HALO SEMARANG – Islam dengan tradisi intelektual dan spiritualnya, punya modal besar untuk menumbuhkan etika ekologis.
Hal itu disampaikan Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Fahruddin Faiz, saat menjadi narasumber utama dalam diskusi tentang krisis iklim.
Diskusi digelar UIN Sunan Kalijaga, bekerja sama dengan Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, di masjid perguruan tinggi itu, diikuti lebih dari 1.000 mahasiswa.
Lebih lanjut Fahruddin Faiz membahas pentingnya membangun kesadaran ekologi, melalui refleksi keagamaan dan filsafat.
“Krisis lingkungan tidak hanya soal kerusakan alam, tapi juga krisis kesadaran. Islam dengan tradisi intelektual dan spiritualnya punya modal besar untuk menumbuhkan etika ekologis,” ujar Fahruddin Faiz, seperti dirilis kemenag.go.id.
Selain itu, Fahruddin Faiz juga mengatakan bahwa generasi muda harus berani melawan budaya konsumtif yang merusak lingkungan.
“Ada satu mentalitas yang harus kita perangi benar-benar: mentalitas konsumtif,” tegasnya.
Ia menyebut perilaku konsumtif tidak hanya memanjakan produsen, tetapi juga “menyengsarakan hidup” individu serta merusak tatanan ekologis.
Karena itu, ia mendorong generasi muda menerapkan tirakat ekologis, yaitu melatih diri menahan nafsu konsumsi sebagai bentuk penyelamatan lingkungan.
“Dengan mengendalikan mental konsumtif sebagai tirakat ekologis, kita bisa membangun resiliensi individu dan komunitas,” jelasnya.
Sementara itu dalam diskusi yang dikemas dalam kegiatan Bincang Syariah Goes To Campus, mengangkat tema ‘Mawlid For Earth: Sharia and Eco Wisdom’.
Acara ini merupakan rangkaian program Blissful Maulid yang digelar Ditjen Bimas Islam.
Diskusi menghadirkan dosen UIN Sunan Kalijaga, Fahruddin Faiz, dan influencer muda, Kalis Mardiasih.
Keduanya mengulas isu lingkungan dari perspektif keagamaan, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, mengatakan, penguatan ekoteologi menjadi salah satu prioritas Kemenag.
“Menjaga lingkungan bukan hanya kebutuhan duniawi, tetapi juga bagian dari tujuan agama. Dalam Islam, pelestarian alam adalah amanah yang harus kita rawat,” Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat di Yogyakarta, belum lama ini.
Dalam sambutannya, Arsad mengingatkan bahwa dunia tengah menghadapi krisis lingkungan yang semakin kompleks.
Perubahan iklim, banjir, degradasi tanah, hingga deforestasi disebutnya sebagai ancaman nyata yang memengaruhi kualitas hidup masyarakat.
“Kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga menyangkut kesadaran spiritual. Kemenag mendorong lahirnya gerakan kolektif berbasis nilai agama untuk merespons krisis iklim. Setiap ayat Al-Qur’an dan hadis yang menyinggung pentingnya menjaga bumi adalah panggilan moral bagi umat Islam untuk bertindak nyata,” tegasnya.
Ekoteologi
Arsad menilai, konsep ekoteologi selaras dengan ajaran Islam yang menekankan keseimbangan.
Menurutnya, pelestarian lingkungan harus ditempatkan sejajar dengan upaya menjaga jiwa, akal, agama, keturunan, dan harta. Hal ini sekaligus memperluas dimensi tujuan syariat dalam konteks kekinian.
Acara yang dikemas interaktif ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat baru di kalangan mahasiswa dan sivitas akademika untuk menjadikan isu lingkungan sebagai bagian dari pengamalan agama.
“Belajar dari keteladanan Nabi, kita diajarkan untuk hidup sederhana, tidak merusak, dan selalu berpihak pada kelestarian bumi. Spirit inilah yang kami harap tumbuh dalam setiap aktivitas keagamaan di kampus maupun masyarakat,” kata Arsad. (HS-08)