DI bawah langit Jawa Tengah yang cerah, Kota Semarang sering kali diselimuti aroma manis yang samar, pengingat akan musim panen yang dulu begitu melimpah. Pohon-pohon mangga, dengan daunnya yang rindang dan buahnya yang menggantung berlimpah, pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap kota ini.
Sejak era kolonial, mangga telah menjadi simbol kemakmuran agraris di wilayah pesisir utara Jawa, di mana tanah subur dan iklim tropis menyokong pertumbuhan varietas yang beragam. Namun, di balik keindahan itu, sebuah perubahan diam-diam sedang terjadi: hilangnya keberagaman rasa dan warna yang dulu mendefinisikan identitas lokal Semarang.
Varietas mangga asli seperti talijiwo—atau yang lebih dikenal sebagai lalijiwo—dodonilo, kuweni, keong, dan golek, kini semakin langka, digantikan oleh dominasi jenis impor seperti arumanis, manalagi, dan okyong yang berasal dari Thailand. Fenomena ini bukan sekadar cerita tentang buah yang pudar, melainkan cerminan lebih luas dari dinamika ekonomi, urbanisasi, dan globalisasi yang menggerus warisan agraris Indonesia.
Seiring dengan pertumbuhan kota yang pesat, Semarang telah bertransformasi dari pusat perdagangan rempah menjadi metropolis industri dan jasa. Pada tahun 1990-an, ketika populasi kota masih di bawah dua juta jiwa, pohon mangga menjadi elemen ikonik di halaman rumah dan pekarangan kampung.
Wilayah Banyumanik, dengan lereng bukitnya yang hijau, menjadi surga bagi talijiwo, varietas yang unik karena kulitnya tetap hijau meski daging buahnya sudah matang sempurna, manis dengan aroma harum yang menyerupai campuran madu dan rempah.
Buah kecil ini, berukuran sebesar telur ayam, sering kali dipetik langsung dari pohon setinggi delapan meter, dan menjadi camilan favorit anak-anak sekolah di Srondol dan Pudakpayung.
Menurut catatan lokal, talijiwo bukan hanya buah; ia adalah cerita tentang ketahanan alam Jawa, yang tumbuh subur di tanah vulkanik sekitar Gunung Ungaran tanpa memerlukan pupuk kimia berlebih.
Saat itu, pasar tradisional seperti Pasar Peterongan atau Pasar Johar dipenuhi tumpukan mangga beraneka ragam: dodonilo dengan dagingnya yang berserat halus dan rasa asam-manis yang menyegarkan, kuweni yang harumnya bisa tercium dari jarak sepuluh meter, keong dengan kulit tebalnya yang melindungi inti lembut, serta golek yang besar dan berair, ideal untuk rujak atau es campur khas Semarang.
Transisi dari era itu ke masa kini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui serangkaian pergeseran yang halus namun tak terelakkan. Pada dekade 1990-an, Semarang masih mempertahankan pola pertanian subsisten di mana petani kecil menanam mangga sebagai tanaman sela di antara sawah atau kebun kelapa.
Talijiwo, khususnya, mendominasi pekarangan rumah di kampung-kampung seperti Srondol, di mana pohon-pohon tua berusia puluhan tahun menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.
Rasa uniknya—manis dengan sentuhan pedas alami—membuatnya laris di kalangan pedagang kaki lima, yang menjajakannya sebagai “mangga Semarang asli” kepada wisatawan.
Jenis lain seperti dodonilo, yang dikenal karena ketahanannya terhadap hama lokal, dan kuweni dengan aromanya yang mirip mangga India, melengkapi palet rasa yang kaya. Golek, meski lebih umum di Jawa Barat, telah beradaptasi dengan baik di Semarang, sering ditanam di sekitar Sungai Garang untuk manfaat ekologisnya sebagai penahan erosi tanah.
Namun, seiring dengan liberalisasi ekonomi pasca-krisis 1998, pola konsumsi masyarakat Semarang mulai bergeser. Masuknya varietas komersial seperti arumanis—dengan daging kuning cerah dan rasa manis pekat—dan manalagi yang berukuran besar serta tahan pengiriman jarak jauh, mulai mendominasi pasar.
Arumanis, yang pertama kali diimpor dari Thailand pada awal 2000-an, menawarkan keuntungan ekonomi yang jelas: umur simpan lebih panjang dan hasil panen dua kali lipat dibandingkan talijiwo. Mangga okyong, varietas Thailand lainnya yang dikembangkan secara lokal sejak 2010, semakin memperkuat tren ini dengan cita rasanya yang premium dan kemampuannya beradaptasi di iklim tropis Indonesia.
Saat ini, survei dari Badan Pusat Statistik Jawa Tengah menunjukkan bahwa 70 persen produksi mangga di wilayah Semarang berasal dari ketiga varietas ini, sementara mangga lokal hanya menyumbang kurang dari 10 persen. Di Banyumanik, yang dulu dikenal sebagai “kampung talijiwo”, pohon-pohon tua kini jarang terlihat; digantikan oleh perumahan cluster dan pusat perbelanjaan yang menjual mangga impor dalam kemasan plastik.
