HALO SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat untuk mewujudkan hunian layak bagi warga kurang mampu. Salah satu langkah yang dilakukan melalui program perbaikan Rumah Tak Layak Huni (RTLH) bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional Jawa Tengah.
Pada 2026, Baznas Jawa Tengah menyalurkan bantuan perbaikan RTLH kepada 111 penerima manfaat dengan total bantuan mencapai Rp 2,14 miliar.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen mengatakan, program perbaikan RTLH bukan sekadar membangun rumah secara fisik, tetapi juga menghadirkan kembali harapan dan martabat bagi masyarakat penerima bantuan.
“Rumah yang layak menjadi fondasi penting untuk membangun keluarga yang sehat, aman, dan sejahtera,” ujar Gus Yasin, sapaan akrabnya.
Namun demikian, menurutnya, kenyamanan hidup tidak hanya lahir dari bangunan rumah yang kokoh, tetapi juga dari lingkungan sosial yang saling peduli dan membantu.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk terus menjaga semangat gotong royong dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau ada masalah, duduk bareng-bareng, langsung bantu. Ini yang penting,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Taj Yasin juga menyampaikan apresiasi kepada Baznas Jateng yang terus mendukung pemerintah daerah dalam penanganan kemiskinan, termasuk melalui program rehabilitasi RTLH.
Ia mengungkapkan, kebutuhan rumah layak huni di Jawa Tengah masih cukup besar. Oleh sebab itu, penyelesaiannya tidak bisa hanya mengandalkan anggaran pemerintah daerah, tetapi membutuhkan dukungan banyak pihak, mulai dari pemerintah kabupaten/kota, CSR perusahaan, Baznas, hingga masyarakat.
Gus Yasin juga mengapresiasi aparatur sipil negara (ASN) muslim di lingkungan Pemprov Jateng yang rutin menyalurkan zakat penghasilan melalui Baznas. Dana zakat tersebut kemudian dimanfaatkan untuk berbagai program sosial, termasuk membantu warga memperbaiki rumah mereka.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, backlog atau kekurangan kebutuhan rumah di Jawa Tengah pada awal 2025 tercatat mencapai 1.332.968 unit. Hingga akhir 2025, penanganan backlog berhasil mencapai 274.514 unit sehingga sisa backlog turun menjadi 1.058.454 unit.
Sementara pada Triwulan I 2026, realisasi penanganan RTLH kembali bertambah sebanyak 6.798 unit. Dengan demikian, total penanganan rumah sejak 2025 hingga Triwulan I 2026 mencapai 281.312 unit.
Meski demikian, backlog perumahan di Jawa Tengah masih tersisa sekitar 1.051.656 unit.
Taj Yasin meminta seluruh dinas terkait, khususnya perangkat daerah yang menangani perumahan dan kawasan permukiman di kabupaten/kota, untuk mengawal pelaksanaan bantuan tersebut agar tepat sasaran dan berjalan baik.
Ia berharap, proses rehabilitasi rumah tetap dilaksanakan dengan semangat gotong royong di tengah masyarakat.
Salah satu penerima bantuan RTLH, Rohmiyati mengaku bersyukur atas bantuan yang diterimanya.
Perempuan 54 tahun asal Getasan itu selama ini tinggal di rumah dengan kondisi memprihatinkan. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia juga harus merawat suaminya yang menderita gagal ginjal dan rutin menjalani cuci darah dua kali setiap pekan.
Pekerjaan serabutan yang dijalani Rohmiyati selama ini belum cukup untuk memperbaiki rumahnya yang rusak.
Karena itu, bantuan rehab RTLH dari Baznas Jateng menjadi harapan baru bagi keluarganya.
“Bantuan ini sangat berarti bagi keluarga kami,” ucap Rohmiyati haru.
Baginya, bantuan tersebut bukan hanya soal memperbaiki bangunan rumah, tetapi juga menghadirkan harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih layak di tengah keterbatasan.(HS)

