ARUS informasi yang mengalir deras melalui media sosial kini menjadi konsumsi harian masyarakat. Berbagai konten viral yang diproduksi influencer dan kreator digital kerap menjadi rujukan publik karena dianggap lebih mudah dipahami, menarik, dan mampu menggugah emosi audiens.
Namun di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan baru. Di era ketika hampir setiap orang bisa menjadi kreator konten, informasi yang disebarkan tidak selalu dipahami sesuai konteksnya. Bahkan, tak jarang justru memicu kesalahpahaman dan kegaduhan di ruang digital.
Fenomena itu menjadi perhatian Gary Collins Brata Winardy, M.Psi., Psikolog, akademisi sekaligus pakar Psikologi Digital dari Binus University Semarang. Menurutnya, perkembangan media digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, belajar, dan berinteraksi.
Salah satu persoalan yang ia soroti adalah semakin terkikisnya etika kreator media sosial di tengah persaingan memperebutkan perhatian publik melalui clickbait, banjir informasi (information overload), hingga maraknya fenomena influencer dan buzzer.
Sebagai dosen dan Subject Content Coordinator Psikologi Digital, Gary menilai kreator memiliki tanggung jawab sosial yang besar terhadap dampak informasi yang mereka sebarkan.
“Clickbait itu tidak selalu salah. Yang menjadi masalah adalah ketika setelah membuat konten, kreator kemudian lepas tangan. Mengedukasi bukan hanya memberi informasi, tetapi juga memastikan informasi tersebut dipahami dengan benar,” ujarnya, Selasa (9/6/2026).
Menurut Gary, banyak kreator saat ini berlomba-lomba mengejar jumlah tayangan dan interaksi dengan menggunakan judul sensasional, visual yang dramatis, atau narasi yang memancing emosi.
“Manusia memang secara alami tertarik pada hal baru dan sesuatu yang mengandung muatan emosional. Kalimat seperti ‘Kebijakan ini berbahaya!’ tentu lebih menarik perhatian dibandingkan penjelasan yang lebih netral,” katanya.
Masalahnya, lanjut Gary, setelah memperoleh perhatian publik, banyak kreator tidak lagi memberikan konteks atau klarifikasi yang memadai sehingga tujuan edukasi menjadi kabur.
“Padahal idealnya ada penjelasan lanjutan agar audiens memahami informasi secara utuh. Jangan hanya berhenti pada mengejar view dan like,” tegasnya.
Gary juga menyoroti dampak banjir informasi yang kini membanjiri ruang digital. Menurutnya, pola konsumsi informasi masyarakat telah berubah drastis dibanding era media konvensional.
Jika dahulu masyarakat memperoleh informasi dari koran yang terbit sekali sehari atau siaran televisi pada waktu tertentu, kini informasi hadir tanpa jeda selama 24 jam.
Akibatnya, masyarakat menjadi lebih sadar terhadap berbagai isu global, tetapi pada saat yang sama berpotensi mengabaikan persoalan di lingkungan terdekat.
“Dengan media sosial, kita menjadi sangat aware terhadap isu di luar sana. Namun terkadang kita justru menganggap persoalan di sekitar kita tidak penting. Padahal manusia memiliki kapasitas energi emosional yang terbatas,” jelasnya.
Ia mencontohkan, seseorang bisa menghabiskan energi emosional untuk terus mengikuti konflik atau tragedi di negara lain, tetapi kehilangan kepedulian terhadap persoalan yang terjadi di lingkungan sekitarnya.
“Peduli isu global tentu baik, tetapi jika hanya membuat kita overthinking tanpa bisa berbuat apa-apa, itu juga tidak sehat,” katanya.
Dalam pandangannya, setiap kreator pasti memiliki tujuan tertentu ketika membuat konten, baik untuk membangun personal branding, mengembangkan bisnis, mengedukasi, maupun kepentingan lainnya.
Karena itu, transparansi menjadi hal penting agar audiens tidak merasa dimanipulasi atau mencurigai adanya agenda tersembunyi.
Menurut Gary, stigma buzzer sering muncul ketika publik merasa kreator tidak terbuka mengenai tujuan dan kepentingannya.
“Kuncinya adalah transparan sejak awal. Kalau motivasinya jelas, audiens bisa menilai sendiri. Tetapi kalau tujuan sebenarnya ditutupi, wajar kalau kemudian muncul tuduhan sebagai buzzer,” ujarnya.
Fenomena konten berdurasi singkat di platform seperti TikTok dan Instagram Reels juga menjadi perhatian khusus. Gary menilai format video satu hingga dua menit memang efektif menarik perhatian, tetapi memiliki keterbatasan dalam menyampaikan informasi secara utuh.
Menurutnya, konten pendek cenderung mendorong audiens bereaksi cepat tanpa memberi ruang yang cukup untuk berpikir kritis atau memahami persoalan secara mendalam.
“Konten satu atau dua menit sangat terbatas untuk membahas isu yang kompleks. Ruang untuk elaborasi hampir tidak ada sehingga respons yang muncul sering kali hanya berupa reaksi spontan atau perdebatan,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa kebutuhan manusia bukan sekadar mengikuti tren atau mengetahui informasi yang sedang viral, melainkan memahami berbagai hal yang dapat membantu mengelola pikiran, harapan, dan emosi secara sehat.
Karena itu, Gary mendorong para kreator untuk lebih bertanggung jawab dalam memproduksi konten digital. Salah satunya dengan menyertakan sumber rujukan atau tautan informasi lanjutan agar audiens dapat mempelajari topik secara lebih mendalam.
Selain itu, ia juga menyarankan kreator memberikan disclaimer bahwa konten singkat tidak selalu mampu menjelaskan seluruh sudut pandang sebuah persoalan.
“Ingat, influencer berasal dari kata influence. Tujuannya bukan sekadar memperkaya diri sendiri, tetapi memberi dampak positif bagi orang lain. Semua aktor sosial memiliki tanggung jawab terhadap pengaruh yang mereka ciptakan. Jika setelah melihat konten kita orang menjadi semakin pesimis atau bingung, berarti ada hal yang perlu dievaluasi,” pungkasnya.(HS)