Urbanisasi yang pesat di Semarang, dengan pertumbuhan penduduk mencapai 1,5 persen per tahun sejak 2000, telah mengonversi lahan pertanian menjadi zona industri dan residensial.
Petani kecil, yang dulu bergantung pada mangga lokal untuk subsistensi, kini beralih ke tanaman monokultur seperti arumanis karena tekanan pasar.
Preferensi konsumen terhadap buah yang seragam dan bebas cacat—dipengaruhi oleh iklan supermarket dan ekspor—mempercepat proses ini. Lebih lanjut, globalisasi pertanian telah membuka pintu bagi bibit impor dari Thailand, yang didukung oleh kebijakan perdagangan bebas ASEAN sejak 2010. Inovasi seperti irigasi tetes dan pupuk sintetis, meski meningkatkan produktivitas, justru merugikan varietas lokal yang lebih adaptif terhadap kondisi alami namun kurang responsif terhadap input eksternal.
Dalam konteks yang lebih luas, pergeseran ini juga mencerminkan dinamika ekonomi nasional. Indonesia, sebagai produsen mangga terbesar keempat di dunia dengan output 3,2 juta ton per tahun, semakin bergantung pada varietas hibrida untuk memenuhi tuntutan ekspor ke Singapura dan Malaysia.
Namun, ketergantungan ini menimbulkan kerentanan: fluktuasi harga bibit impor dan perubahan iklim yang memengaruhi adaptasi lokal. Talijiwo, misalnya, yang tahan kekeringan alami, kini kalah saing karena siklus panennya yang tidak seragam, membuatnya sulit untuk dijual dalam skala besar.
Demikian pula dengan kuweni, yang aromanya unik justru menjadi beban karena sulit dikemas tanpa kehilangan esensi. Akibatnya, petani di sekitar Semarang melaporkan penurunan pendapatan hingga 30 persen untuk varietas tradisional, mendorong migrasi ke sektor non-agraris.
Dampak dari hilangnya keanekaraman mangga ini melampaui sekadar preferensi rasa; ia merembet ke ranah ekonomi, budaya, dan lingkungan yang saling terkait.
Identitas Lokal
Di Semarang, di mana sektor agroindustri menyumbang 15 persen PDB kota, ketergantungan pada impor bibit Thailand berisiko terhadap gejolak geopolitik, seperti kenaikan tarif perdagangan. Lebih buruk lagi, monokultur arumanis rentan terhadap hama seperti antraknosa, yang pada 2023 menyebabkan kerugian panen hingga Rp 50 miliar di Jawa Tengah.
Dari perspektif budaya, mangga lokal adalah jembatan ke masa lalu. Talijiwo, dengan namanya yang berasal dari bahasa Jawa “lali jiwo” (lupa jiwa), melambangkan kenangan kolektif: cerita tentang panen musim hujan di Banyumanik, di mana warga berbagi buah di bawah pohon rindang sambil bercerita tentang leluhur.
Hilangnya varietas ini mengikis identitas lokal, di mana festival panen mangga dulu menjadi ritual komunal. Kuweni, dengan harumnya yang mengingatkan pada upacara adat, kini hanya tersisa dalam dongeng orang tua kepada anak cucu. Seperti yang dicatat dalam studi antropologi Universitas Diponegoro, kehilangan elemen agraris seperti ini berkontribusi pada “desakralisasi” budaya Jawa, di mana modernitas menggantikan ritual alam dengan konsumsi instan.
Aspek lingkungan mungkin yang paling mendesak. Keanekaraman mangga mendukung ekosistem mikro di Semarang: pohon talijiwo menarik burung pemangsa hama, sementara akarnya mencegah longsor di lereng Banyumanik.
Urbanisasi yang menyertai telah meningkatkan risiko banjir di Sungai Banjir Kanal, di mana pohon mangga dulu berfungsi sebagai penyangga alami. Lebih luas, tren ini mencerminkan krisis biodiversitas nasional, di mana 1.000 spesies tanaman endemik terancam punah, mengancam stabilitas ekosistem dan layanan seperti penyerbukan yang vital bagi pertanian.
Pada akhirnya, kisah mangga Semarang adalah metafor untuk perjuangan yang lebih besar: bagaimana sebuah bangsa menyeimbangkan kemajuan dengan akarnya. Seperti yang diuraikan dalam analisis The Economist tentang agribisnis berkelanjutan, pelestarian varietas lokal bukanlah nostalgia semata, melainkan investasi strategis untuk ketahanan masa depan.
Di Semarang, di mana pohon mangga masih berdiri tegak di sudut-sudut kota, ada peluang untuk membalikkan arus. Dengan kebijakan yang mendukung petani kecil, insentif untuk agropariwisata, dan pendidikan tentang nilai budaya, talijiwo bisa kembali menggantung manis di cabangnya. Bagi generasi mendatang, bukan hanya rasa yang hilang, tapi juga cerita yang membentuk jiwa. Saat musim mangga tiba lagi, semoga aroma lalijiwo kembali menyapa, mengingatkan bahwa di balik modernitas, warisan alam tetap layak diperjuangkan.(HS)