in

Manggala Agni Berjibaku Melawan Karhutla, Menhut Raja Juli Kawal Pemadaman di Kalsel

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menemui para Mangga Agni, relawan, dan berbagai pihak yang telah ikut berjuang memadamkan Karhutla di Kalimantan Selatan, Senin (12/10/2026) lalu. (Foto : kehutanan.go.id)

 

HALO SEMARANG – Kobaran api, kepulan asap pekat, hingga pusaran angin yang membawa bara, menjadi bagian dari risiko yang dihadapi Manggala Agni dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Di tengah ancaman tersebut, para petugas tetap berjibaku di lapangan demi mencegah api meluas dan melindungi masyarakat serta lingkungan.

Salah satu pengalaman menegangkan itu diceritakan Haris Suyanto, anggota Manggala Agni Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Daerah Operasi (Daops) Sumatera XVII di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Petugas berusia 42 tahun tersebut mengaku pernah terjebak di tengah pusaran angin menyerupai puting beliung yang dipenuhi bara dan asap saat menjalankan tugas pemadaman karhutla.

Peristiwa itu menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan selama hampir 21 tahun Haris mengabdikan diri sebagai bagian dari brigade pengendalian kebakaran hutan dan lahan tersebut.

“Pada saat itu saya sedang bekerja sambil mendokumentasikan kawan-kawan yang melakukan pemadaman. Muncul angin puting beliung sekitar beberapa menit saya terjebak di tengahnya. Puting beliung ada bara, asap semua jadi satu. Tapi karena kita Manggala Agni Kemenhut kan terlatih, alhamdulillah selamat,” ungkap Haris, Rabu (14/10/2026), dikutip dari kehutanan.go.id.

Namun Pengalaman berbahaya itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus mengabdi.

Bagi Haris, menjadi anggota Manggala Agni bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati untuk ikut menjaga hutan dan melindungi masyarakat dari ancaman kebakaran.

Berawal dari Pengalaman Masa Kecil

Keputusan Haris bergabung dengan Manggala Agni, berawal dari pengalaman masa kecil.

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar pada era 1990-an, dia pernah menyaksikan kebakaran hutan di wilayahnya.

Pengalaman tersebut menumbuhkan tekad untuk suatu hari ikut menjadi bagian dari pasukan pemadam kebakaran hutan.

Tekad itu akhirnya mengantarkannya menjalani pengabdian selama hampir dua dekade.

Sepanjang perjalanan tersebut, Haris memahami bahwa keberhasilan pemadaman tidak hanya ditentukan oleh keberanian individu, tetapi juga kekompakan dan kerja sama seluruh anggota regu.

Menurutnya, setiap operasi membutuhkan persiapan dan koordinasi yang matang. Mulai dari menyiapkan peralatan, mengoperasikan mesin pompa, mengatur selang dan nozzle, hingga melakukan pengarahan sebelum petugas diterjunkan ke lapangan.

“Karena kita kerjanya satu tim, kita harus kompak. Ketika mau bekerja itu proses panjang kita lewati sama-sama. Ada yang mengeluarkan nozzle, ada yang menyalakan mesin, ada briefing, ada kekompakan,” kata Haris.

Beratnya pengabdian itu semakin terasa ketika karhutla melanda wilayah Sumatera Selatan pada 2023, saat fenomena El Nino turut memperparah kondisi kekeringan.

Haris menceritakan, dirinya bersama rekan-rekan harus menjalani penugasan panjang di lapangan hingga berbulan-bulan. Waktu untuk pulang dan beristirahat sangat terbatas karena petugas harus kembali ke lokasi kebakaran untuk melanjutkan pemadaman.

“Ada kebakaran hutan yang sangat besar karena dampak El Nino juga. Kita bertenda hampir tiga bulan. Berangkat 26 hari, pulang istirahat tiga hari, berangkat lagi 23 hari,” tuturnya.

Di tengah beratnya tugas, dukungan keluarga menjadi salah satu sumber kekuatan bagi Haris. Ia juga mengapresiasi solidaritas rekan kerja yang membuat para petugas tetap bersemangat menjalankan tugas.

“Yang pertama faktor keluarga, lingkungan kerja mendukung, teman-teman sangat support dan kita habiskan waktu sama-sama di lapangan dengan penuh semangat,” ujarnya.

