PAGI di Pegunungan Muria masih basah oleh embun ketika sebuah cahaya kecil menyala—bukan dari mata macan tutul Jawa, melainkan dari kamera jebakan yang sudah berhari-hari menunggu di kesunyian. Dalam diam hutan yang lembap, seekor kucing besar muncul pelan, tubuhnya berwarna kuning dengan totol-totol hitam yang kontras dengan belukar. Ia menoleh sebentar, seolah menyadari ia sedang dipantau, sebelum menghilang lagi ke balik rerimbun.
Rekaman seperti itulah yang membuat para peneliti dan pegiat lingkungan hampir tak percaya. Sebanyak 600 kamera jebakan yang dipasang oleh tim gabungan Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), dan para relawan berhasil mengungkap kehidupan liar 14 individu macan tutul Jawa (Panthera pardus melas), subspesies kucing besar terakhir di Pulau Jawa yang selama ini lebih sering hanya terdengar dari cerita warga.
Macan tutul Jawa, endemik tiga provinsi, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, adalah predator puncak yang kini semakin terdesak habitatnya. Di Muria, mereka bertahan hidup dengan memangsa kucing hutan, babi, dan satwa kecil lainnya. Sebelumnya kehadiran mereka di kawasan ini hanya berupa desas-desus, jejak samar, atau cerita pemburu yang melintas. Namun kali ini bukti visual berbicara lebih lantang daripada spekulasi.
“Ini adalah upaya menjaga keberlanjutan ekosistem agar biodiversitas yang hampir punah tidak benar-benar hilang dari bumi,” tutur Director Communications BLDF, Mutiara Diah Asmara, dalam Lokakarya Jurnalistik bertema Strategi Komunikasi untuk Mendorong Aksi Lingkungan Berkelanjutan yang digelar daring, Kamis (20/11/2025).
“Sangat mungkin generasi mendatang tak lagi pernah melihat macan tutul Jawa atau elang Jawa jika kita abai,” tambahnya.
Muria bukan hutan belantara yang tak tersentuh. Ia adalah ruang hidup yang terus mengalami tekanan. Berdasarkan citra satelit yang diolah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada 2024 hanya 7.287 hektare hutan asli yang masih tersisa.
Sementara itu, masyarakat di lereng Muria mulai didorong membatasi penanaman kopi yang terus meluas. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan zonasi pengelolaan, mana yang boleh dimanfaatkan warga, mana yang disiapkan menjadi kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) khusus konservasi.
Harapannya jelas, tutupan hutan tidak hanya menjadi benteng erosi dan penyimpan air, tetapi juga rumah yang layak bagi satwa liar, termasuk sang macan tutul.
Bagi BLDF, konservasi tidak berhenti pada pemasangan kamera. Sejak 2020, mereka menanam 149.000 pucuk pohon di sabuk Pegunungan Muria yang membentang di tiga kabupaten, Kudus, Pati, dan Jepara.
Jenis trembesi dipilih bukan hanya karena rindangnya, tetapi karena kemampuannya menyerap hingga 28,5 ton karbon per tahun, angka yang setara dengan perjalanan mobil bensin sejauh lebih dari 11 ribu kilometer.
“Panas bumi yang makin terasa, punahnya satwa, hingga bencana di kota adalah bukti perubahan lingkungan yang nyata. Keberlanjutan bukan sekadar teknis, tapi ruang berkreasi untuk menghijaukan bumi,” ujar Mutiara.
Tangan Manusia
Perhutanan Sosial juga menjadi andalan pemerintah: memberi hak kelola kepada masyarakat di sekitar hutan untuk menjaga sekaligus memanfaatkan secara lestari. Hutan yang sehat adalah mesin air alami, menangkap hujan, meresapkan ke tanah, lalu melepasnya perlahan ke hilir.
Namun kerusakan sering datang dari tangan manusia.
“Pengeprasan bukit, pertambangan, hingga pembangunan jalan yang tidak distabilkan membuat erosi parah dan banjir makin menjadi,” kata Edi Purwanto, Aktivis Lingkungan sekaligus Ketua Tropenbos Indonesia.
Pertumbuhan penduduk dan alih fungsi hutan untuk perkebunan sawit menambah daftar tantangan.
Kepala PSKL Wilayah Jawa, Danang Kuncara Sakti, menegaskan bahwa pengelolaan hutan menjadi kunci untuk menuju ekonomi hijau dan menjaga keberagaman hayati.
“Kita kini berada dalam krisis global akibat perubahan iklim: polusi meningkat, gas rumah kaca naik, dan kepunahan biodiversitas makin cepat,” ujarnya.
Di tengah ancaman itu, kemunculan belasan macan tutul Jawa di Muria bagaikan kabar baik yang lama dinanti. Bukti bahwa ekosistem belum sepenuhnya runtuh. Bahwa hutan masih menyimpan kehidupan yang mencoba bertahan.
Dengan pengelolaan yang terintegrasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan lembaga lingkungan, Muria bisa kembali menjadi lanskap harmonis, tempat manusia sejahtera tanpa mengusir satwa liar dari rumahnya.
Dan mungkin, bertahun-tahun dari sekarang, cahaya kecil kamera jebakan itu masih akan menyala, merekam generasi baru macan tutul Jawa yang tumbuh di hutan yang tetap hijau.(HS)


