KARYA seni rupa dari perupa Indonesia ternyata mampu menarik perhatian hingga ke Jerman. Salah satu buktinya datang dari karya Juan Widhiyanto, seniman asal Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, yang berhasil terjual dalam ARTe Kunstmesse Wiesbaden 2026 di Jerman.
Lukisan bertema persawahan karya Juan dibeli pengunjung dengan harga 1.500 Euro atau sekitar Rp 30 juta. Karya tersebut menjadi salah satu karya seniman Indonesia yang mendapat respons positif dalam pameran seni yang berlangsung pada 11-13 September 2026 itu.
Bagi Juan, transaksi tersebut bukan sekadar soal lukisan yang berpindah tangan. Ada kebanggaan tersendiri ketika karya yang lahir dari pengalaman dan lingkungan pedesaan Kendal mendapat tempat di hadapan publik seni internasional.
“Saya bersyukur karya lukisan bertema persawahan bisa menarik perhatian para pengunjung dan dibeli dengan harga 1.500 Euro atau sekitar Rp 30 juta. Ini menunjukkan bahwa orang desa asal Kabupaten Kendal juga mampu bersaing di kancah internasional,” ujar Juan.
Karya Juan menjadi bagian dari sekitar 54 karya yang dibawa Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) dalam pameran tersebut. Total ada 34 seniman Indonesia yang karyanya diperkenalkan kepada publik Jerman melalui ajang tersebut.
Founder NSIAP, Niluh Swati, mengatakan respons yang diterima selama pameran cukup positif. Ketertarikan tidak hanya datang dari pengunjung, tetapi juga kolektor, galeri, hingga komunitas seni setempat.
Ketertarikan itu terlihat dari pengunjung yang datang, berdiskusi mengenai karya, hingga melakukan pembelian. Sejumlah pihak bahkan membuka pembicaraan mengenai peluang kerja sama.
“Karya seni lukis yang dipamerkan banyak dikunjungi dari berbagai negara, dan ketertarikan terbesar datang dari kolektor Jerman. Tentunya ini menjadi referensi kami dan indikator yang penting, karena salah satu tujuan programnya adalah memperkenalkan karya seniman Indonesia secara langsung kepada pasar dan publik seni di Jerman,” ungkap Niluh kepada awak media, Kamis (17/9/2026).
Menurut Niluh, respons pengunjung juga terlihat dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika mereka mengamati karya para seniman Indonesia. Pengunjung tidak sekadar melihat visual lukisan, tetapi ikut menggali cerita di baliknya.
Mereka bertanya mengenai sosok seniman, teknik yang digunakan, latar belakang penciptaan karya, hingga cerita budaya yang menjadi sumber inspirasi.
Dari pengamatan selama pameran, sejumlah karakter karya mendapat perhatian cukup kuat. Di antaranya lukisan Bali, lanskap persawahan, karya realistik bertema alam, hingga lukisan wayang.
Beberapa karya bahkan mendapatkan perhatian khusus dari kolektor, di antaranya karya 1 Wayan Kaler, Zulfian Hariyadi, dan Juan Widhiyanto.
Menariknya, ketertarikan terhadap lukisan persawahan karya seniman Indonesia tidak berhenti pada transaksi pertama. Menurut Niluh, terdapat pengunjung yang meminta repeat order dengan tema serupa.
“Para pengunjung tidak hanya melakukan pembelian, namun terdapat pula permintaan repeat order terhadap karya dengan tema pemandangan sawah. Pesanan karya akan dibuatkan dengan tema dan komposisi berbeda, tetapi tetap mempertahankan karakter lanskap persawahan di wilayah Indonesia,” beber Niluh.
Bagi NSIAP, respons tersebut menjadi pengalaman penting karena karya-karya seniman Indonesia dapat berhadapan langsung dengan publik sekaligus pasar seni Eropa.
Niluh menilai penjualan memang menjadi salah satu indikator penting karena menunjukkan karya dapat diterima oleh pasar internasional. Namun, menurut dia, keberhasilan menembus pasar Eropa tidak semata diukur dari jumlah karya yang terjual.
Kepercayaan, reputasi, dan kualitas seniman juga menjadi bagian penting untuk membangun keberadaan karya Indonesia dalam ekosistem seni Eropa. Proses tersebut dinilai sebagai investasi jangka panjang bagi para seniman.
“Pameran di Wiesbaden membuka wawasan luas bagi para seniman Indonesia. Tidak sekadar untuk memamerkan hasil karya, namun juga membuka potensi besar dalam membaca respons pasar terhadap karakter karya seniman Indonesia ketika diperkenalkan secara langsung di pasar internasional,” kata Niluh.
Bagi Juan sendiri, pameran di Jerman bukan pengalaman pertamanya berhadapan dengan penikmat seni dari luar negeri. Sebelumnya, karya bertema pantai miliknya juga pernah dibeli oleh warga negara Jerman.
Sementara karya Juan bertema Nepal Van juga mendapat perhatian dari warga Malaysia dan dibeli bersama lima lukisan lainnya.
Pengalaman tersebut membuat Juan semakin yakin bahwa latar belakang daerah bukan penghalang bagi seorang seniman untuk memperkenalkan karyanya ke dunia internasional.
Dari persawahan Kendal hingga ruang pamer di Wiesbaden, lukisan Juan membawa cerita sederhana dari Indonesia ke hadapan publik Eropa. Sebuah cerita bahwa lanskap yang akrab bagi masyarakat desa ternyata bisa memiliki daya tarik ketika diterjemahkan ke dalam kanvas dan diperkenalkan di tempat yang jauh dari tanah kelahirannya.
Juan berharap pengalaman mengikuti pameran di Jerman dapat semakin memacu semangat para seniman Indonesia untuk meningkatkan kualitas karya.
“Semoga melalui pameran yang dilaksanakan di Jerman ini semakin menambah semangat dan meningkatkan kualitas karya para seniman agar bisa terus bersaing di kancah internasional,” ujarnya.(HS)


