in

Ratu Ubur-Ubur, Plankton, dan Seni Menguras Sumber Daya Bikini Bottom

Gambar ilustrasi AI.

ADA kabar besar dari dasar Samudra Pasifik. Kota Bikini Bottom akhirnya memiliki wali kota yang sudah setahun ini menjabat. Namanya Ratu Ubur-Ubur. Sosok yang selama ini dikenal tenang, anggun, dan gemar melayang di antara arus laut itu mendadak terjun ke dunia politik. Kampanyenya sederhana: kesejahteraan, kemakmuran, dan masa depan cerah bagi seluruh penghuni bawah laut.

Rakyat senang.

SpongeBob tersenyum lebar.

Patrick bertepuk tangan meski belum paham apa yang sedang dirayakan.

Squidward mengeluh, tetapi itu memang pekerjaannya sejak dahulu.

Tuan Krabs menghitung kemungkinan keuntungan ekonomi dari pemerintahan baru.

Semua tampak baik-baik saja.

Sampai kemudian Ratu Ubur-Ubur bertemu Plankton.

Dalam sejarah Bikini Bottom, banyak peristiwa penting pernah terjadi. Ada pencurian resep rahasia Krabby Patty. Ada invasi ubur-ubur liar. Bahkan pernah ada insiden ketika Patrick menganggap batu rumahnya sebagai teknologi masa depan.

Namun tak ada yang mampu menandingi kekompakan antara Ratu Ubur-Ubur dan Plankton.

Mereka bekerja sama dengan semangat yang mengagumkan. Saking akrabnya, sebagian warga mulai curiga rapat penyusunan anggaran dilakukan sambil makan malam sampai dini hari berdua di Chum Bucket.

Konon, sejak pelantikan berlangsung, penyusunan APBD Bikini Bottom menjadi jauh lebih efisien. Efisien dalam arti hampir seluruh proyek penting berhasil menemukan jalan pulang menuju kelompok yang sama, meja makan mereka.

Ada proyek pelebaran Jalan Karang Selatan.

Pemenangnya kroni.

Ada proyek revitalisasi Gang Rumput Laut.

Pemenangnya kroni.

Ada proyek pembangunan Taman Ubur-Ubur Modern Terintegrasi Berbasis Ekosistem Berkelanjutan Berwawasan Masa Depan.

Pemenangnya juga kroni.

Mungkin kroni memang spesies paling kompeten di seluruh samudra.

Lama-kelamaan warga mulai menyadari bahwa setiap kali ada investasi baru masuk, yang bertambah kaya selalu orang-orang yang wajahnya muncul dalam foto yang sama.

Sementara itu, Plankton tampil sebagai tokoh pembangunan.

Ia berpidato hampir setiap hari.

Menurut Plankton, Bikini Bottom harus maju.

Menurut Plankton, investasi harus datang.

Menurut Plankton, pertumbuhan ekonomi wajib meningkat.

Menurut laporan tidak resmi warga, pertumbuhan yang paling pesat justru terjadi pada ukuran rekening para sahabat dekatnya.

Namun demikian, kritik sulit berkembang.

Setiap kali ada yang bertanya, langsung muncul presentasi setebal ensiklopedia tentang visi besar kota. Tuduhan oposisi dan teror langsung dialami oleh warga yang beratanya.

SpongeBob pernah mencoba memahami dokumen investasi tersebut.

Lima menit kemudian ia kembali menggoreng patty karena merasa itu jauh lebih masuk akal.

Patrick bahkan lebih jujur.

“Aku tidak mengerti apa pun, tapi grafiknya bagus,” katanya.

Di sisi lain, Tuan Krabs mulai gelisah.

Sebagai makhluk yang menganggap suara koin jatuh lebih merdu daripada musik klasik, ia paham betul aroma bisnis.

Dan ketika seluruh sumber daya kota mulai berpindah ke kelompok tertentu, hidung ekonominya langsung bergetar. “Sepertinya ada kesalahan nih. Ada bau kecurangan namun tak terlihat,” gumamnya.

Sayangnya, ia hanya bisa mengeluh dari balik meja kasir.

