DEBUR ombak yang tenang berpadu dengan semilir angin laut menyambut setiap pengunjung yang datang ke Pantai Tirang, di Kelurahan Tambakharjo, Kecamatan Semarang Barat. Meski bukan akhir pekan, suasana pantai tetap hidup. Sejak pagi, wisatawan sudah mulai menikmati hamparan pasir, duduk santai di gazebo, bermain air di bibir pantai, hingga memancing di tepian laut.
Pemandangan tersebut menjadi gambaran bahwa wisata pantai di Kota Semarang masih memiliki daya tarik yang kuat. Namun, di balik pesonanya, Pantai Tirang masih menyimpan pekerjaan rumah besar, yakni persoalan akses jalan dan infrastruktur pendukung yang hingga kini belum sepenuhnya tertangani.
Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus masuk melalui gerbang utama Perumahan Graha Padma, kemudian melintasi jalan sempit yang kondisinya masih kurang memadai. Saat air laut pasang atau musim hujan, akses tersebut kerap tergenang banjir rob sehingga menyulitkan kendaraan yang melintas.
Sesampainya di lokasi, pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp5.000 pada hari Senin hingga Kamis, sedangkan pada Jumat, Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional tarifnya menjadi Rp10.000. Pengunjung yang ingin bersantai di gazebo cukup membayar Rp10.000 tanpa batas waktu penggunaan. Pantai dibuka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.
Petugas keamanan Pantai Tirang, Rizal (35), mengatakan kawasan wisata tersebut mengalami banyak perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Area yang sebelumnya dipenuhi semak belukar kini telah diratakan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai ruang terbuka dan lokasi pembangunan gazebo.
“Dulu kawasan ini masih dipenuhi alang-alang. Sekarang sudah lebih luas dan tertata sehingga pengunjung lebih nyaman,” ujarnya.
Suasana pantai pun terasa lebih teduh berkat tumbuhnya pohon ketapang dan cemara laut yang ditanam di sepanjang garis pantai.
Menurut Rizal, baru-baru ini Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang menanam sekitar 150 pohon cemara laut serta mangrove sebagai bagian dari upaya penghijauan kawasan pesisir.
“Harapannya, pantai menjadi semakin teduh sehingga pengunjung tetap nyaman meski datang pada siang hari,” katanya.
Salah seorang pengunjung, Juanda (16), mengaku menyukai suasana Pantai Tirang yang dinilai bersih dan alami. Namun, ia berharap akses menuju lokasi segera diperbaiki.
“Kalau rob datang, jalan masuk ikut tergenang sehingga cukup sulit dilalui. Kalau jalannya bagus tentu wisatawan akan lebih mudah datang ke sini,” ujarnya.
Menurutnya, kebersihan pantai sudah cukup baik karena tempat sampah tersedia di berbagai titik. Meski demikian, ia berharap pengelola menambah fasilitas seperti toilet, tempat ibadah, wahana permainan, hingga atraksi wisata agar pengunjung memiliki lebih banyak pilihan aktivitas.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tambakharjo sekaligus pengelola Pantai Tirang, Deo Hermansyah, mengakui persoalan terbesar dalam pengembangan kawasan wisata tersebut adalah kondisi jalan menuju pantai.
Menurutnya, setiap musim hujan jalan berubah menjadi becek dan licin sehingga banyak pengunjung memilih membatalkan kunjungan.
“Kami masih menunggu dukungan pemerintah karena akses jalan menjadi kendala utama. Saat hujan turun, wisatawan sering kesulitan bahkan ada yang terjatuh,” katanya.
Ia menjelaskan, jalan tersebut merupakan aset Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) sehingga proses penanganannya memerlukan koordinasi lintas instansi.
Selain perbaikan jalan, pengelola juga berharap adanya dukungan penyediaan jaringan listrik permanen. Hingga kini penerangan kawasan wisata masih mengandalkan lampu darurat sehingga aktivitas wisata malam belum dapat dikembangkan secara optimal.
“Kami yakin kalau akses jalan bagus dan penerangan memadai, Pantai Tirang bisa menjadi salah satu ikon wisata alam Kota Semarang,” ujarnya.
Deo bahkan mengaku belum memasang papan penunjuk arah menuju Pantai Tirang karena khawatir pengunjung justru kecewa dengan kondisi jalan yang belum layak.
Menurutnya, apabila akses jalan berhasil diperbaiki, jumlah wisatawan diperkirakan akan kembali meningkat signifikan.
“Dulu pada hari biasa bisa sekitar 200 pengunjung. Sekarang turun menjadi sekitar 50 orang. Saat akhir pekan dulu hampir 1.000 orang, sekarang turun sekitar 40 persen,” ungkapnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, mengatakan wisata pantai merupakan salah satu potensi unggulan yang terus dikembangkan pemerintah.
Selain Pantai Tirang, Kota Semarang juga memiliki wisata mangrove di Pantai Tapak serta wisata olahraga air di Pantai Marina.
“Potensinya sangat besar, tetapi memang tantangannya juga tidak sedikit. Karena itu diperlukan kolaborasi semua pihak agar pengelolaan kawasan pantai semakin optimal,” katanya.
Menurut Indriyasari, pengembangan kawasan wisata tidak hanya menyangkut destinasi, tetapi juga aksesibilitas, infrastruktur, pengelolaan sampah, hingga pemberdayaan UMKM di sekitar lokasi.
Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang menunjukkan, Pantai Tirang mencatat 70.674 kunjungan sepanjang 2025, sedangkan pada periode Januari-Mei 2026 telah menerima 24.451 pengunjung.
Sementara itu, Pantai Marina masih menjadi destinasi favorit dengan 847.088 kunjungan sepanjang 2025. Pada Januari-Mei 2026 jumlah kunjungannya telah mencapai 340.723 wisatawan, atau rata-rata sekitar 68 ribu pengunjung setiap bulan.
Adapun wisata mangrove Pantai Tapak Mangunharjo menerima 656 wisatawan domestik dan 22 wisatawan mancanegara sepanjang 2025. Pada Januari-Mei 2026 jumlahnya mencapai 350 wisatawan domestik dan 40 wisatawan mancanegara.
Dengan panorama laut yang semakin asri, kawasan pantai yang terus ditata, serta tingginya minat masyarakat untuk berwisata, Pantai Tirang memiliki peluang besar menjadi destinasi unggulan baru di Kota Semarang. Namun, potensi tersebut hanya akan berkembang maksimal apabila dibarengi dengan perbaikan akses jalan, penyediaan infrastruktur dasar, dan penguatan kolaborasi antara pemerintah, pengelola, serta masyarakat sekitar.(HS)


