KEHARMONISAN dalam memadukan perbedaan keyakinan dalam masyarakat, akan terlihat saat kita berkunjung di Desa Klinting, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas.
Dimana masyarakat beragama Islam dan Hindu hidup tenang berdampingan, saling menjaga toleransi dalam menjalankan ibadahnya, serta selalu bergotong-royong dalam kebersamaan.
Desa Klinting dikenal desa dengan umat Hindu terbesar di Kabupaten Banyumas. Yang ditandai dengan berdirinya Pura Pedaleman Giri Kendeng.
Letak Pura Pedaleman Giri Kendeng sendiri berada di atas ketinggian bukit Klinting dan berada tidak jauh dari masjid desa yang cukup besar. Suasana memasuki daerah tersebut memang terasa sejuk dan jalanan di kanan kiri tertata rapi.
Belum lagi keramahan sejumlah warga, yang ditemui akan menyapa dan memberi senyuman, saat berjalan menuju ke Pura Pedaleman Giri Kendeng.
Kepala Desa Klinting, Sudir menuturkan, nama desa diambil dari salah satu dusun tempat balai desa tersebut berada. Desa Klinting terdiri dari 20 RT dan 2 RW. Desa Klinting sebenarnya terbagi dalam empat dusun secara administratif. Yaitu Dusun Klinting, Dusun Karangpucung, Dusun Jumbul dan Dusun Wanasara.
Keberadaan Pura Pedaleman Giri Kendeng sendiri, berdiri sekitar tahun 1984 dan hingga kini terus mengalami perbaikan dan dijaga kebersihannya.
Bahkan, keberadaan pura tersebut juga sering digelar acara budaya yang menyertai rangkaian peribadatan Agama Hindu.
Sudir mengungkapkan, kehidupan harmonis antara pemeluk agama Islam dengan pemeluk agama Hindu, lantaran sudah turun temurun, sejak awal menyebarkannya di Desa Klinting sangat terjaga.
Bahkan merupakan suatu kewajiban untuk menjaga kerukunan beragama, terutama di Dusun Wanasara yang menjadi tempat berdirinya Pura Pedaleman Giri Kendeng.
Dimana masyarakatnya selalu bisa menjaga kerukunan. Hal tersebut menurutnya bisa terlihat saat hari hari besar keagamaan tiba.
Warga tidak sungkan untuk saling memberi perhatian mengucapkan kepada yang merayakan dan saling bersilaturahmi.
Sudir mencontohkan, saat perayaan Idul Adha, dalam pembagian hewan kurban tersebut bukan hanya untuk masyarakat yang beragama Islam saja, tetapi dibagikan merata kepada semua warga Desa Klinting, termasuk yang beragama Hindu.
Lalu ketika hari Raya Idul Fitri, warga Hindu pun ikut menghormati dengan saling bersilaturahmi, bahkan umat Hindu juga menyediakan atau saling berkirim makanan khas lebaran seperti ketupat, opor ayam, dan juga kue lebaran.
Sebaliknya, umat muslim di Desa Klinting juga sangat menjaga toleransi dan menghormati perayaan hari umat Hindu.
“Kehidupan di desa kami, baik dan rukun. Saling menghormati dan toleransi tinggi,” ungkap Sudir.
Sementara tokoh masyarakat Hindu Desa Klinting, Minoto Darmo mengungkapkan, kemajemukan di Desa Klinting tidak mempengaruhi kehidupan sosial dalam menjaga kerukunan.
Ia pun menjelaskan, hingga saat ini pemeluk agama Hindu di Desa Klinting, baik Hindu Jawa dan Hindu Bali sekitar 180 orang dari jumlah penduduk sebanyak 2.800 jiwa.
Minoto menyebut, beberapa contoh kerukunan masyarakat Desa Klinting antara Hindu dan Islam, misalnya saling bergotong-royong seperti pembangunan jalan desa, juga saling membantu dan ketika ada warga lain yang sedang membangun rumah tanpa diberi komando langsung guyub rukun membantu.
Toleransi lain yang terpancar, juga saat umat Hindu sedang merayakan Hari Raya Nyepi. Sehari semalam pun umat muslim sangat menjunjung toleransi dengan cara tidak membuat suara atau kebisingan seperti berkumpul yang bisa mengganggu makna Hari Raya Nyepi.
Ia pun mengungkapkan, umat Muslim di sini pun sangat menghargai umat Hindu yang sedang merayakan Hari Raya Nyepi, bahkan tetangga pun seperti ikut larut dalam sakralnya Nyepi, dengan cara menjaga agar tidak membuat suara yang bising seperti musik, suara kendaraan yang keras, bahkan bicarapun tidak bersuara keras.
Minoto menambahkan, masyarakat Desa Klinting juga sangat menjaga kekeluargaan. Baik di lingkungan maupun di tempat kerja. Sehingga tidak ada yang namanya konflik antar pemeluk agama Islam dan Hindu.
Menurutnya, banyak sekali kerukunan yang bersumber dari rasa saling menghargai, karena secara turun temurun orang tua mengajarkan hal tersebut kepada anak cucu.
“Sikap inilah yang menjadi ciri khas di desa kami. Jadi tidak ada yang namanya konflik beda agama,” imbuh Minoto.
Sedangkan, salah seorang pemeluk agama Hindu, Eti, yang kebetulan bertempat tinggal di samping Pura Pedaleman Kendeng mengaku, dirinya merasa aman dan nyaman hidup di Desa Klinting menjalankan kepercayaannya.
Eti menceritakan banyak umat beragama lain yang ikut meramaikan ketika ada acara budaya yang bernuansa Hindu seperti acara adat Ogoh ogoh, dimana umat lainnya ikut berpartisipasi dan berbaur. Sehingga nampak meriah dan rukun.
Ia juga menjelaskan tidak semua orang bisa masuk ke dalam tempat khusus peribadatan, kecuali ketika umat Hindu sedang melaksanakan peribadatan.
“Hal tersebut sangat dijaga oleh warga Desa Klinting. Selain itu untuk masuk ke dalam Pura Pedaleman, warga desa melakukan salam khas umat Hindu,” jelas Eti. (HS-06)