DI balik hiruk-pikuk Jalan Pemuda Semarang, tersimpan jejak sejarah yang menghubungkan kabar kemerdekaan, pergerakan pemuda, hingga pertempuran berdarah pada Oktober 1945. Jalan yang dahulu dikenal sebagai Jalan Bodjong itu bukan sekadar jalur penghubung kota, melainkan saksi perebutan senjata, pergerakan pasukan, pertahanan pejuang, dan penderitaan warga dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang.
Lapisan sejarah tersebut akan ditelusuri kembali melalui kegiatan Napak Tilas Pertempuran Lima Hari di Semarang. Dalam format walking tour, peserta diajak menyusuri Jalan Bodjong sekaligus mengunjungi sejumlah lokasi yang berkaitan dengan pergolakan pada Oktober 1945.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pameran “DARI SEMARANG KITA MULAI” – Pameran Pertempuran Lima Hari di Semarang, yang berlangsung di Rumah PoHan, Jalan Kepodang Nomor 64, Kawasan Kota Lama Semarang, pada 15–20 Oktober 2026.
Jalan Bodjong memiliki arti penting dalam sejarah kemerdekaan Semarang. Kabar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dibacakan Soekarno dan Mohammad Hatta di Jakarta pada 17 Agustus 1945, menurut catatan sejarah yang menjadi dasar kegiatan ini, diterima di Semarang melalui Kantor Domei Semarang dan Gedung Jawa Hokokai di kawasan tersebut, hanya sekitar satu jam setelah proklamasi dibacakan.
Artinya, kawasan Bodjong telah menjadi bagian dari arus awal penyebaran kabar kemerdekaan sebelum kemudian berkembang menjadi salah satu koridor penting dalam pergolakan bersenjata di Semarang.
Memasuki Oktober 1945, ketegangan meningkat seiring upaya pemuda dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) melucuti senjata tentara Jepang. Markas polisi Jepang di kawasan Bodjong menjadi salah satu sasaran. Sementara itu, Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) yang dipimpin Bambang Soeprapto bermarkas di Jalan Bodjong Nomor 89.
Pada malam 14 Oktober 1945, sekitar 400 orang Jepang yang dipindahkan dari Cepiring singgah di Gedung Bekas Pendidikan Pelayaran. Kekacauan yang kemudian berkembang menjadi bentrokan memicu pergerakan para pemuda untuk menyiapkan pertahanan. Kabar mengenai kejadian itu juga diterima kelompok pemuda yang berkumpul di markas AMRI di Bodjong 89.
Situasi semakin genting pada dini hari 15 Oktober 1945. Sekitar pukul 03.30 WIB, pasukan Kido Butai bergerak dari Jatingaleh menuju pusat kota. Serangan kemudian meluas ke sejumlah titik strategis di sepanjang koridor Bodjong.
Markas Polisi Istimewa diserang, disusul gedung Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) yang digunakan sebagai markas Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) di Lawang Sewu. Pasukan Jepang selanjutnya bergerak menyusuri Jalan Bodjong menuju kantor perusahaan listrik ANIEM, gedung BPM yang kini menjadi Kantor Pertamina, hingga Hotel Du Pavillon yang sekarang dikenal sebagai Hotel Dibya Puri.
Di sepanjang jalur tersebut, kekerasan menimbulkan korban jiwa. Puluhan anggota Polisi Istimewa dilaporkan terbunuh di bekas Markas Kempetai, yang kini menjadi Museum Mandala Bhakti. Di Lawang Sewu, para pemuda AMKA menjadi korban eksekusi. Kekerasan juga menimpa anggota AMRI dan penghuni Hotel Du Pavillon.
