DI tengah hiruk-pikuk Kota Semarang, seorang ibu rumah tangga sibuk menggulir layar ponsel sambil menunggu BRT Trans Jateng. Bukan berita soal anggaran negara yang hilang miliaran rupiah yang dia baca, tapi thread panjang tentang artis A yang ketahuan jalan bareng ke luar negeri dengan mantan pejabat.
“Wah, parah nih!” gumamnya, sambil lupa bahwa pagi itu headline beberapa koran melaporkan kerugian negara Rp 300 triliun dari korupsi timah.
Begitulah gambaran kehidupan kita di Indonesia, di mana drama rumah tangga selebriti lebih menarik daripada skandal yang bisa bikin negara bangkrut. Siapa sangka, gosip jadi obat mujarab untuk lupa masalah besar.
Mari kita lihat kenyataannya. Tahun 2025 ini, kejaksaan sibuk membongkar kasus-kasus raksasa. Ambil contoh korupsi di PT Timah, yang nilainya mencapai Rp 300 triliun.
Itu uang banyak lho, cukup buat beli pulau kecil atau bikin warga di Indonesia makan enak gratis sampai tahunan. Tapi apa yang terjadi? Berita ini muncul sebentar di timeline, lalu lenyap ditelan gosip perselingkuhan seorang artis terkenal.
Ironisnya, saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membongkar kasus korupsi besar lain, atau fakta adanya soal Pagar Laut misterius di Tangerang, netizen malah ramai bahas kasus Vina Cirebon yang viral. Padahal hingga saat ini, ending kisah Vina Cirebon seperti apa, tak ada yang tahu. Seperti halnya siapa inisiator pemasang pagar laut yang disinyalir jadi langkah awal reklamasi ilegal, juga tak ada yang tahu.
Seolah-olah, korupsi atau kasus kerusakan lingkungan itu hobi lama yang sudah basi, sementara drama pribadi lebih fresh dan bikin penasaran.
Tak jauh beda dengan kasus Pertamina. Kerugian negara di sana capai Rp 193,7 triliun, bahkan potensinya Rp 968,5 triliun jika dihitung dari 2018 sampai 2023.
Bayangin, uang segitu bisa bangun ribuan sekolah atau rumah sakit. Tapi saat berita ini meledak awal 2025, tiba-tiba muncul isu perselingkuhan artis yang jadi trending topic. Akun-akun anonim bertebaran, nyebar kabar bohong, dan publik langsung lupa soal minyak negara yang raib.
Ini seperti sulap, korupsi hilang, gosip muncul. Masyarakat kita, yang katanya pintar dan kritis, ternyata gampang banget dialihkan, seakan hanya memiliki ingatan pendek.
Cukup lempar umpan berupa foto mesra atau chat bocor, langsung deh ribuan like dan retweet mengalir. Rapat RT di Semarang tak lagi bahas anggaran Rp 25 juta/tahun, tapi bahas tentang gosip murahan tersebut.
Sehari kemudian, seorang artis cantik kemudian klarifikasi, bahwa dia bukan pihak ketiga, padahal gak ada yang menuduh dia.
Lucu kan? Korupsi yang merusak fondasi bangsa kalah pamor sama cerita selingkuh yang cuma rusak rumah tangga satu-dua orang.
Ini bukan kebetulan. Media sosial jadi alat ampuh buat propaganda. Saat ada bencana besar atau korupsi meledak, tiba-tiba gosip perselingkuhan mantan pejabat dengan artis muncul.
Tahun ini, saat kasus pembabatan hutan yang tak terkendali menyebabkan bencana, gosip tentang sebuah foto aktivitas jalan-jalan seorang mantan pejabat dan artis ke luar negeri viral. Hasilnya? Diskusi soal korupsi tenggelam di lautan komentar “Wah, kok bisa ya?” atau “Parah banget nih artis!”
Bisa dibilang masyarakat Indonesia punya selera unik, korupsi triliunan itu kayak lauk basi yang tak ada yang mau, sementara gosip tentang moralitas seperti martabak manis yang antre panjang.
Ironinya, kita marah besar kalau artis selingkuh, tapi cuek bebek saat pejabat korupsi. Padahal, korupsi itu selingkuh juga, selingkuh dengan rakyat, curi uang pajak buat kantong pribadi. Tapi entah kenapa, yang satu bikin emosi warga ikut terbakar, yang lain cuma scroll-scroll doang.
Ini menunjukkan betapa mudahnya masyarakat kita diarahkan. Propaganda lewat media sosial bisa bikin isu moralitas naik daun, masyarakat terlibat secara emosional, sementara keselamatan bangsa terabaikan.
Korupsi yang bisa bikin harga beras naik dan ekonomi goyah, kalah sama drama yang cuma bikin rating TV naik.
Mungkin saatnya kita balik situasi. Kalau gosip bisa alihkan isu, kenapa nggak gosipkan koruptor seperti artis?
Sebab di negeri ini, gosip adalah mata uang paling stabil, sementara akal sehat sering kena suspend.
Dan selama drama lebih laku daripada kebenaran, korupsi akan terus bersembunyi, bukan di balik meja kekuasaan, tapi di balik layar ponsel kita sendiri.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)


