DI tengah lanskap pedesaan Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, berdiri sebuah tinggalan batu yang nyaris luput dari perhatian sejarah resmi.
Warga Desa Kemiri, mengenalnya sebagai umpak di Punden Mbah Keramat. Bagi masyarakat setempat, tempat ini lebih dekat dengan wilayah sakral bernuansa mistis ketimbang sebagai artefak arkeologis. Namun, di balik lapisan mitos dan cerita tutur, tersimpan sebuah petunjuk penting tentang jejak peradaban Hindu di kawasan ini: sebuah yoni.
Yoni tersebut kini berdiri sendiri. Pasangannya, lingga, telah lama hilang, entah karena rusak dimakan usia, dipindahkan, atau lenyap akibat ulah manusia. Padahal, dalam kosmologi Hindu, lingga dan yoni merupakan satu kesatuan tak terpisahkan, simbol persatuan energi maskulin dan feminin, sekaligus lambang kesuburan, penciptaan, dan harmoni kosmik. Keberadaan yoni tanpa lingga bukan hanya menunjukkan kehilangan fisik sebuah artefak, tetapi juga keterputusan pemahaman atas makna spiritualnya.
Secara bentuk, yoni di Punden Mbah Keramat tergolong sederhana. Tidak ditemukan ornamen khas yang lazim dijumpai pada yoni-yoni dari masa klasik Hindu-Jawa, seperti hiasan arca naga atau kura-kura di bawah cerat pancuran. Cerat yoni memang masih tampak, tetapi bagian bawahnya polos, seolah tidak pernah diberi dekorasi, atau kemungkinan besar hiasannya telah rusak dan hilang. Kesederhanaan ini menimbulkan dua kemungkinan: yoni ini memang dibuat dengan desain minimalis, atau telah mengalami degradasi akibat waktu dan perlakuan manusia.
Hal menarik lainnya adalah bentuk lubang pengunci lingga pada yoni tersebut. Alih-alih berbentuk bujur sangkar sebagaimana lazimnya, lubang ini justru mendekati lingkaran. Bentuk yang tidak lazim ini memunculkan dugaan adanya vandalisme, atau penggunaan ulang (reuse) oleh warga di masa lalu. Dalam ingatan masyarakat, lokasi ini pernah dimanfaatkan sebagai area pertanian atau tempat aktivitas air. Penggunaan fungsional semacam itu sangat mungkin mengubah bentuk asli yoni, mengikis sudut-sudutnya hingga membulat.
Sayangnya, hingga kini belum ditemukan sumber tertulis atau kajian arkeologis yang secara pasti menjelaskan asal-usul yoni ini. Pengetahuan yang beredar di masyarakat lebih banyak bersandar pada cerita tutur, yang justru mengaitkan situs tersebut dengan narasi Islamisasi Jawa. Yoni ini kerap dipercaya sebagai umpak bangunan dari era Wali Songo, bahkan secara spesifik dikaitkan dengan Sunan Kalijaga. Klaim semacam ini menarik, namun problematis. Tidak hanya karena minim bukti material, tetapi juga karena secara morfologis, batu tersebut jauh lebih dekat dengan tradisi Hindu daripada konstruksi arsitektur Islam awal di Jawa.
Penafsiran ulang artefak Hindu sebagai peninggalan tokoh Islam bukanlah hal baru. Fenomena ini kerap terjadi seiring proses Islamisasi yang panjang, di mana situs-situs lama diberi makna baru agar tetap relevan dalam lanskap kepercayaan masyarakat. Dalam konteks Desa Kemiri, yoni yang kemudian disebut sebagai Punden Mbah Keramat menunjukkan bagaimana lapisan-lapisan sejarah saling menindih, sementara fase yang lebih tua perlahan memudar dari ingatan kolektif.
Ketiadaan temuan struktur bangunan candi di sekitar yoni sering dijadikan alasan untuk meragukan fungsinya sebagai sarana pemujaan Hindu. Namun, absennya sisa bangunan bukan serta-merta meniadakan keberadaan sebuah situs ritual.
Bangunan Candi
Bisa jadi bangunan pendukungnya terbuat dari material yang mudah lapuk, atau telah dibongkar dan digunakan ulang oleh masyarakat di masa berikutnya. Informasi dari warga tentang keberadaan watu lumpang di sekitar lokasi, meski kini telah rusak, justru menguatkan indikasi aktivitas ritual atau permukiman kuno di kawasan tersebut.
Lebih jauh, Desa Kemiri tidak berdiri sendiri dalam konteks sejarah. Di wilayah sekitarnya, seperti Desa Glapan, ditemukan banyak komponen batu yang diduga kuat merupakan bagian dari bangunan candi. Temuan-temuan itu berserakan, tak terawat, dan sebagian rusak di sebuah pemakaman warga, seolah menjadi saksi bisu dari sebuah peradaban yang pernah hidup, berkembang, lalu ditinggalkan tanpa sempat dicatat secara layak. Kuat dugaan, di sekitar area itu dulunya pernah ada permukiman yang menandakan ada peradaban kuno yang telah tumbuh di sana.
Dengan demikian, yoni di Desa Kemiri dan Glapan bukan sekadar batu tua yang disakralkan. Ia adalah penanda sejarah, bukti bahwa wilayah Gubug pernah tersentuh pengaruh Hindu pada masa kejayaannya, besar kemungkinan sebelum era kejayaan Kesultanan Demak. Bia jadi, di era Mataram Kuno.
Keberadaannya menantang kita untuk melihat ulang narasi sejarah lokal, tidak semata melalui mitos atau keyakinan religius masa kini, tetapi melalui pembacaan kritis atas bentuk, fungsi, dan konteks budaya artefak tersebut.
Tanpa upaya pendokumentasian dan kajian serius, yoni ini akan terus terjebak di antara dua dunia: dunia mitos dan dunia sejarah yang belum selesai ditulis. Padahal, justru dari artefak sederhana inilah, kisah panjang peradaban di tanah Gubug dapat dirangkai kembali, sebelum benar-benar hilang ditelan waktu.(HS)


