HALO SEMARANG – Tiga hari menjelang Perayaan Hari Besar Keagamaan yaitu Lebaran Idul Adha 1443 Hijriah, pantauan harga bahan pangan di beberapa pasar tradisional di Kota Semarang masih cenderung tinggi. Bahkan, pada beberapa komoditas pangan stategis seperti cabai rawit merah dan rawit ijo harganya mencapai kisaran Rp 90 ribu/kilogram. Sedangkan bawang merah harganya juga masih cenderung tinggi yakni Rp 70 ribu/kilogram.
Sementara harga daging sapi dan daging ayam masih cenderung stabil. Untuk daging sapi, yakni masih bertahan di kisaran Rp 120-130 ribu perkilogram. Dimana harga tersebut lebih murah dibandingkan saat lebaran Idul Fitri kemarin yang tembus Rp 150 ribu/ kilogram.
Salah seorang pedagang, Jumiyem (57) mengatakan, harga cabai sampai sekarang masih tinggi. Harga cabai jenis rawit merah Rp 90 ribu/kilogram. Begitu juga dengan harga cabai keriting merah juga sama. Harga tersebut dia mengaku sudah bertahan sejak satu bulan terakhir.
“Harga cabai rawit ijo saat ini juga mahal yaitu Rp 90 ribu /kilogram. Sebelumnya kisaran Rp 80-85 ribu/kg. Kalau harga cabai keriting ijo masih berkisar Rp 40 ribu/kilogram,” katanya, Rabu (6/7/2022).
Selain harga cabai yang trendnya masih tinggi, menurutnya harga bawang merah saat ini juga masih mencapai Rp 70 ribu perkilogram.
“Sebelumnya harga bawang merah Rp 60- 65 ribu/kilogram. Kenaikan harga ersebut terjadi sejak dua minggu ini,” imbuhnya.
“Kalau bawang putih Rp 29 ribu /kilogram. Masih tetap, tidak ada kenaikan harga. Kemungkinan harga pangan terutama bumbu dapur dan sayuran akan terus merangkak naik menjelang Idul Adha. Kebutuhan konsumsi masyarakat pun ikut naik, apalagi saat ini ada banyaknya hajatan,” ujarnya.
Dia menambahkan, begitu juga dengan harga tomat yang sekarang naik menjadi Rp 19 ribu/kilogram.
“Sebelumnya Rp 15-17 ribu perkilogram. Lalu kol putih juga naik sekarang Rp 15 ribu per kilogram, sebelumnya Rp 12 ribu per kilogram. Kenaikan ini juga sudah sejak dua minggu ini,” paparnya.
Sayuran lain, wortel misalnya, dikatakan dia juga sekarang naik jadi Rp 14 /kilogram.
“Sebelumnya Rp 10-11 ribu perkilogram. Perubahan kenaikan harga ini sejak satu minggu lalu. Lalu, untuk selada sekarang Rp 12 ribu/kilogram. Dan kemungkinan akan naik juga harganya saat Hari H Lebaran Idul Adha karena biasanya banyak dipakai untuk pelengkap pada makanan sate. Kemungkinan harganya akan naik, kalau misalnya stoknya sedikit saat lebaran,” katanya.
Sedangkan untuk harga daging sapi dan daging ayam di Pasar Karangayu Semarang, beberapa hari mendekati Lebaran Idul Adha ini masih cenderung stabil. Harga daging sapi berkisar Rp 120-130 ribu perkilogram. Dan harga daging ayam Rp 37-38 ribu perkilogram.
Harga yang sama juga dijumpai di Pasar Mangkang, harga daging sapi dan ayam tersebut masih bertahan sekitar satu bulan terakhir.
Salah satu pedagang Pasar Karangayu, Prio (52) mengatakan, harga daging mendekati Lebaran Idul Adha tidak ada kenaikan berarti. Harganya masih Rp 120-130 ribu perkilogram. Harga ini sudah bertahan sekitar satu bulan ini.
“Tidak ada kenaikan harga, kemungkinan karena permintaan daging sapi di pasaran berkurang, dengan adanya daging kurban,” katanya.
Sebelumnya, Anggota Komisi B DPRD Kota Semarang, Juan Rama Soemarmo mengatakan, setiap menjelang Perayaan Hari Besar Keagamaan, seperti Idul Adha otomatis kebutuhan masyarakat terhadap bahan pangan, bumbu dapur dan daging pun akan meningkat. Sehingga pihaknya meminta dinas terkait baik itu Dinas Ketahanan Pangan (Distan) maupun Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Kota Semarang untuk memastikan ketersedian atau stok bahan pangan.
“Saat ini, menjelang Lebaran Idul Adha beberapa harga bahan pangan masih tergolong mahal seperti cabai, bawang putih dan bawang putih. Sedangkan komoditas yang masih cenderung tinggi harga telur, lalu daging dan daging ayam yang kemungkinan makin tinggi mendekati hari H Idul Adha,” ujarnya, belum lama ini.
Selain itu pihaknya meminta dinas pertanian dan peternakan juga untuk memastikan kesehatan hewan kurban yang disembelih.
“Maupun hewan ternak yang dijual di pasaran oleh pedagang tiban hewan kurban dibanyak tempat., wabah penyakit mulut dan kaki (PMK) yang menyerang hewan ternak, tidak makin menyebar ke hewan ternak lainnya, dan dagingnya tetap aman dikonsumsi,” katanya. (HS-06)