MENJELANG Ramadan, iklan sirup mulai bermunculan, jadwal buka puasa dibagikan di grup keluarga, dan niat hidup lebih lurus diumumkan dengan penuh keyakinan.
Ramadan memang punya reputasi sebagai bulan penertiban diri. Mulut ditahan, perut dikondisikan, emosi diatur. Sayangnya, tidak semua bagian bangsa ikut puasa. Terutama yang gemar menyentuh anggaran pemerintah.
Ramadan hadir setiap tahun sebagai pengingat kolektif bahwa menahan diri itu mungkin. Kalau lapar saja bisa ditunda, mestinya keinginan menumpuk harta juga bisa diajak kompromi.
Namun, di negeri ini, puasa sering berhenti di urusan nasi dan kolak. Urusan moral, kerap tetap lengkap dengan lauk keserakahan.
Data penindakan korupsi dari lembaga penegak hukum selama bertahun-tahun menunjukkan satu pola yang sulit dibantah: banyak kasus bermula dari nafsu yang dibiarkan tumbuh tanpa rem.
Bukan karena gaji kurang, melainkan karena “kurang puas”. Inilah bentuk kelaparan yang tidak bisa diselesaikan dengan sahur atau menu buka. Ia lapar kuasa, lapar pengaruh, dan lapar pengakuan.
Dalam khotbah Jumat, keserakahan sering disebut sebagai penyakit hati. Dalam praktik birokrasi, ia kadang diperlakukan sebagai strategi.
Ironisnya, semua tahu itu salah, tetapi tetap dijalani dengan wajah tenang. Ramadan pun datang, memberi jeda. Sayang, jeda itu sering diartikan sebagai waktu istirahat, bukan waktu berhenti.
Kadang di titik ini, puasa Ramadan hanya berubah fungsi. Ia tak lagi menjadi latihan menahan diri, melainkan jadi latar foto untuk pencitraan kesalehan.
Padahal, esensi Ramadan sederhana: mengerem. Mengurangi. Menyadari batas.
Prinsip yang sama berlaku di ruang publik. Kekuasaan tanpa rem melahirkan kebijakan serampangan. Anggaran tanpa kendali melahirkan laporan keuangan yang penuh kreativitas. Rakyat diminta hemat, sementara sebagian pejabat justru sibuk menghitung sisa.
Di sisi lain, masyarakat pun tidak sepenuhnya bebas dari tanggung jawab. Ramadan sering membuat kita lebih mudah tersentuh secara emosional, tetapi juga lebih mudah terprovokasi.
Isu apa pun yang lewat di linimasa langsung ditelan mentah-mentah. Marah dulu, cek belakangan. Padahal, kebijaksanaan juga bagian dari ibadah sosial. Menahan jari sama pentingnya dengan menahan lidah.
Fenomena bangsa ini memang rumit. Ada pejabat yang rajin hadir di acara keagamaan, tetapi absen dalam laporan pertanggungjawaban. Ada pula warga yang rajin mengutuk korupsi, tetapi masih senang menyelipkan amplop kecil demi urusan cepat selesai. Ramadan memberi kesempatan untuk bercermin, meski pantulannya sering tidak nyaman.
Setiap kali kasus korupsi terbongkar, respons publik nyaris seragam. Kaget sebentar, marah sebentar, lalu lelah. Seolah korupsi adalah hujan deras: dikeluhkan, tetapi dianggap bagian dari cuaca.
Ramadan seharusnya memutus siklus itu. Bukan dengan ceramah panjang, melainkan dengan kesadaran kolektif bahwa ketamakan bukan takdir.
Secara historis, ajaran puasa selalu dikaitkan dengan empati. Merasakan lapar agar paham derita orang lain. Dalam konteks kekuasaan, empati berarti sadar bahwa setiap rupiah yang diselewengkan punya wajah.
Ia bisa berupa sekolah yang atapnya bocor, puskesmas yang kekurangan alat, atau kerusakan jalan yang tak kunjung selesai. Sayangnya, wajah-wajah itu sering kalah oleh angka di rekening.
Menahan diri tidak sebatas dari makan dan minum, tetapi juga dari sikap berlebihan dalam menyikapi masalah bangsa.
Kita butuh kewarasan bersama agar tidak terjebak dalam siklus marah tanpa arah, atau rakus tanpa puas.
Bulan puasa memberi ruang untuk menata ulang cara pandang. Bahwa bangsa ini tidak akan selesai hanya dengan mencaci pejabat, atau berharap semua berubah sendiri.
Ada peran kecil yang bisa dijalani: jujur dalam pekerjaan, adil dalam keputusan, dan tidak ikut merayakan kelicikan. Apalagi memelihara ketamakan. Peran kecil ini memang tidak viral, tetapi justru itulah inti moralitas.
Menjelang Ramadan, spanduk-spanduk ucapan selamat kembali terpasang. Kata “suci” ditulis besar-besar. Tantangannya sederhana: jangan sampai kesucian berhenti di spanduk. Puasa tidak boleh kalah oleh lemari es yang penuh. Iman tidak boleh kalah oleh godaan proyek.
Jika lapar bisa ditunda hingga magrib, mestinya ketamakan juga bisa diajak berhenti. Kalau itu berhasil, mungkin bangsa ini tak perlu terlalu sering berpuasa dari keadilan. (Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)


