in

Di Semarang, Apa yang Kalian Lihat Belum Tentu Kenyataan

Gambar ilustrasi AI.

DI era modern ini, berita dan gambar beredar begitu cepat lewat ponsel, sampai-sampai fakta asli tertutup lapisan dusta yang disukai banyak orang. Akibatnya, kabar bohong atau isu tak jelas sumbernya jadi makanan sehari-hari, terutama kalau sengaja dibuat rapi untuk menutupi yang sebenarnya.

Fenomena ini bukan rahasia lagi di Semarang, di mana anak muda sering nongkrong di kafe sambil scroll ponsel. Isinya, unggahan gambar infografis tentang keberhasilan pemerintah menekan angka kemiskinan.

Atau unggahan dinas tertentu terkait sosialisasi peraturan daerah tentang tarif parkir. Tapi di luar kafe, serorang berompi dan membawa peluit, sudah siap menunggui pengunjung yang keluar dengan karcis parkir foto copian dengan tarif yang lebih mahal dari yang tertera di aturan.

Kabar bohong seperti ini bukan cuma soal penampilan, tapi juga merembet ke isu besar.

Misalnya, ada akun media sosial yang kelihatan sebagai pengkritik pemerintah, postingan penuh semangat lawan kebijakan. Tapi diam-diam, akun itu dibuat oleh orang dalam lingkaran kekuasaan sendiri.

Ini seperti permainan “musuh buatan”, di mana tujuannya mengumpulkan siapa saja sebenarnya orang yang tak suka dan musuh dalam selimut, menyerang target dengan (seolah) tangan orang lain, atau sekadar memantau siapa musuh beneran.

Lucu ya, seperti main petak umpet di dunia digital, tapi akibatnya orang bingung mana kawan mana lawan.

Dari dunia maya, beralih ke urusan sehari-hari yang lebih nyata. Misalnya, banyak tempat usaha hiburan berkedok karaoke keluarga, tapi menyediakan minuman beralkohol dan pemandu lagu yang bahenol. Atau tempat SPA sehat, tapi ada praktik prostitusi di dalamnya. Dan pemerintah seakan diam saja.

Belum lagi soal PDAM. Yang semua orang tahu kepanjangannya Perusahaan Daerah Air Minum, seharusnya menyediakan air yang siap pakai untuk diminum warganya. Tapi di Semarang, air dari keran yang mengalir ke rumah-rumah, sering tidak bisa diteguk bahkan dimasak. Mungkin hanya layak untuk aktivitas mandi atau cuci piring.

Padahal, dari pabriknya konon sudah dicek dan katanya aman, tapi sampai ke rumah beda lagi ceritanya.

Lanjut ke sisi kota yang lebih tua, yaitu Kota Lama Semarang. Daerah ini terkenal dengan gedung-gedung kolonial yang megah, seperti Gereja Blenduk dengan kubah besarnya atau Stasiun Tawang yang penuh cerita sejarah. Tapi belakangan, muncul bangunan baru yang sengaja dibuat mirip gaya klasik Belanda, lengkap dengan ornamen simetris dan detail rumit.

Ini seperti campur aduk antara restorasi asli dan pembangunan ulang, di mana yang baru berusaha menyerupai yang lama supaya wisatawan terpesona.

Di kawasan yang disebut Little Netherlands ini, pesona arsitektur ala Eropa memang menawan, tapi kadang membuat orang lupa bahwa tidak semuanya orisinil dari masa kolonial. Lucu, seperti kota yang pakai makeup tebal untuk kelihatan lebih tua dari umurnya.

Begitu juga di tingkat birokrasi. Di setiap pintu masuk kantor-kantor tersebut, banyak tertempel stiker, “Bebas Pungli”. Tapi kenyataannya? Penulis tak berani melanjutkan karena takut dianggap fitnah.

Termasuk terkait hubungan antarpejabat, yang di depan kamera terlihat sepertinya baik, namun ada loh, yang sebenarnya tidak (sambil kedip satu mata).

Dari semua cerita ini, terlihat jelas bahwa di Semarang, kebenaran sering tersembunyi di balik lapisan tipuan yang rapi. Mulai dari foto editan di medsos hingga nama perusahaan yang tak sesuai isi, kota ini mengajarkan pelajaran sederhana: jangan langsung telan mentah-mentah apa yang kelihatan. Karena, apa yang kalian lihat belum tentu itu nyata.

Tapi tenang, selama kita tetap skeptis dan memagang teguh prinsip humor, kota ini tetap menyenangkan untuk ditinggali.

Jadi, ayo lebih cermat lagi melihat banyak sisi.

Yang sedang atraksi di atas panggung dan kamera, mungkin hanya badut-badut politik. Dan di belakang panggung, ada kasir tiket dan copet yang bersembunyi di kegelapan sambil menghitung hasil jarahan.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)

Lama Dinanti, Lampu PJU di Desa Sidorejo-Tunggulsari Kendal Akhirnya Terealisasi

Jawa Tengah Kirim 87 Kontingen ke SEA Games 2025 Thailand, Sumbang 6,6 Persen Atlet Indonesia