HALO SEMARANG – Gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Kota Semarang telah berakhir. Namun, Jawa Tengah meninggalkan catatan manis setelah kafilahnya melesat ke posisi runner-up, setelah pada MTQ Nasional sebelumnya di Kalimantan Timur hanya menempati peringkat ke-16.
Capaian tersebut menjadi salah satu kejutan dalam perhelatan MTQ Nasional yang resmi ditutup di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, Sabtu (19/9/2026) malam.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut lonjakan prestasi tersebut merupakan hasil dari persiapan serius dan kerja keras seluruh kafilah.
“Alhamdulillah. Jawa Tengah sukses. Dari peringkat 16 menjadi peringkat dua nasional. Ini usaha yang luar biasa sekali,” kata Luthfi seusai penutupan MTQ Nasional XXXI.
Menurut dia, pencapaian tersebut tidak terlepas dari pembinaan yang dilakukan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen selaku ketua lembaga tersebut.
Persiapan para kafilah, kata Luthfi, dilakukan jauh sebelum mereka tampil di arena perlombaan. Para peserta diasramakan, mendapatkan pelatihan, serta dibekali berbagai materi untuk meningkatkan kemampuan menghadapi kompetisi tingkat nasional.
“Jadi kemarin kafilah Jawa Tengah sudah kita asramakan, kita latih, dan kasih materi, karena kita serius menyiapkan mereka agar sukses,” jelasnya didampingi Taj Yasin.
Bagi Jawa Tengah, keberhasilan MTQ Nasional XXXI memiliki dua catatan sekaligus.
Selain dipercaya menjadi tuan rumah, provinsi ini mampu membawa kafilahnya naik podium sebagai runner-up nasional.
Luthfi pun menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat yang telah memberikan kepercayaan kepada Jawa Tengah sebagai tuan rumah. Ia juga berterima kasih kepada seluruh panitia dan pemerintah daerah yang terlibat dalam penyelenggaraan.
“Saya mewakili masyarakat Jawa Tengah mengucapkan terima kasih. Ini kolaborasi provinsi dengan Kota Semarang dan kabupaten/kota lain,” ucapnya.
Menteri Agama Nasaruddin Umar turut memberikan apresiasi terhadap capaian Jawa Tengah. Menurutnya, lonjakan dari peringkat ke-16 menjadi runner-up menunjukkan adanya perkembangan pembinaan yang signifikan.
Ia menilai capaian tersebut menjadi indikasi bahwa pembinaan LPTQ di Jawa Tengah berjalan dengan baik.
“Ini suatu bukti bahwa di mana ada usaha di situ pasti ada hasil, di mana ada perjuangan di situ ada janji yang sangat disimpan,” katanya.
Tak hanya menyoroti prestasi kafilah, Nasaruddin juga mengapresiasi penyelenggaraan MTQ Nasional di Jawa Tengah.
Salah satu hal yang menurutnya patut diapresiasi adalah tidak munculnya isu maupun protes terkait penyelenggaraan dan dewan hakim selama pelaksanaan kegiatan.
Selain itu, penyelenggaraan di Jawa Tengah juga menghadirkan beragam cabang dan kategori perlombaan. Salah satunya kategori kaligrafi berbasis teknologi informasi.
“Selamat untuk perhelatan MTQ Nasional yang luar biasa ini. Saya kira pemerintah Provinsi Jawa Tengah sudah langsung hilang capeknya karena terjadi prestasi yang luar biasa,” ujar Nasaruddin.
Nasaruddin berharap pengalaman penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI di Jawa Tengah dapat menjadi pembelajaran bagi DKI Jakarta yang akan menjadi tuan rumah MTQ Nasional XXXII pada 2027.
Ia juga berharap Jawa Tengah mampu mempertahankan prestasinya pada gelaran mendatang, bahkan meningkatkan capaian tersebut.
Saat ini, posisi juara umum MTQ Nasional XXXI diraih Kalimantan Timur, sementara Jawa Tengah berada di posisi runner-up.
“Mudah-mudahan nanti Jawa Tengah bisa mempertahankan, kalau perlu bisa meraih posisi juara umum,” kata Nasaruddin.
Menurut dia, Jawa Tengah memiliki potensi besar untuk melahirkan kafilah berprestasi. Tradisi pendidikan keagamaan dan banyaknya pesantren menjadi salah satu modal pembinaan peserta MTQ di provinsi tersebut.
“Jawa Tengah sangat potensial, di sini kota pesantren dan potensi-potensi kandidat juara itu banyak sekali,” ujarnya.
Ia juga menilai penyelenggaraan MTQ Nasional memberikan dampak positif bagi masyarakat. Kehadiran ribuan kafilah dan rangkaian kegiatan selama sepekan membuat MTQ tidak hanya berlangsung di arena perlombaan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa Tengah.
“Kehadiran MTQ ini membahagiakan seluruh masyarakat Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang yang mendapatkan rekor MURI. Ini menjadi contoh untuk provinsi lain siapapun yang menjadi penyelenggara MTQ Nasional,” pungkasnya.
Bagi Jawa Tengah, MTQ Nasional XXXI akhirnya ditutup dengan dua cerita sekaligus: sukses menggelar perhelatan nasional dan membawa pulang prestasi runner-up.
Dari peringkat ke-16 menuju posisi kedua nasional dalam satu periode, ada satu pekerjaan rumah yang kini menanti: mempertahankan capaian tersebut dan mencoba menapaki satu tangga lagi pada MTQ berikutnya.(HS)


