HALO MAGELANG – Kementerian Agama RI mengajak umat Buddha untuk terus menjaga semangat adaptif, optimis, dan inklusif di tengah dinamika perubahan zaman.
Pesan ini disampaikan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi, saat membacakan sambutan Menteri Agama Nasaruddin Umar, di hadapan ribuan umat Buddha yang memperingati Hari Raya Āsāḷha Mahāpūjā 2570 BE/2026, di pelataran megah Candi Borobudur, baru-baru ini.
Supriyadi menegaskan bahwa nilai-nilai kebijaksanaan Asadha, harus menjadi pegangan umat agar tidak kehilangan arah serta tetap saling mengayomi saat menghadapi berbagai tantangan bangsa.
“Pesan kebijaksanaan Asadha mengingatkan seluruh umat Buddha agar senantiasa adaptif dan tidak kehilangan harapan saat menghadapi masa-masa penuh tantangan. Kepemimpinan umat yang inklusif, partisipatif, dan saling mengayomi hanya bisa lahir dari pikiran yang jernih dan kepekaan sosial yang tinggi,” ujar Menag, seperti dirilis kemenag.go.id.
Dia juga mengemukakan, tahun 2026 ini membawa ujian ketangguhannya tersendiri. Di tengah dinamika makroekonomi global yang terasa hingga ke denyut nadi perekonomian masyarakat, umat diharapkan mampu melakukan penyesuaian, hidup lebih efisien, dan tetap menjaga semangat saling berbagi.
Selain memperkuat solidaritas sosial, Menag meminta umat Buddha menerjemahkan ajaran cinta kasih (metta) menjadi aksi nyata pelestarian lingkungan dan penanganan krisis iklim.
“Lebih dari itu, saya sangat mengapresiasi nilai cinta kasih yang menjadi fondasi ajaran Buddha,” kata dia.
Di era saat ini, wujud pelaksanaan sila itu harus diterjemahkan ke dalam aksi-aksi yang lebih luas, terutama terkait etika ekologis dan pelestarian warisan peradaban.
“Mengasihi sesama makhluk berarti harus tampil di garda terdepan, dalam aksi nyata menjaga iklim, memelihara daya dukung lingkungan, serta merawat harmoni agama dengan pelestarian warisan budaya yang hidup di bumi Nusantara. Agama harus bermakna bagi pelestarian bumi,” paparnya.
Peringatan Hari Raya Asadha, memiliki makna historis dan spiritual yang mendalam sebagai tonggak awal pembabaran ajaran Buddha.
Bagi umat Buddha, Asaadha menggemakan kembali sebuah peristiwa suci di Taman Rusa Isipatana.
“Sebagai Menteri Agama, saya memahami bahwa inilah momentum luhur ketika Buddha Gotama pertama kalinya memaparkan kebenaran kepada lima pertapa. Inilah titik mula berputarnya roda Dhamma yang menjadi lentera penerang bagi peradaban sekaligus tonggak berdirinya komunitas spiritual yang kemudian disebut Sangha yang pertama,” sebutnya.
Bhikkhu Sri Subhapanno Mahathera menyampaikan bahwa rangkaian Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) yang digelar sejak 2015 kini telah berkembang menjadi tradisi spiritual tahunan yang kokoh bagi umat Buddha Indonesia.
“ITC pertama kita laksanakan tahun 2015. Hingga tahun 2026, kegiatan ITC terus kita evaluasi dan kita lestarikan menjadi agenda tahunan umat Buddha Indonesia,” ujarnya.
Bhante Subhapanno menambahkan, pelafalan paritta dan sutta selama tiga hari di Candi Borobudur merupakan momentum belajar langsung dari warisan Tipitaka untuk menghadirkan kedamaian bagi alam semesta.
“Hari ini kita tidak hanya berpuja di sini, tapi kita belajar langsung dari guru sunyi kita. Semoga lantunan sutta yang dipetik dari kitab suci Tipitaka selama tiga hari ini benar-benar menggetarkan alam manusia dan alam dewata,” tutur Bhante.
Jalani Kirab
Sementara itu dalam rangkaian peringatan Āsāḷha Mahāpūjā 2570 BE Tahun 2026, ribuan umat Buddha mengikuti kirab dari Candi Mendut, menuju Candi Borobudur.
Prosesi yang dimulai pada sekitar pukul 14.00 WIB tersebut diikuti umat Buddha dari berbagai wilayah di Indonesia serta sejumlah peserta dari luar negeri yang tumpah ruah memadati jalur kirab sepanjang kurang lebih tiga kilometer.
Dalam kirab tersebut, ada empat kereta yang masing-masing membawa Tugu Asoka, Kitab Suci Tipitaka, Roda Dhamma atau Dhammacakka, serta Saririka Dhatu atau Mahadhatu berupa relik Guru Agung Buddha.
Rangkaian kereta itu diiringi para bhikkhu, samanera, atthasilani, pandita, peserta Indonesia Tipitaka Chanting (ITC), serta umat Buddha.
Kehadiran empat kereta menjadi simbol penghormatan terhadap ajaran, peninggalan suci, dan nilai-nilai luhur Buddha yang terus dijaga serta diwariskan kepada generasi penerus. Prosesi berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat kebersamaan.
Bhikkhu Subhapanno Mahāthera menyampaikan bahwa prosesi kirab merupakan bentuk penghormatan untuk meluhurkan Guru Agung Buddha sekaligus mengingatkan umat tentang inti ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, perjalanan dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan fisik, tetapi juga sebagai perjalanan batin untuk membersihkan hati dan pikiran.
“Puja kirab merupakan salah satu bentuk praktik yang dilakukan umat dengan suasana hati yang sejuk dan nyaman. Dalam prosesi tersebut, umat mengarahkan pikirannya pada nilai-nilai luhur, yaitu dengan merenungkan keutamaan Sang Buddha, cinta kasih, welas asih, kesucian, serta kebijaksanaan Sang Buddha. Terdapat sembilan sifat luhur Sang Buddha yang hendaknya direnungkan,” ujar Bhante Subhapanno Mahāthera, Minggu (26/7/2026).
Kesan senada juga dirasakan para peserta kirab umat Buddha asal Bekasi, Yayang Riyadi yang mengatakan bahwa prosesi Āsāḷha Mahāpūjā tahun ini menjadi pengalaman spiritual yang mendalam.
Ia mengungkapkan bahwa sebelum kirab dimulai, para peserta diingatkan agar mengikuti seluruh rangkaian dengan penuh kesungguhan karena perjalanan tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada Buddha.
“Bhante menyampaikan ketika nanti prosesi Asadha ini coba lakukanlah dengan baik. Ini bukan perjalanan biasa, ini adalah perjalanan puja. Kita mengiringi relik Buddha menuju dari Candi Borobudur. Diharapkan kegiatan ini menumbuhkan keyakinan dan tumbuh menjadi umat Buddha yang lebih baik lagi. Ketika prosesi ini lakukanlah dengan tepun, dengan kusuk. Jangan banyak juga main-main di jalanan. Ini bukan perjalanan biasa, ini adalah perjalanan puja yang baik,” tutur Yayang.
Sementara itu, Oki Reni, warga Borobudur, merasa senang dan terhibur atas pelaksanaan kirab yang dilaksanakan oleh umat Buddha. Ia juga mengungkapkan kebanggaannya terhadap keberagaman.
“Hal ini menjunjukkan kebaragaman umat beragama di Indonesia, dan kami sangat menghargai dan terhibur. Semoga acara ini bisa terus berlangsung setiap tahunnya,” ujar Oki. (HS-08)


