in

Bajong Banyu, Perang Air Penuh Tawa Warga Dawung Sambut Ramadan

Tradisi Padusan dan Bajong Banyu dalam rangka menyambut bulan Ramadan di Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang.

MENJELANG datangnya bulan suci Ramadan, warga Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, kembali menghidupkan tradisi lama yang sarat makna: Bajong Banyu, perang air sebagai bagian dari ritual padusan.

Plastik-plastik berisi air beterbangan di udara. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa berlarian, saling menyiram tanpa sekat. Tak ada wajah marah, apalagi dendam—yang tersisa hanya gelak tawa dan kegembiraan bersama. Beginilah cara warga Dawung membersihkan diri, bukan hanya secara raga, tetapi juga hati, sebelum memasuki Ramadan.

Padusan, bagi warga Dawung, bukan sekadar mandi bersama. Ia adalah simbol penyucian diri, sekaligus momentum mempererat tali silaturahmi antarwarga. Tradisi ini diwariskan turun-temurun, lalu diberi sentuhan kreatif oleh generasi muda.

“Dulu masyarakat Dawung setiap menjelang Ramadan melakukan padusan di Sungai Progo atau sumber air lain. Kemudian remaja dusun mengemasnya menjadi tradisi padusan yang dipadukan dengan kegiatan seni,” tutur Sekretaris Desa Banjarnegoro, Sarjoko, di sela kegiatan.

Menurut Sarjoko, meski tampak seperti perang, Bajong Banyu justru mengajarkan nilai kebersamaan dan pengendalian emosi. Air yang dilempar bukan simbol kemarahan, melainkan pelepasan rasa iri dan dendam.

“Filosofinya sederhana. Dengan saling lempar air, iri dan dendam diluruhkan. Dibalas bukan dengan amarah, tetapi dengan tawa,” jelasnya.

Setelah tubuh basah dan tawa puas dilepaskan, rangkaian tradisi berlanjut hingga malam hari. Warga kembali berkumpul menikmati pentas seni tari dari desa dan dusun sekitar. Budaya dan kebersamaan menyatu, menciptakan suasana hangat menjelang Ramadan.

“Tradisi ini harus terus dirawat. Selain bermakna secara spiritual, juga menjadi daya tarik budaya yang khas,” imbuh Sarjoko.

Antusiasme tak hanya datang dari orang dewasa. Anak-anak pun larut dalam keseruan Bajong Banyu. Farid, salah satu peserta cilik, mengaku tak pernah absen mengikuti tradisi ini.

“Seru banget. Ini sudah yang ketiga kali saya ikut. Bajunya basah semua, tapi senang. Tidak ada yang marah, orang tua juga tidak melarang,” ujarnya dengan mata berbinar.

Di Dawung, air tak hanya membersihkan tubuh, tetapi juga menyejukkan hubungan antarwarga. Bajong Banyu menjadi pengingat bahwa menyambut Ramadan bisa dilakukan dengan cara sederhana, penuh kegembiraan, kebersamaan, dan hati yang lapang.(HS)

Ribuan Hektare Sawah di Grobogan Terdampak Banjir, Pemprov Dampingi Petani Ajukan Asuransi Gagal Panen

Puasa dan Nafsu Pejabat yang Tak Ikut Imsak