Hotel Du Pavillon menjadi salah satu titik penting pertahanan pemuda. Bangunan tersebut terlibat dalam pertempuran sengit ketika pasukan Jepang menyerang dari arah Kauman, Kranggan, dan Duwet. Para pemuda bertahan hingga kehabisan amunisi dan akhirnya meninggalkan bangunan itu. Pada 17 Oktober 1945, sebagian besar titik strategis di Semarang, termasuk hotel tersebut, telah dikuasai pasukan Jepang.
Dampak pertempuran tidak berhenti pada jatuhnya korban jiwa. Kehidupan kota ikut berubah. Gedung Warta Indonesia mengalami kerusakan, bahkan huruf-huruf percetakannya dilaporkan berserakan di jalan. Sejumlah toko di sepanjang Bodjong rusak dengan kaca-kaca yang pecah.
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa Pertempuran Lima Hari bukan semata-mata peristiwa militer. Pertempuran juga berlangsung di ruang kerja, kantor, hotel, percetakan, pertokoan, jalan raya, dan lingkungan tempat tinggal warga. Bangunan-bangunan kota menjadi saksi bagaimana perjuangan kemerdekaan bersinggungan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Berbagai lapisan sejarah itulah yang ingin dihadirkan kembali melalui kegiatan napak tilas. Peserta tidak sekadar diajak mengenali bangunan bersejarah, tetapi juga memahami kaitan antara lokasi, kronologi peristiwa, kelompok yang terlibat, serta pengalaman manusia yang membentuk sejarah kota.
Kegiatan ini akan semakin menarik dengan keterlibatan para historical reenactor dari sejumlah kota, antara lain Surabaya, Temanggung, Surakarta, dan Klaten. Mereka akan mengenakan pakaian, seragam, perlengkapan, serta atribut yang disesuaikan dengan unsur masyarakat dan kelompok yang terlibat dalam peristiwa 1945.
Kehadiran para reenactor di sepanjang rute diharapkan memberikan pengalaman visual yang membantu peserta memahami suasana historis pada masa itu. Bangunan yang selama ini dikenal melalui foto, arsip, atau buku sejarah akan dibaca kembali melalui penggambaran manusia dan kelompok sosial yang pernah bergerak, bertahan, serta mengalami pergolakan di tempat yang sama.
Dalam kegiatan ini, historical reenactment tidak sekadar menjadi pertunjukan, melainkan bagian dari pengalaman belajar sejarah. Pendekatan tersebut diharapkan membuat kisah Pertempuran Lima Hari lebih dekat dengan peserta, khususnya generasi muda.
Napak tilas akan dipandu Kesit Widjanarko, kurator pameran “DARI SEMARANG KITA MULAI” – Pameran Pertempuran Lima Hari di Semarang. Melalui perjalanan berjalan kaki, peserta diajak menelusuri hubungan antara bangunan, ruang kota, kronologi peristiwa, dan pengalaman masyarakat yang hidup di tengah pergolakan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya merawat ingatan kolektif warga Semarang. Sejarah Pertempuran Lima Hari tidak cukup dikenang melalui tanggal, nama tokoh, atau cerita dalam buku. Ingatan itu juga melekat pada jalan yang setiap hari dilalui, bangunan yang masih berdiri, serta ruang-ruang kota yang telah berubah fungsi.
Melalui napak tilas ini, Jalan Bodjong atau Jalan Pemuda dihadirkan kembali sebagai ruang sejarah yang dapat ditelusuri dan direnungkan bersama. Sebab, memahami sejarah kota bukan sekadar mengetahui apa yang terjadi pada masa lalu, melainkan juga mengenali jejak perjuangan, keberanian, kehilangan, dan pengorbanan yang membentuk kehidupan Semarang hari ini.
Napak tilas tersebut menjadi bagian dari rangkaian pameran “DARI SEMARANG KITA MULAI” – Pameran Pertempuran Lima Hari di Semarang, yang digelar di Rumah PoHan, Jalan Kepodang Nomor 64, Kawasan Kota Lama Semarang, pada 15–20 Oktober 2026.(HS)

