in

Umat Buddha Semarakkan Vesakha Sananda dengan Aksi 3R dan Bersih Rumah Ibadah

Umat Buddha bersih-bersih rumah Ibadah. (Foto : kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Menyambut Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE, segenap umat Buddha bersama ASN Ditjen Bimas Buddha, menggelar aksi nyata bertajuk Ekoteologi.

Kegiatan ini diwujudkan melalui gerakan Reduce, Reuse, Recycle (3R), aksi bersih Rumah Ibadah Agama Buddha (RIAB), Dhammasekha, Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB), hingga tradisi Fang Shen, belum lama ini.

Membuka gerakan serentak di STAB Maha Prajna Jakarta, Direktur Jenderal Bimas Buddha, Supriyadi, menegaskan bahwa penguatan ekoteologi, adalah bentuk nyata implementasi ajaran agama yang berdampak luas bagi bangsa dan negara.

Baginya, menyongsong Waisak pada 31 Mei mendatang harus diisi dengan aktivitas yang memperkokoh diri sekaligus menambah sukacita.

“Karena itulah kami Ditjen Bimas Buddha, telah menggelorakan sebuah semangat menyemarakkan Waisak dengan gerakan sebulan persiapan-persiapan yang kita sebut dengan Vesakha Sananda,” ujar Supriyadi, seperti dirilis kemenag.go.id.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersiap diri melalui kegiatan yang bermaslahat.

“Ini semua sebagai sebuah penganda, mari kita siapkan diri kita. Kita semarakkan Hari Raya Waisak itu dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat yang nantinya akan membawa kebahagiaan sukacita,” tambahnya.

Implementasi

Gerakan ini juga menjadi langkah konkret dalam menjalankan Surat Edaran Menteri Agama Nomor 10 Tahun 2025 tentang kepedulian lingkungan. Supriyadi menjelaskan, rangkaian program telah dimulai dari pelatihan eco enzyme yang puncaknya akan dilaksanakan pada 10 Mei mendatang.

Terkait aksi 3R hari ini, Dirjen menekankan pentingnya pengendalian diri dalam konsumsi barang sehari-hari.

“Artinya apa? Mari kita kurangi konsumsi-konsumsi yang kurang bermanfaat. Mari kita kendalikan nafsu kita. Kita makan, kita gunakan barang-barang konsumtif secara terukur agar tidak menyisakan barang konsumtif yang kita konsumsi,” jelasnya.

Menurutnya, menjaga alam adalah bagian tak terpisahkan dari spiritualitas. “Karena itu Mari kita kirakan bersama-sama secara serentak baik di rumah ibadah, baik di satuan pendidikan, baik di rumah. Semoga kita semua dapat berkontribusi dalam rangka menjaga dan melestarikan alam semesta sebagaimana ajaran kita, bahwa kita tidak dapat hidup sendiri, kita dengan alam semesta senantiasa berkaitan,” ajak Dirjen.

Berlandaskan Sutta

Sekretaris Ditjen Bimas Buddha, Triroso, menyampaikan bahwa aksi serentak ini adalah bentuk sosialisasi ekoteologi yang akar ajarannya sudah tertanam kuat dalam kitab suci.

“Dan hari ini kita menyosialisasikan terkait juga ekoteologi, yaitu berkait dengan pelestarian lingkungan secara teologi, secara Buddhis, atau secara keyakinan lain. Berarti kita keyakinan secara Buddhis, tentu sebenarnya ekoteologi itu sudah ada di kita, di sutta-sutta juga sudah ada. Dalam Kūṭadanta Sutta juga sudah disebutkan,” tutur Triroso saat melakukan aksi bersih di Vihara Indraloka, Tangerang.

Apresiasi juga datang dari tingkat tapak. Ketua Vihara Dhamma Metta Cikarang, Sukarya, menyampaikan terima kasih atas kehadiran jajaran Kemenag yang tidak hanya melakukan aksi kebersihan dan Fang Shen, tetapi juga menyerahkan bantuan perlengkapan kebersihan.

Secara nasional, gerakan berbasis kepedulian lingkungan ini dilaksanakan serentak dengan melibatkan Organisasi Keagamaan Buddha (OKB) serta berbagai elemen umat. Aksi kebaikan ini tersebar di berbagai titik, mulai dari satuan pendidikan hingga vihara di kawasan Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. (HS-08)

Buka Rakerprov IPSI Jateng 2026, Ketum KONI: Momentum Titik Lenting Kejayaan Pesilat

Menag Bersama Ribuan Umat Jalan Santai 219 Tahun Keuskupan Agung Jakarta