HALO SEMARANG – Seorang tersangka teroris pendukung kelompok ISIS, berinisial MRW (22), menyerahkan diri ke kepolisian. Penyerahan diri itu diduga dilakukan lantaran yang bersangkutan merasa ketakutan.
MRW (22) juga mempertimbangkan proses penegakan hukum yang dilakukan kepolisian selama pengejaran.
“Iya (diduga takut). Mungkin dia tahu, ini teman-temannya yang lain dalam grup itu kan sudah kena (tertangkap),” kata Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Gatot Repli Handoko SIK, Jumat (20/5/2022), seperti dirilis Tribratanews.polri.go.id.
Menurut Gatot, penyidik kepolisian tetap akan memproses kasus-kasus dugaan pelanggaran tindak pidana terorisme yang dilakukan oleh MRW, meski telah menyerahkan diri.
“Tentunya lebih bagus kan menyerahkan diri. Sama dengan yang lain-lainnya yang masih tergabung, mungkin lebih bagus menyerahkan diri,” kata dia.
Penangkapan
Sebelumnya, Densus 88 antiteror Polri berhasil menangkap 24 tersangka teroris jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso dan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
Sebagian dari mereka telah berbaiat kepada pemimpin baru ISIS, yakni Abu Hasan al-Hashemi al-Qurashi.
“Di mana kita ketahui organisasi ISIS sudah memiliki pemimpin yang baru. Jadi beberapa orang ini telah melakukan baiat kepada pemimpin ISIS yang baru, yaitu Abu Hasan al-Hashemi al-Qurashi,” kata Karo Penmas Divhumas Polri, Brigjen Pol Dr Ahmad Ramadhan SH MH MSi, baru-baru ini.
Karo Penmas menambahkan bahwa para teroris juga kerap mengikuti pelatihan-pelatihan. Selain itu, mereka telah melakukan baiat kepada amirul mukminin.
“Secara umum mereka beberapa kali mengikuti kegiatan i’dad atau pelatihan-pelatihan, kemudian telah melakukan kegiatan baiat kepada amirul mukminin,” katanya.
Selanjutnya, para tersangka juga disebut membantu menyiapkan logistik amunisi di jaringan ini serta menyembunyikan informasi-informasi kegiatan tersebut.
“Kemudian memberikan dukungan kepada kelompok MIT Poso berupa berencana bergabung bersama kelompok MIT, kemudian membantu penyiapan logistik, termasuk logistik amunisi dan menyembunyikan informasi-informasi terkait dengan kegiatan MIT Poso itu sendiri,” kata Jenderal Bintang Satu itu. (HS-08)