Sebab setiap kali protes muncul, jawabannya selalu sama.

“Demi kemajuan.”

Kalimat sakti itu begitu ampuh hingga mampu mengubah pertanyaan menjadi tepuk tangan.

Masalah berikutnya terletak pada parlemen.

Karen dan Nyonya Puff secara teoritis memiliki tugas mengawasi jalannya pemerintahan.

Mereka seharusnya menjadi rem ketika kekuasaan melaju terlalu kencang.

Yang terjadi justru sebaliknya.

Karen sibuk menghitung target madu laut.

Nyonya Puff sibuk mengejar laporan pengumpulan madu.

Entah sejak kapan parlemen berubah menjadi koperasi perlebahan bawah laut.

Rapat pengawasan makin jarang terdengar.

Rapat produksi madu justru berlangsung hampir setiap hari. Kadang juga dikemas menjadi FGD.

Akibatnya, banyak keputusan penting meluncur mulus tanpa hambatan.

Sementara itu, Sandy Cheeks yang merangkap sheriff kota menunjukkan sikap yang sangat tenang.

Terlalu tenang.

Begitu tenangnya sampai warga mulai bertanya-tanya.

Setiap pagi ada kiriman kacang ke rumah kacanya.

Siang hari ada lagi.

Sore hari datang tambahan.

Malam hari muncul paket susulan.

Kalau ritme itu terus berlangsung, stok kacang Sandy mungkin cukup untuk memberi makan tujuh generasi tupai.

Tentu saja tidak ada yang bisa membuktikan hubungan antara kiriman kacang dan ketenangan sikap sang sheriff.

Sama seperti tidak ada yang bisa membuktikan mengapa hujan selalu membuat laut menjadi basah.

Akhirnya rakyat hanya bisa menonton.

Mereka menyaksikan rapat.

Mereka menyaksikan proyek.

Mereka menyaksikan investasi.

Mereka menyaksikan pidato.

Mereka menyaksikan foto-foto peresmian di media.

Yang tidak pernah mereka saksikan adalah manfaat yang benar-benar turun ke lingkungan tempat mereka tinggal.

Bikini Bottom perlahan berubah menjadi kota yang unik.

Jalanan dipenuhi baliho keberhasilan.

Namun warga tetap bertanya ke mana hasil keberhasilan itu pergi.

Laporan kemajuan beredar di mana-mana.

Tetapi kemajuan tersebut tampaknya memiliki kebiasaan aneh: selalu berhenti di rumah para kroni.

Ironinya, seluruh proses berlangsung dengan sangat rapi.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada kekacauan.

Tidak ada adegan dramatis.

Yang ada justru senyum lebar, pidato optimistis, dan gunting pita yang bekerja lembur.

Di atas kertas, semuanya tampak sempurna.

Di kehidupan sehari-hari, rakyat masih menunggu giliran menikmati hasilnya.

Pada akhirnya, kisah ini bukan soal ubur-ubur, plankton, tupai, spons, atau kepiting.

Ini adalah kisah lama yang berulang di banyak tempat: ketika kekuasaan terlalu nyaman duduk bersama kepentingan, sementara pengawas sibuk mengurus hal lain.

Bikini Bottom tetap berdiri.

Krusty Krab tetap buka.

Patrick tetap kebingungan.

Squidward tetap kesal.

SpongeBob tetap bekerja dengan senyum yang mustahil dipensiunkan.

Sedangkan Ratu Ubur-Ubur dan Plankton terus berkeliling meresmikan proyek baru.

Barangkali itulah keajaiban politik bawah laut.

Semakin banyak sumber daya yang dikuasai segelintir pihak, semakin panjang pula daftar acara syukuran yang bisa digelar.

Dan selama rakyat masih sibuk berfoto di depan spanduk peresmian, mungkin satu-satunya makhluk yang benar-benar makmur adalah kamera dokumentasi pemerintah.

Namun, ini bukan tentang Bikini Bottom.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)

Program Mageri Segoro, Ikhtiar Bersama Menjaga Masa Depan Pesisir Jateng

Tanam Mangrove dan Kerja Bakti Sambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026