in

Nguri-uri Budaya Warisan Nenek Moyang, Masyarakat Desa Lencoh Boyolali Gelar Ritual Sedekah Gunung Merapi

 

HALO BOYOLALI – Warga dan pemerintah Desa Lencoh, Kecamatan Selo, menyambut datangnya bulan Sura, dengan menggelar ritual Sedekah Gunung Merapi, yakni mempersembahkan kepala kerbau ke puncak Gunung Merapi.

Ritual rutin tahunan untuk memelihara kekayaan budaya itu, berlangsung di Joglo Mandala Selo, dihadiri Wakil Bupati (Wabup) Boyolali, Wahyu Irawan;  Kapolres Boyolali AKBP Petrus Parningotan Silalahi; Komandan Kodim 0724/Boyolali Letkol Wiweko Wulang Widodo; Kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Boyolali; serta Kepala Desa se – Kecamatan Selo.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Boyolali,  Budi Prasetyaningsih, seperti dirilis boyolali.go.id, Minggu (7/7/2024) menjelaskan Ritual Sedekah Gunung Merapi dilaksanakan dengan beberapa rangkaian acara.

Diawali dengan Festival Tari Rakyat, yang mementaskan 10 kelompok kesenian mulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

Acara kemudian dilanjutkan dengan wayang kulit, mulai pukul 20.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB.

Pergalaran wayang dihentikan sejenak, karena diisi dengan ritual pemberangkatan kepala kerbau ke puncak Merapi.

Segera setelah kepala kerbau diberangkatkan ke puncak Merapi, acara dilanjutkan dengan pementasan wayang kulit lagi.

Adapun prosesi pemberangkatan kepala kerbau untuk dibawa kepuncak gunung, diawali dengan doa-doa dan kemudian diserahkan oleh Wabup Iwan, kepada Kepala Desa Lencoh yang kemudian dibawa naik ke puncak gunung Merapi.

Jarak puncak gunung itu dengan Joglo Mandala Desa Lencoh, sejauh 10 kilometer dan biasa ditempuh selama empat jam pendakian.

Usai pemberangkatan kepala kerbau, gunungan-gunungan bersusun hasil bumi seperti umbi-umbian akan diperebutkan oleh masyarakat Desa Lencoh.

Menurut kepercayaan masyarakat, hasil bumi yang didapatkan akan membawa berkah bagi mereka.

“Dengan nguri-uri budaya itu artinya kita juga menarik wisatawan untuk hadir di Kabupaten Boyolali, selain itu tentunya hal seperti ini baik kita lakukan karena dampaknya masyarakat disini jadi lebih guyub karena pelaksanaan ini adalah kolaborasi antara pemerintah dengan masyarakat Desa Lencoh.” katanya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Lencoh, Hardi, ritual ini sudah ada sejak jaman nenek moyang mereka yang masih dilestarikan. Menurutnya, hal ini wajib dilakukan agar masyarakat Desa Lencoh selalu diberi keselamatan karena Gunung Merapi adalah gunung yang masih aktif.

“Kepercayaan masyarakat sini yang jelas tidak berani untuk meninggalkan ritual seperti ini karena ritual ini merupakan kepercayaan yang harus dilaksanakan untuk mohon keselamatan karena gunung Merapi merupakan salah satu gunung berapi yang aktif,” terangnya. (HS-08)

Sambut Bulan Sura, Masyarakat Sragen Gelar Tradisi Larap Slambu di Gunung Kemukus

Pascagempa M 4,4, Pj Bupati Batang Tetapkan Tanggap Darurat