HALO SRAGEN – Delegasi dari 12 negara, yakni Myanmar, Maroko, Aljazair, Gambia, Angola, Meksiko, Argentina, Brasil, Amerika Serikat, Lithuania, Perancis, dan tuan rumah Indonesia, menghadiri jamuan makan malam di Pendopo Sumonegaran, Rumah Dinas Bupati Sragen, Selasa (5/5/2026).
Kedatangan para peserta disambut langsung oleh Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, bersama Sekretaris Daerah Hargiyanto serta sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Sebelum menghadiri jamuan, para delegasi terlebih dahulu mengunjungi Sentra Industri Kerajinan dan Kreatif (SIKK) Sragen serta Pusat Batik Sragen untuk berbelanja produk lokal.
Dalam sambutannya, Bupati Sigit menyampaikan apresiasi atas kehadiran para delegasi, dalam rangka memperingati 30 tahun penetapan Situs Sangiran sebagai Warisan Dunia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) atau Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB.
“Atas nama masyarakat Sragen, saya mengucapkan selamat datang kepada seluruh delegasi dari 12 negara yang hadir di Sangiran,” kata dia, seperti dirilis sragenkab.go.id.
Ia menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk penghormatan terhadap kepercayaan dunia kepada Sangiran sebagai pusat sejarah manusia.
Sejak ditetapkan UNESCO pada 1996, Sangiran menjadi salah satu situs penting dunia dengan temuan lebih dari 50 persen fosil Homo erectus, termasuk Sangiran 17 yang berusia sekitar 1,2 juta tahun.
“Temuan ini menunjukkan bahwa sebelum kita mengenal batas-batas negara, kita semua merupakan bagian dari perjalanan manusia yang sama, yang salah satunya berawal dari Sangiran,” katanya.
Bupati Sigit juga menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam menjaga, meneliti, dan membagikan warisan tersebut kepada generasi mendatang.
Ia menyampaikan terima kasih atas kemitraan selama tiga dekade dengan UNESCO dan komunitas global, sekaligus mengajak semua pihak untuk terus memperkuat kerja sama dan riset di masa depan.
Sementara itu, perwakilan panitia HOH, Francois Semah, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Sragen atas dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan internasional, baik skala besar maupun kecil.
“Kami sangat terkesan dengan perhatian yang diberikan. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan mahasiswa dari berbagai negara, tetapi juga dari berbagai disiplin ilmu yang dapat bekerja sama secara positif di Sangiran,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas generasi dalam menjaga keberlanjutan Situs Sangiran, mulai dari akademisi senior hingga pelajar dan masyarakat lokal.
Menurutnya, meskipun langkah yang dilakukan mungkin terlihat kecil, upaya tersebut memiliki arti penting bagi masa depan Sangiran sebagai warisan dunia.
Acara ini menjadi momentum untuk mempererat hubungan internasional sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam pelestarian Situs Sangiran sebagai pusat pembelajaran sejarah manusia bagi dunia.
Salah satu peserta HOH asal Perancis, Elsa, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut. Ia menyampaikan rasa senangnya dapat belajar langsung tentang sejarah peradaban manusia di Situs Sangiran.
“Saya sangat senang bisa belajar sejarah peradaban di Sragen. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga dalam hidup saya,” ungkap Elsa.
Elsa juga mengungkapkan ketertarikannya terhadap produk lokal Sragen. Ia bahkan menyempatkan diri berbelanja cinderamata di SIKK.
“Harganya sangat terjangkau, dan saya membeli beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Perancis,” kata dia. (HS-08)


