SETIAP pemimpin dituntut memiliki jiwa dan kepekaan sosial yang tinggi. Dengan mengedepankan nilai humanis, setiap pemimpin akan dicintai rakyatnya dan hal inilah yang tercermin dari pasangan calon (Paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang, Yoyok Sukawi dan Joko Santoso, yang diusung Koalisi Semarang Maju Bermartabat.
Pasangan ini dinilai memiliki kepekaan sosial yang tinggi, terkait dengan musibah atau duka yang dialami warga atau rekannya.
Masih lekat dalam ikatan Nurul Wakhid, salah satu wartawan salah satu media massa di Kota Semarang. Bagaimana Mas Yoyok dan Mas Joko hadir ketika duka yang menyelimuti keluarganya. Padahal kala itu, baik Yoyok Sukawi dan Joko Santoso belum ada rencana untuk mencalonkan diri sebagai wali kota dan wakil wali kota.
Pada medio April 2016, Gus Wahid, sapaan akrab Nurul Wakhid, kehilangan anak pertamanya, Pasha al Farabi Bagus Damar.
Sakit feokromositoma yang diderita anaknya, adalah salah satu jenis penyakit langka yang sulit pengobatannya, bahkan setelah berjuang selama 2 tahun lamanya.
Wartawan yang juga jadi pengurus Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang (BP2KS) ini merasa terpukul karena seolah duka hanya datang untuk dirinya.
Namun sesaat hendak membawa pulang jenazah dari rumah sakit, di tengah rasa terpuruk dan duka mendalam, Joko Santoso datang menghiburnya.
“Sekitar 1 jam setelah kepergian anak saya malam itu, Mas Joko datang menghibur dan membesarkan hati saya. Dirinya berujar bahwa saya bukanlah satu-satunya yang pernah kehilangan anak, dirinya (Joko Santoso-red) pun pernah mengalami duka serupa. Beliau termasuk orang yang pertama datang menghibur,” kenangnya.
Obrolan di tengah malam sembari menunggu waktu membawa jenazah pulang ke rumah duka, ternyata mampu membesarkan hati Gus Wahid.
Rasa terpuruknya perlahan sirna dan berganti dengan rasa syukur, bahwa ia pernah diberi waktu bersama anak pertamanya selama 8 tahun.
“Berbeda dengan Mas Joko yang kehilangan anak saat ia masih bayi, saya harus lebih bersyukur karena diberi waktu dan kebahagiaan bersama Pasha selama 8 tahun lamanya, sebelum ia dipanggil kembali oleh Allah,” kisahnya mencoba membesarkan hati.
Masih di kisah yang sama, Wahid menyebut bahwa saat itu ia bertetangga dengan Mas Yoyok, namun karena kesibukannya mereka belum sempat saling kenal.
Maklum, sehari-hari kala itu, ia bertugas di Balai Kota Semarang sementara Mas Yoyok sebagai anggota DPRD Jateng.
“Kami tinggal di Jalan Sinabung kala itu, sejalan dengan rumah Mas Yoyok, namun kami tidak pernah beririsan apapun saat tugas liputan, jadi saya belum kenal secara pribadi. Dan ketika Pasha tiada, saya kaget karena pagi itu Mas Yoyok bersama istri menyempatkan takziyah ke rumah saat jenazah hendak diberangkatkan ke pemakaman. Padahal kami belum pernah kenal,” ujarnya.
Sikap sosial inilah yang terus membayang di benak wartawan yang kini berkarier di media online ini.
Baginya, jiwa sosial yang tinggi merupakan tuntutan utama dalam diri seorang pemimpin.
“Saat duka, semua wajah yang hadir saat itu pasti akan terbayang, lekat dan mudah diingat. Berbeda dengan saat bahagia seperti kawinan dan sebagainya. Dan cukuplah ini sebagai alasan bagi saya untuk memberikan dukungan bagi Mas Yoyok dan Mas Joko dalam pertarungan di Pilwakot Semarang 2024,” tandasnya optimistis.
Meski demikian, imbuhnya, bukan berarti ia menafikan kehadiran banyak sosok yang memberi penghiburan kala sang anak tiada, namun hal ini relate dengan figur pemimpin yang dituntut memiliki kepekaan sosial tinggi saat ini.(HS)