in

Menelusuri Alun-alun Semarang Eks-Pasar Yaik yang Kini Jadi Ruang Publik Aktivitas Warga

Sejumlah warga yang menikmati suasana di Alun-alun Semarang, Kawasan Johar, baru-baru ini.

MENGUNJUNGI Alun-alun Semarang di Kawasan Johar, kini terlihat berbeda dari sebelumnya, khususunya 10 tahun silam. Selain dari bangunan fisiknya yang telah direvitalisasi menjadi lebih bersih, rapi, dan hijau, kini di tempat itu juga sudah ada aktivitas warga di dalamnya. Tempat yang dulunya digunakan hanya para pedagang yang berjualan, sekarang dipakai sebagai ruang publik yang ramai dikunjungi warga untuk beraktivitas sosial dan bermain. Setelah dibenahi dan ditata lebih bagus, tempat tersebut kini cocok untuk sarana tempat rekreasi bagi keluarga yang murah.

Setelah rampung pengerjaan pembangunannya, dan diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo, Alun-alun Semarang mulai dibuka untuk masyarakat umum. Lapangan Alun-alun Semarang selalu ramai dengan digelarnya berbagai event. Mulai dari altivitas olahraga, tempat bersantai, dan arena bermain anak-anak. Seperti yang nampak belum lama ini, terutama tiap akhir pekan, warga yang mengunjungi Alun-alun selalu ramai. Biasanya, warga mulai datang untuk beraktivitas menjelang sore sampai malam hari. Mereka ada yang hanya sekadar duduk-duduk, bersantai sambil mengawasi anak-anaknya yang bermain di rumput hijau, mapun ada yang jalan-jalan menikmati suasana sore.

Pilihan kuliner di sekitar Alun- alun pun makin bertambah pada akhir pekan karena berbagai tenant berdiri menawarkan menu atau kuliner khas. Seperti, sate kere, lontong opor, dan nasi ayam, serta variasi jenis minuman lainnya dengan harga terjangkau.

Sekretaris Masjid Agung Semarang, KH Muhaimin mengatakan, banyak warga sekitar yang ikut berjualan dan sekaligus memanfaatkan alun-alun yang sudah bagus untuk kegiatan ekonomi. “Kalau tidak dimanfaatkan akan mubazir, sehingga harapannya bisa menghidupkan lagi sebagai pusat keramaian, berbaurnya antaretnis. Itu kita kemas dalam kegiatan kuliner Kauman di Alun-alun MAS,” katanya, saat ditemui, baru-baru ini.

Pusat Keramaian

Sebelumnya, kata Muhaimin, pihaknya juga menggelar kegiatan serupa pada Ahad pagi sejak tahun 2020 lalu. “Tapi karena masih terdampak PPKM, kegiatan sementara tutup, dan kemudian kita gelar lagi dengan uji coba kulener tiap malam Ahad dan berhasil,” terangnya.

Diharapkan, dengan kegiatan yang bersinergi dengan warung Semawis ini bisa memanfaatkan areal Alun-alun untuk pusat keramaian warga dan menjadi sebuah wisata baru di Semarang. “Wisatawan dan masyarakat umum bisa datang ke sini, menikmati kuliner, berkreasi yang lokasinya dekat dengan Masjid Kauman,”vkatanya.

Salah satu pengunjung, Zikan (32) mengatakan, kegiatan festival kuliner Kauman ini cukup bagus. Karena upaya untuk menghidupkan alun-alun Semarang, dan bisa memecah keramaian warga yang selama ini hanya terpusat di kawasan Simpanglima Semarang. “Jadi warga punya pilihan lain, selain di Simpanglima, sehingga keramaian tidak terjadi di pusat kota saja, bisa terpecah di sini. Apalagi di dekat sini juga ada Kota Lama Semarang yang sudah menjadi pusat keramaian baru di Kota Semarang,” katanya.

Seperti diketahui, sejarah Alun-alun Semarang, dalam buku ‘Kota Semarang Dalam Kenangan’ karya sejarawan Kota Semarang, Jongkie Tio, dibahas perihal Aloon-aloon Kota Semarang. Aloon-aloon Kota Semarang sudah ada antara akhir abad ke-16 sampai awal abad ke-17. Kondisinya saat itu masih belum teratur kecuali pendopo yang ada di sana.

“Aloon-aloon adalah suatu tanah lapang luas biasanya ditumbuhi rumput dan di sudutnya terdapat pohon beringin dan ada pula gedung besar dan indah yang biasa disebut pendopo yang merupakan bagian dari kabupaten, di mana merupakan pusat pemerintahan kota tersebut. Di sekitar aloon-aloon biasanya juga ada masjid,” terang Jongkie Tio.(HS)

Ketua DPRD Ucapkan Selamat Kepada Para Juara Turnamen Bulu Tangkis DPRD Kendal Cup

Dinkes Kota Semarang: Kasus DB Hingga Juli Ada 563 Penderita, dan 23 Meninggal Dunia