in

Dekatkan Sastra dengan Alam, Komunitas Seniman Kendal Gelar ‘Berpuisi di Medini’

Kegiatan Berpuisi di Medini", di eks Kampung Babadan, Kebun Teh Medini, Ngesrepbalong, Limbangan, Kendal beberapa waktu lalu.

HALO KENDAL – Komunitas Lereng Medini (KLM) bekerja sama dengan Sangkar Arah Pustaka, Jarak Dekat Art Production, dan Pelataran Sastra Kaliwungu di akhir Desember 2023 lalu menggelar kegiatan perhelatan bertajuk “Berpuisi di Medini”, di eks Kampung Babadan, Kebun Teh Medini, Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kendal.

Di tengah hamparan teh, beberapa orang duduk beralas rerumputan di sebuah areal bekas bangunan yang dipenuhi pelbagai jenis tanaman. Satu per satu mereka maju menuju ke panggung ala kadarnya, untuk membacakan puisi karya Iman Budhi Santosa atau IBS, penyair asal Yogyakarta kelahiran Magetan.

Acara “Berpuisi di Medini” merupakan rangkaian acara Residensi Akhir Pekan ke-5 yang digelar di Gedung Sastra dan Sosial Kebun Sastra Guyub Bebengan Boja Kendal. Acara diikuti oleh beberapa orang dari Kendal, Pekalongan, Kebumen, dan Semarang.

Yang istimewa, penyelenggara juga mengundang penyair kenamaan asal Yogyakarta yang kini bermukim di Muntilan Magelang, Hasta Indriyana. Sebelumnya, Hasta juga menjadi pemateri dalam acara Residensi Akhir Pekan ke-5 bersama belasan peserta.

Dihadirkannya Hasta Indriyana ke Medini bukan tanpa alasan. Karena oleh sebagian orang, Hasta disebut-sebut merupakan salah satu “anak emas” atau murid dari Iman Budhi Santosa (IBS). Semasa hidupnya, IBS pada tahun 1971-1975 pernah menjadi Sinder di Afdeling Babadan yang menjadi lokasi acara.

Koordinator KLM, Heri Chandra Santoso mengungkapkan, acara menjadi salah satu ikhtiar mendekatkan aktivitas sastra dengan alam. Menurut dia, alam adalah sumber intuisi. Selain itu juga napak tilas jejak penyair Iman Budhi Santosa, yang pernah tinggal di Kampung Babadan, Kebun Teh Medini.

“Meski Kampung Babadan tidak lagi berpenghuni dan tak terawat, namun, jejak-jejak bahwa pernah menjadi permukiman masih tetap ada. Bekas fondasi rumah, dinding batubata bekas musala, hingga tanaman-tanaman hias di pekarangan rumah,” ungkap dia.

Selain itu, lanjut Heri CS sapaan akrabnya, kegiatan digelar untuk memberikan pemahaman, di tanah tersebut pernah tinggal penyair maestro yang sudah dikenal di bidangnya.

“Setidaknya, para peserta dapat memahami, dulu di Kampung Babadan tersebut pernah tinggal seorang penyair kondang, atau bisa disebut maestro di bidangnya. Sehingga diharapkan, peserta turut menghikmati riwayat dan proses kreatifnya selama hidup,” imbuh dia.

Sementara itu, salah satu peserta asal Desa Getas, Kecamatan Singorojo, Kendal, Anis Hidayati merasa beruntung bisa mengikuti kegiatan tersebut. Ia juga mengaku, sebelumnya pernah ke Kebun Teh Medini, namun hanya sekedar untuk berwisata menikmati suasana sejuk kebun teh.

“Kali ini bersama anak saya ke Kebun Teh Medini, dan saya berkesempatan untuk tampil dan berpuisi di tengah kebun teh, dengan disaksikan para penyair kondang dari berbagai wilayah. Sebuah pengalaman yang sangat mengesankan bagi saya,” ungkapnya.

Babadan menjadi salah satu wilayah di Perkebunan Teh Medini. Kebun Teh Medini sudah ada sejak zaman Belanda, dimana kebuh teh ini berada di sisi barat Gunung Ungaran, yang mempunyai luas sekitar 386 hektare dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (MDPL). Sehingga suhu udara terasa dingin, bahkan area kebun teh kerap tertutup kabut hingga siang hari.

Kebun Teh Medini Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kendal menyajikan berupa hamparan luas tanaman teh yang berbukit-bukit. Jika pengunjung datang pada pagi hingga siang hari, biasanya akan berpapasan dengan para perempuan pemetik teh yang membawa karung. (HS-06).

 

Bawaslu Kota Semarang Telah Awasi Sebanyak 533 Kegiatan Kampanye

Libur Nataru, Tempat Wisata Goa Kreo dan Semarang Zoo Dipadati Wisatawan