DI balik tembok tinggi dan pintu besi lembaga pemasyarakatan, ada persoalan yang jarang terlihat publik. Bukan hanya tentang hukuman atau pembinaan, tetapi juga tentang udara yang dihirup setiap hari, ruang hidup yang semakin sesak, dan ancaman penyakit yang menyebar tanpa banyak disadari.
Realitas itulah yang diangkat Hardiat Dani Satria, M.Kes., alumni Magister Promosi Kesehatan (MPK) Universitas Diponegoro (UNDIP), melalui buku terbarunya berjudul “Bertaruh Napas di Sel Padat: Kisah Nyata Wabah Senyap di Lembaga Pemasyarakatan.”
Lewat buku tersebut, Hardiat mengajak pembaca menengok sisi lain kehidupan di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas), ketika persoalan kesehatan tidak lagi sekadar urusan medis, melainkan bersinggungan dengan kebijakan publik, sistem peradilan, hingga penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Berbekal pengalaman melakukan penelitian lapangan di sejumlah lapas, Hardiat menemukan bahwa kepadatan hunian, minimnya ventilasi, serta tingginya intensitas interaksi antarpenghuni menciptakan kondisi yang ideal bagi penyebaran penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan berbagai gangguan pernapasan lainnya.
“Buku ini lahir dari pengalaman penelitian lapangan yang saya lakukan di lembaga pemasyarakatan. Temuan-temuan yang disajikan menunjukkan bahwa kondisi sel yang padat, ventilasi yang terbatas, serta tingginya interaksi antarwarga binaan dapat menciptakan lingkungan yang rentan terhadap penyebaran penyakit pernapasan,” ujar Hardiat di Kendal, Jawa Tengah, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, persoalan kesehatan di lapas harus dipahami melalui perspektif kesehatan masyarakat. Penyakit tidak hanya dipengaruhi perilaku individu, tetapi juga ditentukan oleh lingkungan tempat seseorang tinggal, kualitas udara yang dihirup, sanitasi, hingga kepadatan hunian.
Karena itu, ia menilai kesehatan warga binaan tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab negara dalam menyediakan lingkungan hidup yang layak.
Melalui buku setebal ratusan halaman tersebut, Hardiat berusaha menggeser cara pandang masyarakat terhadap lembaga pemasyarakatan.
Selama ini, lapas lebih sering dipersepsikan sebagai tempat menjalani hukuman. Padahal, menurut Hardiat, setiap warga binaan tetap memiliki hak-hak dasar sebagai manusia, termasuk hak memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai.
Ia menilai membiarkan warga binaan hidup dalam kondisi yang berisiko terhadap kesehatan sama saja mengabaikan prinsip-prinsip hak asasi manusia yang semestinya dijamin oleh negara.
“Buku ini mengajak kita melihat bahwa kualitas sistem hukum tidak hanya diukur dari kemampuannya memberikan hukuman, tetapi juga dari kemampuannya menjaga martabat serta kesehatan setiap manusia yang berada di dalamnya,” katanya.
Tak berhenti pada pemaparan persoalan, Hardiat juga menawarkan sejumlah rekomendasi perbaikan.
Ia mendorong reformasi kebijakan pemasyarakatan melalui upaya mengurangi overkapasitas lapas, meningkatkan fasilitas pelayanan kesehatan, memperbaiki desain bangunan agar memiliki sirkulasi udara yang lebih baik, hingga memperkuat program promosi kesehatan bagi warga binaan.
Menurutnya, pembenahan tersebut bukan hanya akan meningkatkan kualitas hidup warga binaan, tetapi juga menjadi investasi kesehatan masyarakat secara lebih luas.
Karya ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan akademik dan praktisi. Kata pengantar buku ditulis oleh Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Prof. Dr. dr. Bagoes Widjanarko, MPH.
Selain itu, buku tersebut turut memuat pandangan sejumlah tokoh yang menilai kesehatan warga binaan merupakan bagian penting dari upaya membangun sistem pemasyarakatan yang lebih manusiawi, adil, dan berorientasi pada pemulihan.
Sebagai alumni Magister Promosi Kesehatan UNDIP, Hardiat berharap bukunya mampu menjadi jembatan antara dunia akademik, pembuat kebijakan, praktisi pemasyarakatan, hingga masyarakat umum.
“Sebagai lulusan Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro, saya berharap buku ini dapat menjadi jembatan antara dunia akademik, pembuat kebijakan, praktisi pemasyarakatan, dan masyarakat umum. Saya ingin mendorong lahirnya diskusi yang lebih luas mengenai kesehatan di lembaga pemasyarakatan,” tuturnya.
Lebih dari sekadar sebuah buku, “Bertaruh Napas di Sel Padat” menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan warga binaan bukanlah isu yang berhenti di balik jeruji besi. Ia mencerminkan sejauh mana negara dan masyarakat bersedia memastikan setiap orang, tanpa memandang masa lalunya, tetap memperoleh hak untuk hidup sehat, menghirup udara yang layak, dan diperlakukan secara manusiawi.
Melalui karya ini, Hardiat Dani Satria memberikan kontribusi akademik sekaligus sosial, membuka ruang diskusi mengenai pentingnya reformasi sistem pemasyarakatan yang tidak hanya berorientasi pada penghukuman, tetapi juga pada perlindungan kesehatan, martabat manusia, dan proses pemulihan.(HS)