Pengabdian Manggala Agni, lanjut Haris, tidak berhenti ketika musim kemarau berakhir atau saat tidak terjadi kebakaran. Para petugas tetap menjalankan patroli mandiri maupun bersama, memberikan edukasi kepada masyarakat, serta berkoordinasi dengan Bhabinkamtibmas untuk mencegah kebakaran sejak dini.

Atas pengabdiannya, Haris juga pernah meraih penghargaan sebagai ASN Teladan Wanalestari terbaik kedua pada tahun sebelumnya.

Dikawal Menhut

Di tengah perjuangan petugas di lapangan, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni turut memantau langsung upaya pengendalian karhutla. Pada Senin (12/10/2026), ia meninjau penanganan kebakaran di Hutan Lindung Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, bersama Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin dan unsur terkait.

Dalam kunjungan tersebut, Raja Juli memastikan operasi pengendalian karhutla terus berjalan maksimal. Ia juga mengapresiasi perkembangan titik panas atau hotspot di Kalimantan Selatan yang menunjukkan kondisi relatif lebih terkendali.

Meski demikian, dia mengingatkan seluruh pihak agar tidak lengah. Berdasarkan informasi BMKG yang disampaikan dalam kunjungan tersebut, hujan alami di Kalimantan Selatan diperkirakan baru turun lebih konsisten sekitar pertengahan November.

Karena itu, kesiapsiagaan pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, dan seluruh unsur terkait harus tetap dijaga.

Raja Juli menekankan empat aspek penting dalam pengendalian karhutla, yakni penguatan operasi udara, operasi darat, pelibatan masyarakat dalam pencegahan pembakaran lahan, serta penegakan hukum terhadap pelanggaran yang menyebabkan kebakaran.

Di Hutan Lindung Liang Anggang, upaya pemadaman dilakukan melalui kombinasi operasi darat dan udara. Manggala Agni bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, dan relawan terus melakukan pemadaman serta patroli. Pembasahan lahan melalui kanal juga dilakukan untuk mempertahankan kelembapan dan mencegah bara api kembali menyala.

Penanganan tersebut membutuhkan konsistensi hingga petugas memastikan kondisi benar-benar aman.

Hal ini terutama penting di kawasan gambut, karena bara api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan tanah meskipun api di permukaan sudah tidak terlihat.

Pendekatan serupa terus diperkuat di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah, dengan menyesuaikan perkembangan titik panas dan kondisi lapangan. Pembasahan serta pendinginan lahan gambut dilakukan untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.

Keselamatan Masyarakat

Selain memadamkan api, pemerintah juga terus memantau kualitas udara berdasarkan konsentrasi partikulat halus PM2,5 untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Pantauan yang disampaikan dalam informasi penanganan karhutla tersebut menunjukkan bahwa sebagian wilayah Indonesia berada dalam kategori kualitas udara baik hingga sedang.

Namun, sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan masih mengalami kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan terdapat lokasi dengan kategori berbahaya.

Kualitas udara dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, kondisi atmosfer, serta arah dan kecepatan angin. Masyarakat di wilayah terdampak diimbau terus mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah.

Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. Anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta warga dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis perlu mendapatkan perhatian khusus.

Perlindungan terhadap satwa liar yang terdampak kebakaran maupun gangguan habitat juga menjadi bagian dari upaya Kementerian Kehutanan. Masyarakat yang menemukan satwa liar terluka, terjebak, terdampak kebakaran, atau masuk ke kawasan permukiman diminta tidak melakukan penanganan maupun evakuasi secara mandiri.

Masyarakat diimbau menjaga jarak, mencatat lokasi dan kondisi satwa jika memungkinkan, serta segera melaporkannya kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) atau petugas kehutanan terdekat.

Kementerian Kehutanan kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

Apabila menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, atau satwa liar yang membutuhkan pertolongan, masyarakat diminta segera melapor kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Bagi Haris dan rekan-rekannya, setiap operasi pemadaman merupakan perjuangan yang menuntut keberanian, ketahanan, dan kekompakan. Pengalaman menghadapi pusaran angin bercampur bara api menjadi pengingat bahwa risiko di lapangan tidak pernah kecil.

Namun, selama ancaman karhutla masih ada, Manggala Agni tetap berada di garis depan. Bersama seluruh unsur terkait, mereka terus berupaya memadamkan api, menjaga hutan, dan melindungi masyarakat dari dampak kebakaran. (HS-08)

 

 

Karhutla Tak Kunjung Padam, Legislator di DPR Ramai-Ramai Bersuara