HALO SEMARANG – Anggota Komisi V DPR RI, Boyman Harun menyoroti insiden hilangnya lima jurnalis saat meliput di kawasan Gunung Krakatau.
Ia secara pribadi mendorong adanya peningkatan koordinasi dan konektivitas yang kuat, antara Badan SAR Nasional (Basarnas) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), guna meminimalkan risiko bencana.
“Makanya kemarin saya juga memberikan masukan jadi kerjasamanya itu harus konektivitas antara BMKG dengan Basarnas, dan segala lembaga lain yang berkaitan,” kata Boyman, belum lama ini.
Lebih lanjut, Boyman menilai peringatan dini dari BMKG harus segera disampaikan kepada masyarakat luas.
Ia menegaskan bahwa informasi krusial tentang keadaan alam wajib diteruskan secara langsung kepada pihak Basarnas sebagai langkah persiapan sebelum terjadinya keadaan darurat.
“Terutama kapan terjadinya bencana, kemudian lokasi bencana harus jelas, kemudian akibat apa yang ditimbulkan terhadap bencana itu nantinya, kemudian masyarakat harus apa, jadi harus komplit gitu,” tegasnya.
Terkait hal itu, ia mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan penambahan alokasi anggaran untuk operasional Basarnas dan lembaga-lembaga lain yang berkaitan dengan situasi tersebut.
Langkah ini dipandangnya sangat krusial agar kedua lembaga tersebut dapat melaksanakan tugas pencarian, pertolongan, dan pemberian informasi dini secara maksimal kepada publik.
Boyman Harun turut mengutarakan doa terbaiknya agar kelima korban hilangnya lima jurnalis tersebut dapat segera ditemukan.
“Mungkin satu lagi ucapan, semoga cepat ketemu. Ya, saya berharap semoga saudara kita yang hilang dapat ditemukan dalam keadaan selamat,” tutupnya.
Berkoordinasi
Sebelumnya, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan tiga operator seluler, untuk memantau jaringan base transceiver station (BTS) di sekitar Selat Sunda, baik dari sisi Banten maupun Lampung.
Upaya tersebut dilakukan dengan memantau kemungkinan sinyal komunikasi dari wilayah yang diduga menjadi lokasi terakhir keberadaan mereka.
“Komdigi sendiri sudah berkoordinasi dengan operator seluler, tiga operator seluler itu sudah mendeteksi BTS yang ada di seputaran Selat Sunda, baik yang ada di Banten maupun yang ada di Lampung,” kata Wamen Nezar, baru-baru ini saat meninjau Posko SAR Gabungan di Carita, Pandeglang, Banten.
Wamen Nezar menuturkan pemantauan juga dilakukan melalui Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio yang berada di Banten dan Lampung.
Infrastruktur tersebut digunakan untuk melakukan pengecekan apabila terdapat sinyal komunikasi yang tertangkap dari wilayah pencarian.
“Melalui balai monitoring frekuensi yang ada di Banten dan Lampung, kita terus melakukan pengecekan kalau ada sinyal-sinyal yang tertangkap,” kata dia, seperti dirilis komdigi.go.id.
Lebih lanjut, Wamen Nezar menjelaskan informasi dari operator seluler mengenai aktivitas jaringan telah diteruskan kepada tim SAR untuk diproses dan menjadi salah satu bahan dalam upaya menentukan lokasi terakhir keberadaan delapan warga tersebut.
Ia menyebut data yang diterima tim menunjukkan kontak terakhir pada 7 September 2026 berada di Pulau Sebesi, yang merupakan salah satu gugus pulau terdekat dari Gunung Anak Krakatau.
“Dari operator seluler kita sudah mendapatkan informasi dan informasi itu sudah diteruskan kepada SAR dan sudah diproses berupa kontak terakhir di Pulau Sebesi,” ujar Wamen Nezar.
Pemantauan jejak komunikasi tersebut dilakukan setelah Kemkomdigi menerima informasi mengenai hilangnya kontak dengan rombongan yang terdiri atas lima jurnalis, dua anak buah kapal (ABK), dan seorang pemandu.
Kelompok tersebut diketahui berada di perairan Selat Sunda dalam rangka menjalankan tugas jurnalistik untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Wamen Nezar mengatakan pada Sabtu (12/09/2026) yang merupakan hari kelima pencarian, penelusuran terus diperluas.
Berdasarkan pembaruan dari tim SAR Banten yang didampingi TNI Angkatan Laut dan Polairud, sebanyak 14 kapal serta satu helikopter dikerahkan untuk menyisir sejumlah titik yang diduga menjadi lokasi keberadaan korban.
Wamen Nezar menegaskan Kemkomdigi akan terus mendukung proses pencarian melalui kapasitas infrastruktur dan pemantauan spektrum frekuensi yang dimiliki kementerian, sekaligus berkoordinasi dengan operator seluler serta tim SAR.
“Kita terus memantau, terus mencari dan sama-sama kita berdoa. Kami minta seluruh rakyat Indonesia juga mendoakan agar proses pencarian ini kita semua diberikan kekuatan dan kita bisa menemukan delapan warga kita yang sekarang berada di perairan Selat Sunda,” tuturnya.
Selain mendukung pencarian, Kemkomdigi juga melakukan pemantauan terhadap informasi yang beredar di ruang digital menyusul munculnya berbagai kabar yang belum terverifikasi mengenai insiden tersebut. (HS-08)\


