in

Bertemu WNI di Polandia, Kepala BNPT Ingatkan Perempuan Rentan Jadi Sasaran Penyebaran Ideologi Terorisme

Kepala BNPT RI, Komjen Pol Mohammed Rycko Amelza Daniel, berfoto bersama diaspora Indonesia di KBRI Warsawa, seusai sosialisasi upaya menangkal penyebaran paham radikalisme terorisme. (Foto : Bnpt.go.id)

 

HALO SEMARANG – Perempuan dan generasi muda termasuk golongan yang rawan terpapar penyebaran paham terorisme. Pengusung ideologi tersebut, kini kesulitan melakukan serangan bom, namun masih bisa menyebarkan paham ideologi kekerasan yang mereka anut.

Upaya pengusung ideologi terorisme menyebarluaskan pahamnya itu, dibeberkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI), Komjen Pol Mohammed Rycko Amelza Daniel, kepada diaspora Indonesia di wilayah kerja KBRI Warsawa.

Menurut Mohammed Rycko Amelza Daniel, ketahanan WNI untuk menangkal ideologi kekerasan perlu ditingkatkan.

Adapun cara yang dapat dilakukan, adalah dengan memahami dan menerapkan nilai-nilai kebangsaan dan persatuan.

“Ketahanan kita terhadap ideologi kekerasan harus kita tingkatkan. Upaya bersama ini kita lakukan dengan terus memperkuat nilai – nilai kebangsaan dan persatuan,” kata dia, seperti dirilis bnpt.go.id.

Rycko menjelaskan pola kerja kelompok pengusung kekerasan, merusak Indonesia dengan cara menyerang keyakinan generasi muda, termasuk kaum perempuan.

“Tidak bisa merusak Indonesia melalui serangan bom, namun terlebih dahulu dengan menyerang  keyakinan kepada generasi penerus bangsa. Ibu atau perempuan sebagai pendidik anak-anak dihancurkan melalui keyakinannya terlebih dahulu,” paparnya.

Menurutnya, juga generasi muda rentan terpapar ideologi kekerasan disebabkan oleh beberapa hal.

Di antaranya kurangnya pemahaman tentang sejarah Indonesia; kurangnya pendidikan wawasan kebangsaan; serta belum optimalnya pembelajaran mengenai budi pekerti, termasuk dalam aspek toleransi. Maka, peningkatan kualitas pendidikan sangat dibutuhkan.

Sementara itu, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia (Duta Besar LBBP RI) untuk Republik Polandia, Anita Lidya Luhulima menyambut baik kegiatan peningkatan ketahanan ini.

“Kami menyambut baik upaya peningkatan ketahanan ini melalui diseminasi di wilayah kerja KBRI Warsawa kepada diaspora yang berasal dari berbagai profesi baik pekerja maupun pelajar yang tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI),” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia melalui BNPT RI telah mampu menangani isu transnasional ini tanpa mengaitkannya dengan suatu identitas tertentu serta mampu mengkombinasikan pendekatan keras dan lunak dalam penanggulangannya.

“Indonesia melalui BNPT RI  telah mampu mengatasi isu ini tanpa mengaitkan terorisme dengan identitas tertentu, serta berhasil menyeimbangkan antara pendekatan keras dan lunak dalam penanggulangan terorisme tanpa melanggar hak asasi manusia (HAM),” pujinya.

Dalam kesempatan ini turut dibahas rencana Indonesia dan Polandia yang akan menjajaki kerja sama bilateral melalui penyusunan Memorandum ofUnderstanding (MoU) terkait penanggulangan terorisme.

Adapun upaya peningkatan resiliensi ini tidak hanya untuk melindungi WNI, tetapi juga untuk mencegah aksi terorisme dan menguatkan peran Indonesia sebagai negara yang menjunjung perdamaian dan anti kekerasan.

Sesi ini diakhiri dengan ramah tamah Kepala BNPT RI dengan WNI di Warsawa.

Di Oslo

Sebelumnya BNPT RI juga berupaya meningkatkan resiliensi setiap WNI yang bermukim di Oslo, Norwegia, dari ancaman ideologi kekerasan.

“Kita harus tingkatkan resiliensi kita terhadap ideologi kekerasan, kita harus menguatkan ketahanan kita dimulai dari keluarga kita,” ucap Kepala BNPT RI, dalam  Diseminasi Pencegahan Tindak Pidana Terorisme Dalam Rangka Pelindungan WNI di Kota Oslo, Norwegia, di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Oslo

Upaya peningkatan resiliensi ini dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan penguatan nilai kebangsaan dan persatuan termasuk menjauhkan kelompok rentan dari pihak – pihak yang mengajarkan ideologi yang salah.

“Upaya ini perlu terus ditingkatkan dengan terlebih dahulu melakukan penguatan konsep nilai kebangsaan dan persatuan, termasuk menjauhkan kelompok rentan yakni perempuan, remaja dan anak dari pihak – pihak yang mengajarkan intoleransi, radikalisme hingga terorisme,” ungkapnya.

Dalam kegiatan ini, Rycko juga menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan perwujudan kehadiran negara dalam melindungi segenap bangsa Indonesia.

“Kegiatan ini merupakan perwujudan kehadiran negara dalam melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia sesuai dengan tujuan negara Indonesia.” ujarnya.

Sementara itu, Duta Besar Republik Indonesia (RI) untuk Norwegia Teuku Faizasyah menyambut baik upaya peningkatan resiliensi ini.

“Kami menyambut baik upaya ini melalui diseminasi di wilayah kerja KBRI Oslo kepada WNI yang berasal dari berbagai profesi,” ucapnya.

Menurutnya, negara sedamai Norwegia tidak luput dari serangan terorisme.

“Norwegia sendiri tercatat terdapat serangan ekstrem sayap kanan tahun 2011 di Oslo dan Pulau Utoya oleh Anders Behring Breivik, kasus lain pada tahun 2019 terdapat penyerangan di masjid An-Nur,” jelasnya. (HS-08)

Perayaan HUT Ke-79 RI di IKN, Kakorlantas Polri Kerahkan 898 Personel Satgas Pengamanan hingga Parkir

Pergi lantaran Ingin Jadi Pilihan Pertama