HALO SEMARANG – Fraksi Partai Gerindra DPRD Provinsi Jawa Tengah menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Sikap ini menguat setelah perhatian Presiden RI Prabowo Subianto terhadap TPST BLE Banyumas yang dinilai sukses mengubah sampah menjadi sumber nilai ekonomi.
Fasilitas pengolahan sampah yang berlokasi di Desa Kaliori, Kabupaten Banyumas itu bahkan mendapat apresiasi langsung dari Presiden saat melakukan kunjungan pada Selasa (28/4/2026). Dalam kunjungan tersebut, Presiden meninjau proses pengolahan sampah secara menyeluruh, mulai dari pemilahan hingga pemanfaatan teknologi modern yang mampu menekan volume sampah sekaligus menghasilkan produk bernilai jual.
TPST BLE Banyumas dikenal sebagai salah satu contoh pengelolaan sampah modern berbasis ekonomi sirkular yang mengedepankan prinsip keberlanjutan. Berbagai fasilitas penunjang tersedia, mulai dari pre-shredder, tromol screen, pencacah organik, mesin pembersih, hingga sistem konveyor yang terintegrasi.
Tak hanya berdampak pada lingkungan, keberadaan TPST ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sejumlah produk turunan berhasil dihasilkan, seperti genteng plastik, paving berbahan daur ulang, maggot, pupuk organik (kasgot), hingga bahan bakar alternatif refuse-derived fuel (RDF).
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Jateng, Sudarsono, menilai model pengelolaan tersebut sebagai langkah strategis yang mampu menjawab dua persoalan sekaligus: lingkungan dan kesejahteraan.
“Pengelolaan sampah seperti di Banyumas ini sangat strategis. Sampah tidak lagi hanya menjadi masalah lingkungan, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, model TPST BLE perlu direplikasi di berbagai daerah di Jawa Tengah sebagai solusi jangka panjang dalam penanganan sampah.
“Kami di DPRD mendukung penuh pengembangan pengolahan sampah terpadu berbasis ekonomi sirkular. Harapannya, setiap daerah tidak hanya mampu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga masyarakat, agar sistem pengelolaan sampah berjalan optimal dan berkelanjutan.
Selain itu, Fraksi Gerindra Jateng turut mendukung program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang tengah didorong pemerintah pusat. Program ini ditargetkan hadir di 30 kawasan aglomerasi yang mencakup 61 kabupaten/kota hingga 2029, dengan kapasitas pengolahan lebih dari 1.000 ton sampah per hari di setiap lokasi.
Di Jawa Tengah, pengembangan PSEL difokuskan pada tiga kawasan prioritas, yakni Semarang Raya, Pekalongan Raya, dan Tegal Raya, wilayah yang selama ini menghadapi tekanan serius akibat tingginya timbulan sampah.
Sudarsono menyebut, dengan total timbulan sampah di Jawa Tengah yang mencapai sekitar 6,3 juta ton per tahun, pembangunan PSEL menjadi langkah konkret untuk mengurangi beban lingkungan sekaligus mendorong pemanfaatan sampah sebagai energi baru terbarukan.
“Dengan potensi sebesar itu, PSEL bisa menjadi solusi nyata, bukan hanya mengatasi sampah, tetapi juga mempercepat transisi energi yang lebih berkelanjutan,” pungkasnya.(HS)


