HALO SEMARANG – Dirawat di rumah sakit di Arab Saudi saat menjalani ibadah haji, mungkin bakal menjadi pengalaman tak terlupakan bagi jemaah asal Indonesia. Bukan hanya harus berjuang menghadapi penyakit yang diderita, para jemaah juga mengalami kendala soal bahasa dan makanan.
Hal itu pula yang dialami Haerul Rijal, jemaah asal embarkasi Nusa Tenggara Barat, yang harus menjalani bedah perut di Rumah Sakit King Faisal.
“Kemarin rasanya kaya (seperti) jatuh di planet lain. Rasanya kaya mau nangis. Ada orang dateng ucapin Assalamualaikum, terus dia terangkan sesuatu, tetapi bahasanya nggak ngerti. Saya merasa asing sekali,” curhat Haerul saat menerima kunjungan tim visitasi KKHI Makkah, baru-baru ini, seperti dirilis sehatnegeriku.kemkes.go.id.
Dokter tim visitasi, dr Ovi Rusmariza, mengatakan Haerul terpaksa dirawat di Rumah Sakit King Faisal, karena menderita retensi urin, dan harus menerima tindakan pembedahan perut.
Saat tim visitasi tiba di RS King Faisal, bertepatan dengan jam makan pasien. Ovi pun meminta Haerul memilih makanan yang dibawa tim visitasi atau yang disediakan rumah sakit.
Ternyata Haerul lebih memilih makanan yang dibawa Ovi, karena lebih cocok dengan lidah orang Indonesia.
“Saya mau yang dibawakan dokter saja,” kata Haerul.
Saat menerima tim visitasi, rona muka Haerul berangsur angsur cerah. Terutama saat yang bersangkutan sudah mencurahkan perasaannya kepada tim.
“Sebetulnya di KKHI udah enak sekali. Seandainya saya bisa ditangani di sana saja,” ungkapnya lagi
Apa yang dirasakan Haerul, merupakan gambaran jemaah haji indonesia pada umumnya, di mana kendala bahasa menimbulkan ketidaknyamanan pasien dalam mendapatkan perawatan. Sehingga visitasi pasien diharapkan dapat mempercepat penyembuhan pasien, karena pasien merasa didampingi.
“Kemarin saya merasa terdampar, hari ini bahagia sekali karena seperti bertemu saudara jauh” ucapnya haru.
Menurut dr. Ovi, kondisi pasien baik dan stabil. Pihaknya menunggu konfirmasi dari pihak rumah sakit untuk memastikan kapan jemaah sudah bisa keluar dari RSAS dan melanjutkan pemulihan di KKHI Makkah.
“Kondisi pasien kami pantau setiap hari,” ujarnya
Pasien yang dirawat di RSAS umumnya membutuhkan penanganan medis yang lebih lanjut, yang memang tidak bisa ditangani di KKHI. Salah satunya adalah Muhadi, jemaah haji asal wonosobo.
Muhadi mengalami serangan jantung pada saat menjalankan puncak haji di Armuzna. Serangan pertama terjadi di arafah, dan serangan kedua terjadi di mina saat hari terakhir lontar jumrah. Pada saat serangan, muhadi langsung di rujuk ke RSAS Mina Al Wadi.
“Di hari terakhir didorong (pakai kursi roda) sama temen2nya ke jamarat pakai kursi roda tanpa sepengetahuan saya. Kembalinya, ketika kita naik bis, kena serangan kedua, di saat saya sedang tangani jemaah heat stroke” ujar dokter penanggung jawab kloter dr. Halimah
Di RSAS, Muhadi langsung mendapatkan tindakan Coronary Artery Bypass Graft (CABG) atau operasi Bypass. Di Hari ke 10, kondisi muhadi sudah baik, namun masih diobservasi dan menunggu keputusan dari RSAS untuk Muhadi dapat dipulangkan ke KKHI
“Mau diurus tanazulnya, tapi menunggu konfirmasi dari RSAS kapan bisa pulang” lanjutnya
Muhadi sendiri merupakan jemaah haji gelombang dua, dimana kloternya akan bergerak ke madinah di tanggal 28 untuk melaksanakan ibadah Arbaiin. Namun yang bersangkutan setuju untuk nantinya ditanazulkan, mengingat masih membutuhkan pengobatan yang lebih lanjut di Indonesia
“Aku arep (mau) pulang nang (ke) Indonesia wae (saja),” ujar Muhadi
Visitasi jemaah haji sakit ke RSAS merupakan bentuk support pemerintah kepada jemaah haji yang sedang di rawat, terutama support psikis. Di sisi lain juga sebagai bentuk pemantauan dan evaluasi bagi Tim Dokter KKHI untuk menilai kondisi kesehatan jemaah sakit yang dirawat di RSAS.
Visitasi dilakukan Setiap hari selama ada jemaah haji indonesia yang dirawat di RSAS. Pasca Armuzna, setiap harinya terdapat tiga tim yang diterjunkan untuk visitasi, dimana masing masing tim terdiri dari satu orang dokter dan sau Tim Pendukung Kesehatan (TPK).
Sampai Sabtu (23/7) pukul 14.00, jemaah haji yang dirawat inap di Rumah Sakit Arab Saudi sebanyak 37 orang, yang tersebar di empat rumah sakit, yaitu RS King Faisal, RS King Abdul Aziz, RS King Abdullah, dan RS Al Noer. Jemaah haji dirawat seuai dengan spesialisasi layanan di setiap rumah sakit. (HS-08)