DI pinggir Stadion Jatidiri, Semarang, sore itu angin bertiup pelan membawa aroma kopi tubruk dari warung pinggir lapangan. Para suporter Panser Biru dan Snex sudah mulai berkumpul kembali, bendera biru mengibarkan seperti ombak di pantai Marina.
Mereka bergumam soal mimpi: PSIS balik ke Liga 1 tahun depan. Tanggal 13 Desember 2025, posisi tim di Grup 2 Pegadaian Championship Liga 2 masih nempel di peringkat paling dasar, 10 dengan lima poin, cuma selangkah dari jurang degradasi ke Liga 3.
Ancaman itu nyata, seperti laporan resmi PSSI yang bilang tim terbawah tiap grup langsung turun kasta. Tapi pekan ini, ada kabar segar: tiga rekrutan baru resmi gabung, Tegar Infantrie, Gustur Cahyo Putro, dan Fahmi Al-Ayyubi. Disusul dua rekrutan baru, Wawan Febrianto dan Ocvian Chanigio. Seolah kopi panas disajikan di tengah hujan deras.
Perubahan besar ini dimulai sebulan lalu, saat saham mayoritas PSIS berpindah tangan dari Yoyok Sukawi ke Datu Nova Fatmawati. Wanita asal Semarang itu, istri Faris Julinar Bau Risau, pemilik Belikopi Baru Kamu, langsung ambil alih 74,2 persen saham PT Mahesa Jenar Semarang.
Transaksi itu resmi diumumkan 18 November 2025, lewat konferensi pers singkat di Semarang. Yoyok, yang pegang kendali selama bertahun-tahun, melepas sahamnya setelah PSIS terperosok di Liga 2 musim ini. Bukan rahasia, performa tim anjlok: dari klub menakutkan di Liga 1 2023/2024, kini jadi tim tersingkir dari perebutan promosi.
Datu Nova janji rombak total. Suporter langsung heboh. Panser Biru dan Snex yang sebelumnya sangat vokal tuntut manajemen lama mundur, seakan langsung ada jawaban dari alam.
Harapan mereka sederhana: selamat dari degradasi dulu, baru mikir Liga 1. Datu Nova paham itu. Sebagai pengusaha kopi yang cabangnya nyebar dari Solo sampai Jakarta, dia tahu resep sukses: campur biji premium, tambah gula secukupnya, aduk pelan. Maka, rekrutmen pemain dan pelatih jadi langkah pertama.
Harapan
Pelatih Jafri Sastra didatangkan. Tiga pemain baru Tegar Infantrie, Gustur Cahyo Putro, dan Fahmi Al-Ayyubi dirilis, 5 Desember 2025 via situs resmi PSIS, lengkap foto seragam biru. Disusul rilis datangnya dua pemain tambahan, Wawan Febrianto dan Ocvian Chanigio 12 Desember 2025.
CEO klub, yang sekarang di bawah arahan Datu Nova, bilang: “Mereka seperti kafein buat tim yang lagi ngantuk.”
Lucunya, klub juga lepas empat pemain muda potensial, seperti cuci gudang stok lama. Sepertinya masih akan ada tambahan beberapa pemain baru lagi.
Tapi tunggu dulu, cerita rekrutmen ini tak cuma soal harapan. Di baliknya, ancaman degradasi masih mengintai: PSIS butuh tiga poin untuk menyalip dua klub di atasnya, Persipal dan Persiku Kudus di peringkat sembilan dan delapan, batas aman.
Laga sisa di putaran kedua mulai Januari 2026, lawan berat seperti PSS dan Barito Putra. Tapi dengan Datu Nova, ada janji konkret: perombakan tim, tambah akademi muda, plus sponsor kopi gratis buat pemain.
Para kelompok suporter bilang: “Kita tunggu bukti di lapangan, bukan cuma aroma.”
Karena di balik harapan, ada fakta: PSIS pernah juara Liga 1 1999, tapi sejak degradasi 2024, penonton ogah datang ke stadion. Datu Nova paham taruhannya. Sebagai istri Faris yang sukses di Persela, dia tak mau PSIS jadi cabang kopi yang gagal jualan. Selain rugi finansial, juga akan datang banyak cemoohan.
Tahun 2026 sebentar lagi, dengan hembusan angin baru dari belikopi. Mungkin performa skuad PSIS akan naik lagi, dengan pasukan tempur baru dan suporter nyanyi kencang di stadion.
Atau, kalau sial, degradasi datang seperti kopi tumpah: lengket, susah dibersihkan.
Selamat berjuang Laskar Mahesa Jenar, jangan sampai jadi kopi hambar kualitas rendahan.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)