in

Dibangun di Atas Perairan, Menteri Basuki Sebut Jalan Tol Semarang – Demak Tantangan Konstruksi

 

HALO SEMARANG – Pembangunan Jalan tol Semarang-Demak di atas tanggul laut, nantinya bukan hanya melengkapi konnektivitas jaringan jalan di Jawa Tengah bagian utara, melainkan juga mengatasi persoalan rob.

Hal itu diungkapkan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, ketika meninjau progres pembangunan Jalan Tol Semarang – Demak, baru-baru ini.

Menurut dia, jalan tol ini nantinya akan terhubung dengan kawasan strategis, seperti pelabuhan, bandara, kawasan industri, dan kawasan pariwisata religi khususnya di wilayah Demak.

Di sisi lain, jalan tol ini sekaligus merupakan tanggul laut yang dirancang untuk menyelesaikan masalah rob, yang selama ini terjadi di kawasan dari Kaligawe di Kota Semarang hingga Kecamatan Sayung di Kabupaten Demak.

Konstruksi jalan tol, sekaligus tanggul laut ini, dibangun di atas perairan. Karena itu Basuki berpesan agar semua pihak yang terlibat, benar-benar memperhatikan aspek konstruksi, aspek waktu, dan aspek keuangan.

“Ini technical challenge, jadi harus benar-benar diperhatikan,” kata Menteri PUPR Basuki, seperti dirilis pu.go.id.

Tol Semarang – Demak memiliki panjang 26,95 kilometer, dibangun dalam dua seksi melalui skema Kerja Sama Badan Usaha dengan Pemerintah (KPBU). Seksi 1 untuk ruas Semarang/Kaligawe-Sayung sepanjang 10,64 kilometer menjadi porsi pemerintah (APBN) dengan kebutuhan biaya Rp10 triliun.

Sementara Seksi 2 untuk ruas Sayung-Demak, sepanjang 16,31 km porsi Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Pembangunan Perumahan Semarang Demak.

Untuk seksi 1 telah dilaksanakan kontrak dengan paket pekerjaan peninggian Jembatan Kaligawe, elevated freeway, dan pile slab untuk 1A.

Selain itu juga pekerjaan tanggul laut dan jalan utama, on / off ramp atau akses keluar dan masuk jalan utama, Jembatan Kali Babon dan Sayung, serta rest area dan Gerbang Tol untuk 1B.

Dilakukan pula pembangunan Kolam Retensi Terboyo seluas lebih kurang 189 hektare dan Kolam Retensi Sriwulan seluas lebih kurang 28 hektare), berikut rumah-rumah pompanya.

Pada seksi 1 tengah dilakukan trial embankment (uji timbunan) sepanjang 0,4 kilometer, dengan progres 7,63 persen, dan diharapkan pada Januari 2023 bisa mencapai dua lapis timbunan.

Konstruksi ini nantinya dapat dijadikan acuan untuk pekerjaan timbunan tanggul laut, pada paket kontraktual 1B pada Januari 2023.

Tol Semarang-Demak terintegrasi tanggul laut, dengan struktur timbunan di atas laut diperkuat dengan matras bambu setebal 13 lapis.

Selain sistem matras bambu, penguatan kondisi tanah juga dilakukan dengan cara pemasangan material penyalir vertikal pra-fabrikasi atau PVD serta melaksanakan pembebanan menggunakan material pasir laut, yang diambil menggunakan alat Trailing Suction Hopping Dredger atau TSHD.

Dengan terbangunnya tanggul laut hingga empat lapis timbunan dan beroperasinya rumah pompa pada Kolam Retensi Terboyo dan Sriwulan, diharapkan permasalahan banjir rob di Semarang Timur, khususnya Kaligawe – Sayung dapat teratasi pada akhir tahun 2023. Selama ini rob yang melanda wilayah tersebut, mengakibatkan kerugian ekonomi cukup signifikan.

Selanjutnya untuk Seksi 2, saat ini sudah tahap konstruksi dengan progres mencapai 87,4 % dan ditargetkan rampung akhir tahun ini.

Pembangunan Seksi 2 dilaksanakan oleh PT PP-PT WIKA Konsorsium Maratama-Studi Teknik (KSO) dan Konsultan Supervisi PT Virama Karya (Persero) dengan biaya konstruksi sebesar Rp 4,7 triliun.

Hadir dalam tinjauan Menteri Basuki, Direktur Jenderal Bina Marga Hedy Rahadian, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah – D.I Yogyakarta, Wida Nurfaida, Kepala Balai Besar Wilayah  Sungai (BBWS) Pemali Juana Muhammad Adek Rizaldi,   Koordinator Tim Ahli Tanggul Laut Tol Semarang-Demak Arie Setiadi Moerwanto, dan Direktur Utama PT PP Novel Arsyad. (HS-08)

Kultur Kendal Religius Harus Dipertahankan, Wakil Bupati Dukung Pembangunan Majelis Taklim di Rowosari

Tiga Hari Jelang Idul Adha, Harga Cabai di Pasaran Tembus Rp 90 Ribu/Kg dan Bawang Merah Rp 70 Ribu/Kg.