HALO KENDAL – Warga penghuni Rusunawa Kebondalem Kabupaten Kendal antusias mengikuti bazar sembako beli bayar pakai sampah, Rabu (26/3/2025). Kegiatan diinisiasi Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) dan Forum Alumni HMI Wati (Forhati) Kendal.
Tak pelak ratusan warga penghuni rusunawa di blok A, B dan C semangat membawa sampah berupa kardus, botol galon, buku dan botol minuman instan dan sampah lainnya.
Sampah-sampah tersebut telah mereka pilah dengan baik, karena sebelumnya telah diberikan pemahaman lewat koordinator dan pengurus rusunawa.
Sampah yang dibawa minimal seberat 3 kilogram, kemudian ditukar dengan selembar voucher atau kupon. Selanjutnya voucher dapat ditukar dengan paket sembako.
Ketua KAHMI Kendal, DR Ali Martin mengatakan, kegiatan digelar bertujuan untuk meringankan warga rusunawa, sekaligus untuk memberikan edukasi kepada warga, supaya sadar terhadap sampah.
“Ya karena Kabupaten Kendal saat ini sudah dalam kondisi darurat sampah. Sehingga kami berkolaborasi dengan Bank Sampah Induk (BSI) Kendal dan juga dinas-dinas terkait untuk menggelar edukasi tentang pengelolaan sampah sekaligus bakti sosial di rusunawa,” ujarnya.
Ali Martin menambahkan, dalam kegiatan dari Forhati juga menyalurkan bantuan modal kepada empat pelaku usaha kecil perempuan.
Salah seorang warga Rusunawa Kebondalem Kendal Mak Sarmi, yang juga pedagang pasar Kendal mengaku senang bisa mengikuti kegiatan tukar sampah dengan sembako tersebut. Bahkan ia mengaku dulu pernah menabung di bank sampah Pasar Kendal dan setahun mendapat tabungan Rp 500.000.
“Dengan sampah yang dikumpulkan dan dipilah dari rumah, jadi sampahnya bisa bersih dan ternyata bisa bermanfaat, serta dapat sembako,” ungkapnya.
Sementara Nunuk Sarah Zenubia, Ketua Bank Sampah Induk (BSI) Kendal menyampaikan edukasi pengelolaan sampah. Pada dasarnya setiap orang adalah produsen sampah, menghasilkan sampah minimal 0.5 kilogram sehari dan harus memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikannya
“Volume sampah di Kabupaten Kendal mencapai 170 ton per hari dan baru dapat diselesaikan sebesar 41 persen. Komposisi sampah terbanyak adalah organik dan sisa makanan, kedua adalah sampah plastik yang meningkat dalam 20 tahun terakhir,” ujar Zenubia.
Tindaklanjut kegiatan, nantinya akan dibentuk unit bank sampah di rusunawa dengan program nabung sampah tukar emas. Supaya bisa digunakan buat bayar sekolah, yang kelak meningkatkan SDM dan menambah penghasilan keluarga di rusunawa. (HS-06)