
HALO SEMARANG – Menghadapi cuaca eksetrem seperti saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Terutama di daerah-daerah yang memiliki potensi rawan bencana banjir dan tanah longsor.
Kepala BPBD Kota Semarang, A Rudianto mengatakan, masyarakat yang berada di daerah rawan tersebut diharapkan dapat terlibat aktif untuk bersama-sama menghadapi bencana yang kemungkinan akan terjadi. Dan jika terjadi bencana banjir dan tanah longsor bisa segera mengungsi di tempat yang sudah disiapkan petugas dan relawan bencana.
“Masyarakat di daerah rawan bencana harus tanggap, sigap dan tangguh dalam menghadapi bencana. Karena masalah kebencanaan tidak bisa dibebankan pada pemerintah saja, namun semua stakeholder harus terlibat. Sehingga bisa meminimalisir dampak bencana,” katanya, Rabu (26/2/2020).
Bila terjadi hujan dengan curah tinggi dalam waktu lama dan diperlukan langkah antisipasi. Rudi mengingatkan masyarakat di daerah rawan banjir diharapkan siaga. Dan jika terjadi banjir, warga diminta segera melakukan tindakan-tindakan antisipasi, seperti mematikan listrik, mematikan kompor, dan menyiapkan apa yang bisa dibawa dalam satu kotak dan mengunci pintu rumah ketika harus mengungsi.
“Saat terjadi bencana BPBD segera mengkoordinir semua yang terlibat di antaranya Babinsa, Babinkamtibmas serta PU, Disperkim, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Sosial, PMI, Basarnas, dan beberapa dinas lain. Namun apabila diperlukan, DLH Kota Semarang juga menyiapkan fasilitas, misalnya mobil toilet dan lain-lain untuk kebutuhan hidup dasar, yaitu makan, minum, dan alas tidur bagi para pengungsi,” imbuhnya.
Selain itu, kata Rudi, diperlukan juga keterlibatan dari Dinas Pemadam Kebakaran yang berfungsi untuk menyedot genangan air dan menyediakan genset. Karena pengungsi akan tinggal sementara di dapur umum, ataupun masjid dan mushala.
Sedangkan untuk mengantisipasi terjadinya bencana tanah longsor, lanjut Rudi, terutama di daerah rawan, warga diharapkan tidak mengepras bukit untuk lahan pertanian dan tidak membuat biopori. Lalu, membuat saluran air yang dibuat secara permanen jangan sampai airnya merembes masuk ke bawah yang menyebabkan tanah menjadi jenuh.
“Dan untuk mengatasi longsor di lereng bisa juga menanam rumput vetiver atau rumput akar wangi yang lama tanamnya tiga tahun, akarnya sudah sampai 3 meter ke dalam tanah sebagai penahan tanah,” terangnya.
Saat ini BPBD Kota Semarang telah memetakan daerah potensi rawan terjadinya bencana banjir dan tanah longsor. Terdiri dari sembilan kecamatan rawan banjir dan tujuh daerah rawan tanah longsor.
Untuk kecamatan rawan banjir, yaitu di Kecamatan Semarang Utara (di antaranya Kelurahan Bandarharjo, Panggung Lor, Tanjungmas, Bulu Lor), Kecamatan Semarang Timur (Kelurahan Kemijen, Rejosari, Mlatiharjo), Kecamatan Semarang Barat (Kelurahan Tambakharjo, Kembangarum, Tawang Mas). Lalu, di Kecamatan Gayamsari (Kelurahan Tambakrejo, Sawah Besar, Kaligawe), Kecamatan Genuk (Kelurahan Penggaron Lor, Trimulyo, Terboyo Wetan), Kecamatan Pedurungan (Kelurahan Tlogosari Kulon, Muktiharjo Kulon, Pedurungan Kidul), Kecamatan Tembalang (Kelurahan Rowosari, Bulusan, Kedungmundu), dan Kecamatan Gunungpati (Sukorejo) serta Kecamatan Candisari (Jomblang).
Sedangkan tujuh kecamatan daerah rawan bencana tanah longsor, yaitu Kecamatan Ngaliyan (Kelurahan Kalipancur, Purwoyoso, Wonosari), Kecamatan Candisari (Kelurahan Candi, Jomblang, Jatingaleh), Kecamatan Gunungpati (Kelurahan Sadeng, Sukorejo, Sekaran), Kecamatan Banyumanik (Ngesrep, Tinjomoyo, Srondol Kulon, dan Pudakpayung), Kecamatan Semarang Selatan (Mugasari, Randusari), Kecamatan Gajahmungkur (Lempongsari, Bendungan, Gajahmungkur), serta Kecamatan Semarang Barat (Kelurahan Ngemplak, Simongan, Krapyak).(HS)