal Wayang Kedu memiliki kekuatan dan ciri khas sendiri terkait kearifan lokal masyarakat lampau,” katanya, Sabtu (5/11/2022).

Dikatakan, dulu wayang digunakan untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Sejarah sudah membuktikan bahwa budaya-budaya Jawa telah berperan dalam penyebaran agama Islam oleh Walisongo. Wayang Kedu sendiri, kerap menjadi pertunjukan masyasyakat tradisional di wilayah Kedu, khususnya saat menyambut masa panen. Politisi Gerindra itu pun berharap masyarakat tetap melestarikan budaya Jawa agar tidak kehilangan jati diri dan identitasnya.

“Wayang Kedu ini dulunya kerap digelar sebagai suatu bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang melimpah. Jenis wayang ini hanya berkembang di wilayah Kedu dan sekitar, dan memiliki identitas perdaban masyarakat di masa lampau. Jangan sampai kita menjadi lupa akan jati diri kita, lupa akan identitasnya, kalau sudah lupa identitasnya berarti sudah kehilangan arah,” katanya.

Lebih Sederhana

Sebagai informasi, Wayang Kedu merupakan jenis wayang yang berkembang di tengah masyarakat petani yang tinggal di Temanggung, Wonosobo, Magelang, dan sekitarnya. Jenis wayang ini punya perbedaan dengan wayang kulit versi Yogyakarta dan Surakarta, salah satu di antaranya adalah bentuknya lebih gemuk dan ornamennya lebih sederhana.

Bila wayang kulit dari Yogyakarta maupun Surakarta mengambil cerita dari Mahabarata dan Ramayana, Wayang Kedu mengambil cerita tentang kesuburan atau Dewi Sri. Oleh karena itu fungsinya lebih untuk upacara adat yang berkaitan dengan ritual pertanian.

Pada tahun 2015 sendiri, tercatat ada tiga dalang Wayang Kedu yang berasal dari Temanggung. Mereka tinggal di Candiroto, Ngadirejo, dan Kranggan. Salah satu dalang itu bernama Ki Legawa Cipta Karsana.

Dilansir dari Wikipedia, Wayang Kedu mengalami masa kejayaan pada tahun 1940 hingga 1960. Pada masa itu, seorang dalang bisa menerima panggilan mendalang selama 40 kali berturut-turut dalam satu musim panen raya.

Saat itu seorang dalang harus memiliki stamina yang luar biasa karena harus mampu mendalang selama 40 hari non stop. Belum lagi mereka harus menempuh perjalanan dari desa satu ke desa lainnya.

Namun karena proses regenerasi tidak berjalan mulus, keberadaan Wayang Kedu ini terancam punah. Belum lagi seiring waktu Wayang Yogyakarta maupun Surakarta semakin populer dan bisa menyesuaikan perkembangan teknologi. Sehingga tinggal beberapa seniman saja yang menjaga gaya Wayang Kedu, khususnya Wayang Kedu Wonosaban.(Advetorial-HS)

Satu ABK Asal Kendal yang Selamat dari Musibah Tenggelamnya Kapal Kargo Menjalani Perawatan

DPRD Jateng Apresiasi Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya