HALO SEMARANG – Dampak banjir yang masih awet menggenangi beberapa wilayah di Kota Semarang selama lebih dari sepekan sejak Kamis (23/10) lalu hingga Jumat (31/10) mengakibatkan aktivitas warga menjadi lumpuh dan mulai terserang berbagai penyakit. Hal ini pun disorot oleh wakil rakyat di Kota Semarang.
Wakil ketua Komisi C DPRD Kota Semarang, Nunung Sriyanto mengatakan, bahwa dampak banjir di Kota Semarang sangat menganggu masyarakat luas, terutama di wilayah timur Semarang yang menjadi titik paling parah terdampak genangan baniir. Utamanya di kawasan Genuk, Tambakrejo, Trimulyo dan Muktiharjo Kidul.
Nunung menjelaskan, bahwa luapan banjir dengan cepat terjadi meski hujan turun hanya beberapa jam saja. Kondisi itu, menurutnya, salah satunya adalah disebabkan perubahan arah aliran air dari wilayah atas yang kini menjadi lebih lancar langsung mengalir ke hilir setelah normalisasi jembatan Nogososro.
“Masalahnya, debit air dari atas sekarang mengalir sangat cepat ke bawah karena jembatan-jembatan di kawasan itu sudah ditinggikan. Akibatnya, justru yang terjadi luapan air mengarah di satu titik di wilayah Muktiharjo Kidul,” ujar Nunung, Jumat (31/10/2025)
Nunung menambahkan, bahwa air kiriman dari wilayah hulu seharusnya bisa langsung mengalir ke laut. Namun, dengan keberadaan sabuk pantai membuat aliran air terjebak tak bisa keluar dan masih bergantung pada pompa air yang masih terbatas kapasitasnya.
“Pemerintah sebenarnya sudah berupaya mengatasi hal ini dengan membangun embung dan sabuk pantai. Saat ini memang progresnya sudah berjalan, pada tahun 2027 mendatang embung ditargetkan selesai dan bisa berfungsi,” papar Nunung.
Politikus Partai Gerindra dari daerah pemilihan Semarang Timur ini juga memberikan apresiasi terhadap langkah cepat Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, yang aktif turun langsung ke lapangan saat banjir melanda.
“Ibu Wali luar biasa. Hampir setiap hari beliau turun ke lokasi banjir. Bahkan, sampai malam hari sampai jam tiga dini hari masih memantau kondisi di daerah Muktiharjo,” ungkapnya.
Nunung berpendapat, kendala utama penanganan dampak banjir juga terletak pada pompa air yang belum berfungsi maksimal.
“Beberapa pompa setahu saya masih ada yang mengalami kendala dan membutuhkan perbaikan. Pompa yang ada sebenarnya cukup, tapi ada yang macet dan belum optimal. Pemerintah kota sudah memprioritaskan perbaikan pompa agar pemukiman yang rawan banjir bisa lebih cepat kering,” pintanya.
Dia berharap, pembangunan embung besar di Kaligawe dan Genuk menjadi harapan baru bagi warga Semarang Timur. Embung tersebut akan berfungsi menampung air kiriman dari wilayah atas, sehingga potensi banjir bisa berkurang signifikan di tahun-tahun mendatang.
“Untuk banjir tahun ini sebenarnya sudah lebih baik dari sebelumnya. Di wilayah Tlogosari misalnya, genangan tidak separah tahun 2024 lalu. Namun Muktiharjo masih jadi tumpuan air dari berbagai wilayah,” ucapnya.
Selain masalah aliran air, Nunung juga menilai sistem drainase di sejumlah kawasan rawan banjir belum terintegrasi. Menurutnya, banyak saluran air yang tertutup bangunan pribadi dan tempat usaha seperti ruko, sehingga menghambat pembuangan air.
“Drainase di pinggir Kali Tlogosari Kulon misalnya, banyak yang tertutup. Padahal kalau salurannya lancar, air bisa cepat surut. Ini perlu penertiban, karena dampaknya dirasakan masyarakat luas,” ujarnya.
Dia pun meminta Pemkot Semarang terus mengecek tingginya sedimentasi di sejumlah saluran. Namun, menurutnya, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) sudah bekerja cukup baik dengan rutin melakukan pembersihan dan pengerukan.
“Saya optimistis upaya pemerintah kota dan dengan dukungan kementerian pusat akan membawa hasil nyata. Dan berharap, target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2027, yakni Semarang bebas banjir, bisa terwujud,” pungkas Nunung. (HS-06)