in

Pakuwon Mall dan Kota yang Suka Bermain Dadu dengan Ancaman

Gambar ilustrasi AI.

KOTA SEMARANG tampaknya sedang mengejar satu gelar baru: kota yang percaya mal bisa menyelesaikan hampir semua persoalan. Jalan macet? Bikin mal. Ekonomi lesu? Bikin mal. Butuh ruang berkumpul? Lagi-lagi mal. Kali ini yang datang bukan proyek kecil-kecilan, melainkan Pakuwon Mall Semarang dengan nilai investasi sekitar Rp 5,6 triliun. Superblok lengkap: pusat belanja, hotel berbintang, apartemen, ballroom, dan segala kemewahan yang sanggup membuat dompet spontan berpura-pura mati.

Investasi sebesar itu tentu menggoda. Pemerintah daerah memang membutuhkan investasi untuk menggerakkan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan menambah penerimaan daerah. Tidak ada yang salah dengan itu. Masalahnya, investasi yang baik selalu datang bersama satu pertanyaan sederhana, apakah lokasi yang dipilih benar-benar bersahabat?

Nah, di sinilah cerita mulai berubah dari brosur properti menjadi novel geologi.

Gombel Lama bukan sekadar kawasan perbukitan dengan pemandangan indah. Dalam berbagai kajian geologi dan dokumen tata ruang, kawasan ini dikenal memiliki karakter tanah yang kompleks. Sejumlah ahli geologi pernah mengingatkan adanya jalur sesar aktif di kawasan tersebut. Sesar aktif memang bukan monster yang setiap hari mengamuk. Namun keberadaannya membuat setiap pembangunan skala besar perlu dihitung dengan lebih teliti, lebih rinci, dan lebih sabar.

Masalahnya, kesabaran memang bukan komoditas yang mudah dijual ketika nilai investasi sudah mencapai triliunan rupiah.

Warga Semarang tentu masih mengingat peristiwa puluhan rumah di kawasan Gombel Lama yang mengalami retak beberapa tahun silam. Penyebabnya menjadi bahan kajian para ahli. Terlepas dari berbagai faktor yang mungkin terlibat, kejadian itu menjadi pengingat bahwa kawasan perbukitan memiliki karakter yang berbeda dengan tanah datar di tengah kota. Bukit memang cantik dipandang, tetapi ia juga memiliki cara sendiri untuk mengingatkan manusia agar tidak terlalu percaya diri.

Lalu ada cerita yang jarang masuk brosur investasi, mata air bawah permukaan. Dalam ilmu geologi, aliran air bawah tanah memiliki jalur alami. Ketika jalur tersebut berubah akibat pemotongan bukit atau pembangunan besar, muncul kekhawatiran terhadap keseimbangan hidrologi setempat, termasuk keberlanjutan sumber air bawah tanah. Air memang tidak pandai berorasi. Ia hanya mengalir. Kalau jalurnya diputus, ia akan mencari jalan lain. Kadang jalan baru itu justru membuat manusia yang kebingungan.

Bukti lain sebenarnya dapat dilihat tanpa perlu membawa mikroskop geologi. Cobalah melintas di beberapa ruas sekitar Gombel menuju kawasan Universitas 17 Agustua 1945 (Untag) Semarang di Bendan Duwur. Permukaan jalan yang berkali-kali diperbaiki tetap menunjukkan gelombang di sejumlah titik. Beton sudah dicor, aspal sudah diganti, pekerjaan pemeliharaan berulang dilakukan. Namun tanah memiliki pendapat sendiri. Ia bergeser pelan, lalu mengirim pesan bahwa hukum alam bukan peserta lelang yang bisa diajak kompromi.

Ironisnya, manusia sering lebih percaya pada gambar tiga dimensi apartemen dibanding sifat asli tanah yang akan menopangnya.

Di sisi lain, perjalanan administrasi proyek ini juga menarik dicermati. Persetujuan Keterangan Rencana Kota (KRK) diproses pada masa pemerintahan Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu. Ketika proyek berlanjut, proses Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) berlangsung pada era Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti melalui perangkat daerah yang berwenang. Pergantian kepala daerah ternyata tidak menghentikan laju proyek. Investor boleh berganti desain fasad, tetapi birokrasi tetap harus memastikan seluruh persyaratan dipenuhi sesuai ketentuan.

Di sinilah publik kemudian mempertanyakan satu hal yang sangat wajar, apakah seluruh proses kajian geologi, tata ruang, dan lingkungan benar-benar telah memperhitungkan seluruh risiko kawasan tersebut?

Pertanyaan itu semakin ramai setelah muncul informasi mengenai perbedaan pandangan antara pihak di tingkat provinsi dan proses penyusunan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Sejumlah pihak menyampaikan bahwa aspek sesar aktif dinilai belum memperoleh perhatian yang memadai dalam pembahasan. Perbedaan pandangan antarlembaga sebenarnya bukan hal luar biasa. Justru itulah gunanya proses evaluasi. Yang menjadi persoalan adalah apabila publik tidak memperoleh penjelasan yang terbuka sehingga ruang spekulasi menjadi semakin luas.

Dalam urusan pembangunan, ruang kosong informasi hampir selalu diisi oleh dugaan.

Ada pula persoalan ekologis yang patut menjadi perhatian. Kawasan Gombel selama ini dikenal sebagai salah satu daerah resapan air penting bagi Kota Semarang. Alih fungsi lahan di kawasan perbukitan selalu membawa konsekuensi terhadap kemampuan tanah menyerap air hujan. Ketika ruang hijau menyusut dan permukaan kedap air bertambah, air akan mencari tempat yang lebih rendah. Warga Semarang sudah terlalu akrab dengan banjir untuk memahami ke mana air biasanya berakhir.

Lucunya, setiap musim hujan kita sering menyalahkan langit. Padahal awan hanya menjalankan jadwal. Yang berubah justru halaman rumah kita.

Masih ada satu pertanyaan lain yang layak dijawab secara terbuka, yakni mekanisme pemanfaatan aset milik Pemerintah Kota Semarang apabila memang kawasan tersebut berasal dari aset daerah. Publik berhak mengetahui bentuk kerja sama, dasar hukumnya, nilai ekonominya, serta kesesuaiannya dengan rencana tata ruang yang berlaku. Keterbukaan bukan penghambat investasi. Justru keterbukaan membuat investasi memiliki fondasi kepercayaan yang lebih kuat.

Pada akhirnya, Pakuwon Mall mungkin benar-benar akan menjadi pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia. Orang akan datang untuk berbelanja, menikmati hotel mewah, menghadiri pesta di ballroom megah, atau sekadar mencari pendingin ruangan ketika matahari Semarang sedang semangat-semangatnya.

Namun ukuran sebuah kota tidak pernah ditentukan oleh luas malnya. Kota yang sehat diukur dari keberaniannya bertanya sebelum menggali bukit, dari kesediaannya mendengar ahli ketika data geologi berbicara, serta dari kemampuannya menjelaskan setiap keputusan kepada publik tanpa membuat warga harus menjadi detektif dadakan.

Sebab fondasi paling kokoh bukan beton bertulang. Melainkan kepercayaan. Beton bisa retak. Tanah bisa bergeser. Kepercayaan warga, sekali longsor, biasanya jauh lebih sulit diperbaiki daripada jalan retak di Gombel.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)

Pendirian Minimarket Modern Ditolak Warga, Kades Pidodowetan Kendal Enggan Menandatangani Persetujuan

Debit Air Menyusut Saat Kemarau, Distribusi Air Irigasi dari Bendung Juwero Kendal Diatur Bergiliran