in

Jangan Lupakan Kasus Iwan Budi

Foto ilustrasi AI.

DI negeri yang selalu ramai dengan berita pagi ini, sore hilang entah ke mana, kita hidup seperti ikan mas koki di akuarium: ingat segalanya cuma tiga detik, lalu lupa lagi.

Era di mana fakta berganti-ganti baju setiap jam, viralitas jadi ukuran kebenaran, dan ingatan kolektif kita sependek umur kucing di video TikTok.

Coba ingat, kemarin apa yang bikin timeline panas? Skandal pejabat? Banjir? Atau cuma meme tentang harga telur?

Ah, sudahlah, besok pasti ada yang baru. Inilah potret kita, bangsa yang hafal lirik lagu dangdut tapi lupa kronologi kasus besar.

Dan di tengah hiruk-pikuk itu, cerita tragis dari Semarang muncul seperti hantu pesta: datang mendadak, lalu lenyap secepat asap rokok kretek.

Semarang, kota pelabuhan yang biasa dikenal dengan lumpia dan gudeg basah, tiba-tiba jadi panggung drama horor tiga tahun silam. Paulus Iwan Budi Prasetyo atau biasa dipanggil Iwan Budi, seorang PNS biasa di Badan Pendapatan Daerah Pemkot Semarang, hilang pada 24 Agustus 2022.

Tanggal 25 Agustus 2022, dia seharusnya hadir ke Ditreskrimsus Polda Jawa Tengah. Sebagai saksi kunci dugaan kasus korupsi sertifikasi delapan bidang lahan milik PT KAL ke Pemkot Semarang, tahun 2010.

Lahan-lahan itu di Kecamatan Mijen, seluas 49,2 hektare, seharusnya jadi aset kota, tapi anggarannya menguap entah ke mana, katanya karena “alasan teknis”.

Iwan tahu detailnya, termasuk kenapa dana itu tak terserap penuh, dan dia setuju cerita semuanya.

Tapi, Iwan tak pernah muncul. Enam belas hari kemudian, 8 September 2022, warga yang sedang di Pantai Marina menemukan pemandangan mengerikan: jasad terbakar tanpa kepala, lengkap dengan sepeda motor miliknya.

Tes DNA konfirmasi: itu Iwan Budi. Bukan kecelakaan biasa, tapi dugaan pembunuhan sadis yang bau amisnya langsung mengarah ke kasus korupsi itu.

Polisi langsung gerak cepat, atau setidaknya, begitu katanya. Mereka periksa 26 saksi, libatkan Polisi Militer karena dugaan oknum berseragam terlibat, bahkan panggil dukun untuk selidiki motif “permohonan jabatan”.

Pelakunya diduga terlatih, katanya, karena cara eksekusi begitu rapi: hilangkan kepala, bakar bersih, tinggalkan di pantai.

Kini, hampir tiga tahun lewat, kasus itu seperti roti tawar basi di meja makan: masih ada, tapi tak ada yang mau sentuh lagi. Polda Jateng bilang masih usut, tapi progresnya lambat seperti siput naik tangga.

Kuasa hukum keluarga Iwan Budi, Yunantyo Adi Setiawan atau YAS, bahkan harus bolak-balik koordinasi sendiri, sambil gali lebih dalam soal korupsi lahan Ngadirejo dan Jatisari.

Pihak kepolisian janji kolaborasi, tapi fakta baru cuma datang sporadis, seperti hujan deras di musim kemarau.

Dan masyarakat, seakan sudah lupa kasus ini. Tiga hingga dua tahun lalu, berita ini sempat viral: tagar #JusticeForIwanBudi naik daun, netizen marah-marah di Twitter (sekarang X) sambil share foto jasad buram.

Tapi perlahan ingatan itu seakan hilang. Digantikan isu bansos macet, korupsi, atau gosip pejabat selingkuh.

Ingatan kita pendek, ya Tuhan, sependek layar ponsel yang langsung swipe ke atas.

Padahal hingga kini, keluarga Iwan masih tunggu keadilan.

Penegak hukum bilang “masih berkembang”, tapi itu kode lama untuk “sudah mandek”.

Dan kita, masyarakat, ikut main peran: share dulu untuk kelihatan peduli, lalu lupa.

Padahal, kalau ingatan kita panjang sedikit saja, mungkin pelaku korupsi mikir dua kali. Tapi enggak, kita lebih suka lupa, mungkin biar hidup ringan, atau memang ingatan kita yang pendek.

Tulisan ini dibuat tak sekadar hanya sebagai pengingat, “Jangan Lupakan Kasus Pembunuhan Iwan Budi”. Tapi juga sebagai upaya menjaga kewarasan kita, agar kita tak mudah lupa atas persoalan besar yang ada di sekitar.

Kasus Iwan Budi jangan sampai jadi pembenar, bahwa ingatan pendek kita ini seperti jajanan instan, cepat habis tapi tak kenyang.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)

Agustina Wilujeng Apresiasi Unissula Hibahkan Tanah Untuk Pembangunan Sodetan Tanggulangi Banjir Kaligawe

Kalah 0-2 di Kandang Sendiri, Persiku Kudus Makin Terpuruk