HALO SEMARANG – Ribuan masyarakat dan kafilah dari berbagai penjuru Indonesia memadati kawasan Lapangan Pancasila Simpang Lima, Sabtu (19/9/2026). Di atas panggung, musik Gambus Zabar Jada mengalun, sementara dari kerumunan warga terdengar suara-suara yang larut dalam suasana malam penutupan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026.
Selepas Magrib, suasana berganti. Qosidah Modern by Ezzura tampil membawa perpaduan nuansa religius dan musik modern.
Malam itu bukan sekadar penanda berakhirnya rangkaian MTQ Nasional yang berlangsung di Jawa Tengah. Simpang Lima menjadi panggung perpisahan bagi ribuan kafilah yang selama sepekan mengikuti perlombaan, berkenalan dengan kota, menikmati kuliner, hingga membawa pulang cerita dari Jawa Tengah.
Memasuki acara inti, ribuan mata tertuju pada panggung ketika Tarian Mutiara Tanah Jawa ditampilkan.
Gerak para penari membawa pesan mengenai kekayaan budaya Jawa, kelembutan budi pekerti, sekaligus nilai spiritual yang tumbuh dalam kehidupan masyarakatnya.
Prosesi penutupan kemudian ditandai dengan pemukulan bedug.
Sebuah bunyi yang sekaligus menjadi tanda berakhirnya perhelatan MTQ Nasional XXXI di Jawa Tengah.
Namun, malam itu juga menjadi awal bagi tuan rumah berikutnya. Menteri Agama menyerahkan Surat Keputusan Penetapan Tuan Rumah MTQ Nasional XXXII Tahun 2027 kepada Wakil Gubernur DKI Jakarta.
Estafet pun berpindah.
Jawa Tengah menutup pintu, Jakarta bersiap membuka panggung baru bagi para kafilah pada tahun berikutnya.
Di tengah malam penutupan, cerita tentang kemenangan menjadi salah satu bagian yang paling emosional.
Nur Aidila Fitriah dan Hakim Maulana, kafilah Kalimantan Timur, menjadi salah satu pasangan yang pulang dengan membawa kabar bahagia. Keduanya meraih Juara 1 kategori Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ) putra dan putri.
Bagi Nur Aidila, keberhasilan tersebut terasa sulit dipercaya. Apalagi, MTQ Nasional kali ini merupakan pengalaman pertamanya.
“Jujur kayak mimpi bisa ada di sini. Cuma ya, namanya perjuangan itu tidak pernah mengkhianati hasil,” ungkap Nur Aidila.
Tetapi yang dibawa pulang dari Jawa Tengah bukan hanya piala.
Ada pula kesan mengenai keramahan tuan rumah.
Menurut Nur Aidila, pelayanan panitia selama berada di Jawa Tengah membuat para peserta merasa diperhatikan. Berbagai kebutuhan peserta, termasuk ketika menghadapi kendala, disebut dapat diakomodasi dengan baik.
“Jawa Tengah sebagai tuan rumah alhamdulillah sangat maksimal. Semua panitianya ramah-ramah, kendala kita bisa diakomodir. Pokoknya panitia itu sangat peduli kepada peserta,” ujarnya.
Setelah melewati hari-hari penuh persiapan dan perlombaan, ia bahkan punya cara sederhana untuk merayakan keberhasilannya: menyantap ramen sebagai self reward.
Bukan hanya peserta yang mendapatkan pengalaman berkesan.
Salah seorang dewan hakim, Maulana, mengatakan fasilitas yang disiapkan panitia membuat mobilitas selama berada di Semarang menjadi lebih mudah.
Bahkan, ketika memiliki waktu luang, para peserta maupun dewan hakim mendapat kesempatan untuk mengenal sejumlah destinasi di Kota Semarang.
“Transportasi kita sangat dipermudah. Saat ada waktu kosong dan mau jalan-jalan, diizinkan dan dibantu transportasinya. Saya sudah mengunjungi Pantai Marina, Lawang Sewu, dan Kota Lama,” ujar Maulana.
Kesan positif juga disampaikan Ketua Kafilah Kalimantan Timur, Rudi Kartono.
Mewakili rombongannya, ia menilai penyelenggaraan MTQ Nasional tahun ini mampu mengakomodasi kebutuhan peserta selama berada di Semarang.
“Penyelenggaraan tahun ini kami nilai bagus, sangat bagus. Secara umum, semua dapat terakomodir dengan baik selama di Semarang ini,” tegasnya.
Cerita serupa datang dari Riyan Ahmad Fauzan, kafilah Jawa Barat yang mengikuti cabang KTIQ.
Menurut Riyan, keramahan panitia membuat suasana perlombaan terasa lebih nyaman dan khidmat.
Namun ada satu hal lain yang justru membuat pengalamannya di Semarang semakin berkesan: sapaan warga.
“Banyak masyarakat sekitar yang menyapa, bertanya asalnya dari mana. Itu menambah kesan menghidupkan nuansa saling kebersamaan di ranah MTQ Nasional ini,” ungkap Riyan.
Di sela perlombaan, Riyan juga menyempatkan diri mengunjungi Universitas Diponegoro (Undip) dan UIN Walisongo.
Ia berharap pengalaman selama berada di Jawa Tengah menjadi bekal untuk menghadapi MTQ Nasional berikutnya di Jakarta.
“Mudah-mudahan tahun 2027 bisa menjadi momentum yang lebih maksimal dan luar biasa lagi untuk menciptakan generasi Qurani yang akan datang,” harapnya.
Malam semakin larut. Setelah rangkaian seremoni dan kesan para kafilah, panggung Simpang Lima kembali berubah menjadi ruang hiburan. Letto Band tampil sebagai penutup.
Musik dan lirik puitis khas grup asal Yogyakarta itu mengiringi masyarakat dan kafilah menikmati menit-menit terakhir malam penutupan.
Simpang Lima yang sejak sore dipenuhi warga perlahan menjadi saksi perjalanan terakhir para kafilah di Jawa Tengah.
Ada yang pulang membawa piala. Ada yang membawa pengalaman.
Ada pula yang pulang membawa cerita tentang kota yang sempat menjadi rumah mereka selama sepekan.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah pusat yang telah memberikan kepercayaan kepada Jawa Tengah sebagai tuan rumah MTQ Nasional XXXI.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia serta pemerintah daerah yang terlibat dalam penyelenggaraan.
“Saya mewakili masyarakat Jawa Tengah mengucapkan terima kasih. Ini kolaborasi provinsi dengan Kota Semarang dan kabupaten/kota lain,” ucap Luthfi.
Malam itu, bedug telah dipukul. Estafet tuan rumah telah berpindah.
Tetapi cerita tentang MTQ Nasional di Jawa Tengah belum benar-benar selesai.
Ia akan tinggal dalam ingatan para kafilah yang pernah datang, bertanding, berjalan-jalan, berkenalan dengan warga, mencicipi kuliner, hingga akhirnya pulang membawa satu hal yang tak tercatat dalam daftar juara: kenangan tentang Jawa Tengah.(HS)


