DI pengadilan Tipikor Jakarta, suasana sidang lagi serius-seriusnya. Jaksa penuntut umum membacakan dakwaan panjang lebar untuk Sri Wahyuningsih, mantan direktur di Direktorat PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek.
Kasusnya soal dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di masa Menteri Nadiem Makarim, proyek digitalisasi pendidikan yang katanya mau bikin siswa melek teknologi, tapi malah bikin negara rugi triliunan.
Nadiem sendiri kini jadi tersangka, didakwa menerima manfaat ratusan miliar. Tiba-tiba, di tengah bacaan itu, muncul nama Agustina Wilujeng Pramestuti. Jaksa bilang namanya terlibat dalam pembicaraan, titipan, atau tergantung versi dakwaan yang lagi dibaca.
Sementara itu, ratusan kilometer di timur Jakarta, di Balai Kota Semarang, Rabu (17/12/2025) pagi itu lagi ramai. Agustina Wilujeng, yang sejak Februari 2025 resmi jadi Wali Kota Semarang bersama wakilnya Iswar Aminuddin, sedang menghadiri sebuah acara memperingati Peringatan HUT RSUD KRMT Wongsonegoro dan Peresmian Daycare. Semua berjalan mulus, kota lagi asyik-asyiknya karena pagi yang cerah.
Eh, tiba-tiba beberapa wartawan datang ke rumah sakit tersebut, bukan untuk meliput acara HUT, tapi menjalankan tugas redaksi untuk konfirmasi tentang berita dari Jakarta yang sudah menyebar: nama Bu Wali masuk daftar dakwaan Chromebook.
Politik Indonesia memang lucu. Proyek laptop dari era 2020-an, yang seharusnya sudah uzur dan diganti model baru, malah masih saja muncul notifikasi di layar pemerintahan sekarang.
Chromebook itu seperti aplikasi lama yang susah di-uninstall: meski sudah tidak dipakai, tetap makan memori dan bikin sistem lemot.
Agustina Wilujeng dulu pernah di lingkaran pemerintah pusat, jadi anggota DPR RI dari PDIP, dekat dengan kebijakan pendidikan nasional.
Kini, setelah menang pilkada bareng Iswar Aminuddin, dia pindah ke daerah, urus Semarang yang lagi giat-giatnya jadi kota kreatif. Tapi persoalan masa lalu di pusat ternyata ikutan pindah domisili, tanpa izin pula.
Kasus ini sendiri sudah lama bergulir. Kejaksaan Agung menetapkan Nadiem tersangka sejak awal 2025, sidang perdana baru Desember ini. Sri Wahyuningsih jadi salah satu terdakwa, dan dakwaannya membongkar daftar panjang penerima manfaat, ada 25 entitas, termasuk nama Agustina yang disebut cawe-cawe dan membawa rekanan sekaligus temannya lewat pembicaraan soal proyek.
Belum ada status tersangka untuk Bu Wali, hanya “disebut” saja. Tapi di dunia politik, “disebut” itu sudah cukup bikin headline media dan meme bertebaran.
Apakah ini langsung goyang kursi di Semarang? Belum tentu. Agustina dan Iswar lagi “solid-solidnya” (kelihatannya begitu sih) menjalankan program, dari stabilkan harga pokok sampai dorong kreativitas warga.
Tapi, ya, pasti ada riaknya dari turbelensi atau goncangan politik di tingkat pusat tersebut. Oposisi lokal pasti senyum lebar, cari celah buat bisik-bisik di warung kopi: “Lho, kok nama Bu Wali muncul di sana ya?”
Ironisnya, proyek Chromebook itu dulu katanya untuk digitalisasi pendidikan, biar anak-anak tidak ketinggalan zaman.
Eh, sekarang malah digitalisasi masa lalu yang jadi masalah: dakwaan dibaca, berita viral, komentar netizen langsung banjir.
Di Semarang, yang lagi sibuk persiapan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 dengan lampu-lampu cantik dan pasar rakyat, tiba-tiba ada bayangan laptop jadul nongol di latar belakang.
Seolah-olah ribuan unit Chromebook korup itu parkir diam-diam di gudang balai kota, menunggu diaudit ulang.
Tentu saja, ini cuma riak kecil di permukaan. Agustina Wilujeng sudah angkat bicara, bilang namanya disebut tapi dia siap jelaskan jika dipanggil karena merasa tidak menerima apapun.
Yang jelas, politik lokal punya ritme sendiri, warga Semarang lebih peduli banjir surut atau tidak, harga bawang naik atau tidak, daripada drama sidang di Jakarta.
Tapi tetap saja, persoalan masa lalu seperti teman lama yang tiba-tiba pinjam uang: datangnya tidak diundang, perginya lama, dan bawa cerita kesedihan.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)