HALO SEMARANG – Kemampuan akademik tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan lulusan perguruan tinggi. Dunia kerja kini menuntut lulusan yang mampu memimpin, bekerja dalam tim, berkomunikasi, serta mengambil keputusan dengan integritas. Perguruan tinggi pun dituntut tidak hanya menghasilkan sarjana yang menguasai ilmu pengetahuan. Tetapi juga harus memiliki karakter dan kecakapan sosial.
Kesadaran atas perubahan kebutuhan tersebut terus diperkuat Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) melalui acara Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah (LKMM-TM) Tahun 2026.
Rektor UPGRIS, Dr. Sapto Budoyo mengatakan, melalui acara ini UPGRIS ingin membekali mahasiswa dengan kemampuan kepemimpinan, manajemen organisasi, komunikasi, dan pengembangan karakter sebagai bagian dari proses pembentukan calon pemimpin masa depan.
“Mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan hard skill. Mereka juga harus memiliki soft skill yang diperoleh melalui berbagai kegiatan dan organisasi kemahasiswaan,” ucap Rektor UPGRIS, saat membuka acara Program yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UPGRIS di Wisma Perdamaian, Semarang, pada 2–4 Agustus 2026.
Acara ini mengusung tema Finding Your Self in Organization, dan merupakan agenda kaderisasi tahunan bagi mahasiswa yang dipersiapkan menjadi pengurus organisasi kemahasiswaan tingkat universitas.
Rektor menilai, penguatan soft skill harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan tinggi. Menurutnya, penguasaan ilmu pengetahuan memang penting. Tetapi tidak akan cukup tanpa kemampuan berkolaborasi, memimpin, dan menyelesaikan persoalan yang kerap muncul dalam kehidupan bermasyarakat maupun dunia kerja.
Karena itu, LKMM-TM menjadi salah satu tahapan wajib yang harus diikuti sekaligus dinyatakan lulus oleh mahasiswa sebelum menduduki kepengurusan lembaga kemahasiswaan tingkat universitas.
“Program tersebut dipandang sebagai bagian dari proses kaderisasi untuk melahirkan pemimpin mahasiswa yang siap mengemban tanggung jawab organisasi,” paparnya.
Komitmen itu terlihat dari luasnya ruang yang disediakan kampus bagi mahasiswa untuk berorganisasi. Hingga kini, UPGRIS memiliki 63 organisasi dan lembaga kemahasiswaan yang menjadi wahana pengembangan bakat, minat, kreativitas, sekaligus kepemimpinan mahasiswa.
Rektor menambahkan, keberhasilan seseorang pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual. Kejujuran dan integritas menjadi fondasi yang menentukan kualitas seorang pemimpin.
“Karena itu, organisasi kemahasiswaan dipandang sebagai miniatur kehidupan bermasyarakat yang mengajarkan tanggung jawab, etika, dan kemampuan mengambil keputusan,” k⁷atanya.
Wakil Rektor III UPGRIS Dr. Heri Prabowo, menambahkan, pengembangan soft skill mahasiswa merupakan bagian dari komitmen kampus dalam mewujudkan visi “The Meaning University”. Melalui berbagai kegiatan kemahasiswaan, mahasiswa didorong tidak hanya berkembang sebagai individu. Tetapi juga mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Menurut Heri, dukungan kampus terhadap organisasi kemahasiswaan dilakukan secara menyeluruh. Selain menyediakan ruang aktivitas, UPGRIS memberikan pendampingan dalam pengembangan ide dan program kerja, memperluas jejaring kolaborasi, mengalokasikan dukungan pendanaan. Bahkan hingga menghadirkan kebijakan yang memudahkan mahasiswa aktif berorganisasi tanpa mengesampingkan kewajiban akademik,”ungkapnya.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta memperoleh pembekalan dari sejumlah narasumber, di antaranya Mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, akademisi Dr. Ling Maria Ulfah, M.Si., dan tokoh muda Semarang Ade Bhakti Ariawan.
Beragam materi yang disampaikan diharapkan memperkaya wawasan mahasiswa mengenai kepemimpinan, manajemen organisasi, komunikasi publik, serta peran generasi muda dalam menjawab tantangan sosial.
Melalui LKMM-TM, UPGRIS menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak berhenti pada pencapaian akademik. Kampus juga memiliki tanggung jawab membentuk lulusan yang adaptif, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial. Bekal tersebut dinilai menjadi modal penting agar mahasiswa mampu bersaing di dunia kerja sekaligus berkontribusi dalam pembangunan masyarakat. (HS-06))

