in

Semarang Bersolek Sambut Pemudik, tapi Banjir dan Parkir Liar Siap-siap Terlibat

Gambar ilustrasi AI.

LIBUR panjang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 sudah di depan mata, dan Semarang bersiap jadi tuan rumah bagi ribuan pemudik yang haus nostalgia. Kota ini, dengan Lawang Sewu serta Kota Lama yang fotogenik, selalu jadi magnet.

Tapi tahun ini, pemerintah kota punya tugas berat, bikin jalanan aman dari banjir, parkir rapi tanpa drama, dan jalan rusak hilang sebelum pesta kembang api.

Ironisnya, di akhir Desember ini, Semarang masih sibuk rapat-rapat membahas beberapa proyek pekerjaan pembangunan yang masih molor penyelesaiannya, sementara pemudik sudah packing koper. Akankah kota ini jadi surga liburan, atau malah jadi arena uji nyali menghadapi genangan air dan kemacetan?

Mulai dari banjir di Jalur Pantura, terutama Jalan Kaligawe. Akhir Oktober sampai awal November 2025, banjir parah rendam kawasan itu, bikin jalan jadi danau dadakan. Kendaraan kecil susah lewat, air setinggi 20-50 cm, bahkan akses ke Rumah Sakit Sultan Agung Semarang lumpuh. Warga Rusun Kaligawe bilang, biasanya surut dua hari, tapi kali ini lebih lama.

Pemerintah pusat janji tinggikan jalan. Bagus sih, tapi kalau hujan deras datang lebih dulu saat Nataru, pemudik bisa dapat bonus ‘wisata air’ gratis. Apalagi saat ini, intensitas hujan lagi gacor-gacornya, seperti burung murai yang siap ikut lomba.

Selain persoalan banjir, perhatian ke parkir di objek wisata dan pusat oleh-oleh juga perlu lebih serius. Semarang punya spot hits seperti Kota Lama, Sam Poo Kong, Goa Kreo, atau pusat oleh-oleh di Jalan Pandanaran.

Tapi tiap libur, parkir jadi mimpi buruk: mobil numpuk sembarangan, bikin macet parah. Dishub Kota Semarang sudah siapkan titik parkir khusus untuk bus besar dan kendaraan kecil di beberapa kawasan wisata. Disbudpar imbau wisatawan parkir di tempat resmi, hindari parkir liar yang bikin semrawut. Namun apa daya, pemudik biasanya pengen cepat dan dekat untuk memarkir kendaraannya karena ingin memborong oleh-oleh. Kalau jauh parkirnya, nanti repot ngangkutnya.

Pemkot dan Forkopimda sudah rakor, janji wujudkan Nataru aman dengan pantau langsung di destinasi wisata. Semoga saja, jangan sampai pemudik pulang dengan cerita, “Liburannya bagus, tapi parkirnya horor. Jadi maaf, gak sempat beli oleh-oleh.”

Jalan Rusak

Lalu, soal jalan rusak yang bikin perjalanan terasa lebih lamban. Di Jalan Gajah, Ngaliyan, Kedungmundu, dan sekitarnya, lubang-lubang masih setia menunggu. Awal tahun ini, jalan depan TPU Ngaliyan dan Jalan Silayur rawan kecelakaan.

Tambah rumit lagi dengan proyek fisik yang telat selesai. Pembangunan trotoar dan drainase di berbagai titik molor, bikin lalu lintas tambah kacau. Di Semarang, infrastruktur dikebut akhir 2025, tapi beberapa proyek drainase dan trotoar telat, dan banyak kontraktor kena denda harian karena lambat.

Yang jelas di balik rencana megah, realita lapangan sering beda. Pemudik datang penuh semangat, tapi kalau banjir datang duluan, atau parkir susah, liburan bisa jadi cerita lucu buat dibagikan di medsos. Dan liburan di Semarang ini seperti harapan dan keberuntungan. Harapan agar banjir libur, parkir tertib, dan jalanan bersahabat. Keberuntungan jika hujan datang belakangan dan lubang jalan sedang cuti.

Kalau semua berjalan mulus, pemudik pulang bawa lumpia dan senyum. Tapi kalau tidak, setidaknya mereka pulang dengan cerita, liburan ke Semarang, bonus wisata air dan parkir ekstrem. Namanya juga liburan, yang penting berkesan, entah itu bahagia, atau sekadar lucu untuk diceritakan ulang.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)

Jelang Akhir Tahun, Bupati Blora Minta Buat Perhitungan Matang Pastikan Target Tercapai

Dampingi Wamendikdasmen Resmikan Revitalisasi Gedung SMPN 1 Banyudono, Bupati Boyolali Sebut Sekolah Rakyat Dibangun 2026