Ah, Semarang, Kota Lumpia dan Lawang Sewu yang legendaris. Tapi akhir-akhir ini, kota ini lebih mirip oven raksasa yang lupa dimatikan. Bayangkan saja: suhu udara tembus 36 derajat Celsius pada 26 September 2025 kemarin, membuat BMKG sampai mengeluarkan larangan aktivitas luar ruangan di jam-jam puncak siang.
Ya ampun, kalau matahari punya akun Instagram, pasti dia sudah unfollow Semarang karena merasa tersaingi. “Eh, ini kota apa oven microwave?” begitu kira-kira gumam warga saat berjalan di bawah terik yang seperti hukuman dari dewa cuaca yang lagi bad mood.
Bayangkan hidup di Semarang sekarang ini. Pagi-pagi, kamu bangun tidur, buka jendela, dan langsung disambut hembusan angin panas yang seperti napas naga. Suhu rata-rata September biasanya sekitar 33 derajat, tapi tahun ini seperti naik level: jarang di bawah 31 derajat, dan sering menyentuh 35 derajat atau lebih.
Kalau kamu pekerja kantor, meeting Zoom jadi alasan bagus untuk tinggal di ruangan ber-AC. Tapi kasihan para pedagang kaki lima di Pasar Johar, mereka seperti sedang latihan sauna gratis.
“Bang, es campurnya satu,” kata pelanggan, tapi esnya sudah meleleh sebelum disajikan. Satirnya, panas ini membuat bisnis es krim laris manis, tapi pemiliknya malah mengeluh karena stok susu cairnya berubah jadi yogurt sebelum waktunya.
Lihat saja tweet-tweet warga di X (dulu Twitter), yang seperti curhatan massal dari korban pemanasan global versi lokal. Ada yang bilang, “Maaf mengeluh ya Allah tp ini seriusan…. panas banget….. help….. turunkan suhu semarang…. plis juseyo…” Lucu kan? Seperti sedang memohon ke langit, tapi langitnya malah tambah biru tanpa awan.
Lainnya membandingkan dengan kota tetangga: “Pas sampe terus turun dari kereta, gue kayak pindah planet alias dingin banget di Purwokerto juangkrek. Kesenjangan suhu sama Semarang yang gak pagi gak malem panas mulu udah kayak Bekasi ver. 2.”
Haha, Bekasi versi 2? Semarang pasti tersinggung, tapi faktanya, suhu di sini lebih ekstrem karena faktor urbanisasi dan deforestasi di sekitar Pegunungan Ungaran. Kota ini seperti remaja yang lagi puber: panas dingin nggak jelas, tapi mostly panas.
Satir yang lebih dalam, panas ini seperti metafor kehidupan di Indonesia. Di Semarang, orang-orang bilang, “Dalam kurun waktu 4 tahun, banyak hal yang berubah. Tapi tidak dengan Kaligawe, masih banjir, lalu litas yang merayap, panas yang menyengat.”
Ya, banjir dan panas bergantian seperti duet maut. Bayangkan: pagi panas menyiksa, sore hujan deras, malam banjir. Warga Semarang seperti aktor dalam drama komedi absurd.
“Eh, hari ini banjir atau sauna?” tanya tetangga.
Jawabannya: keduanya!
Dampaknya ke kesehatan? Jangan ditanya. BMKG sampai menganjurkan warga tidak keluar rumah antara pukul 11.00-15.00 WIB, karena indeks panas bisa mencapai 38 derajat sensasinya. Warga seperti zombie yang mencari tempat teduh.
Di Semarang, bukan cuma mandi yang males, tapi keluar rumah pun jadi males. Ada juga guyonan di angkringan, “Anak-anak sekolah online lagi? Bukan karena pandemi, tapi karena guru takut meleleh di jalan”.
Satirnya, panas ini membuat dokter-dokter sibuk: dehidrasi, heatstroke, dan kulit gosong seperti ayam bakar.
Lalu, bagaimana dengan pariwisata? Semarang punya Lawang Sewu yang angker, tapi sekarang angkernya kalah sama panasnya. Wisatawan datang, foto-foto sebentar, lalu lari ke mall ber-AC di belakang Lawang Sewu.
“Semarang panas banget😭👍 biasa di suhu 16° tb tb ke 33° shock parah, berakhir pada ngadem di mall padahal agendanya ke Lawang Sewu😭😭”
Satir politiknya juga menggelitik. BMKG bilang suhu maksimum harian di Surabaya, Semarang, Yogyakarta, sampai 34 derajat lebih, dan jangan sembarangan bakar sampah. Tapi di Semarang, sampah sudah “membakar” sendiri karena panas! Pemerintah daerah pasti lagi sibuk: reboisasi, tanam pohon, tapi pohonnya juga protes, “Kak, panas banget, aku mau ke gunung.”(HS)