HALO SEMARANG – Kementerian Agama
(Kemenag) akan menggelar sidang isbat menentukan awal Ramadan pada 29 Syakban atau pada Rabu (22/3/2023), sebelumnya dengan melihat posisi hilal dari berbagai wilayah di Indonesia. Di Jawa Tengah sendiri, ada sebanyak 17 titik lokasi, salah satunya di Kota Semarang yakni berada di Gedung Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo, Ngaliyan.
Selain di Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo, titik lokasi lainnya di antaranya di Pantai Kartini Jepara, Pelabuhan Kendal dan Roft top Hotel Aston Cilacap dan lainnya.
Menurut Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof DR Imam Taufiq, selain menjadi pusat riset, planetarium UIN Walisongo ini ke depan bisa menjadi magnet destinasi wisata. Karena tak hanya dijadikan pusat riset Ilmu Falak atau ilmu pengetahuan tentang lintasan benda langit. Namun juga, nantinya pengunjung bisa berselancar melihat cakrawala dan benda-benda luar angkasa dengan alat dan fasilitas yang tersedia disana.
Gedung ini diresmikan secara virtual pada September 2021 lalu yang disaksikan langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas. Planetarium ini diresmikan bersama tujuh gedung lain yang dibangun di lahan seluas 26.400 m2. Di antaranya ditunjang kelengkapan fasilitas laboratorium, observatorium, perpustakaan dan infrastruktur teknologi informasi.
“Di antaranya terepong, teropong bintang, dan peralatan lainnya untuk keperluan pengamatan dan penelitian secara ilmiah perbintangan,” ungkapnya.
Proyek tersebut merupakan Program The Support to Development of the Islamic Higher Education Project, sebuah mega proyek pengembangan Pendidikan Tinggi Islam dari Islamic Development Bank (IsDB).
Sementara, Kepala Biro Humas, Data, Informasi Kemenag, Ahkmad Fauzin mengatakan, gedung planetarium dan observatorium UIN Walisongo menjadi salah satu titik lokasi Rukyatul Hilal,baik penentuan awal Ramadan dan Syawal karena memiliki sejumlah keunggulan.
Yakni, di dalam planetarium ini telah mengggunakan teknologi digital terbaik atau digistar 6. Planetarium ini juga menjadi planetarium terbesar peringkat ketiga di dunia dengan diameter 18 meter.
“Dan menggunakan digital projector dengan kualitas 4 K dan digital screen dome dengan teknologi nanosame,” katanya, belum lama ini di Semarang.
Fauzin menambahkan, planetarium ini juga menjadi planetarium Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) pertama di Indonesia. (HS-06)