HALO SEMARANG – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia, menyebut kecil kemungkinan letusan Semeru dapat menyebabkan tsunami, apalagi hingga ke Jepang.
Penjelasan itu disampaikan Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, seperti dirilis bnpb.go.id.
Dia menyebut ada beberapa alasan, bahwa berita tentang kemungkinan tsunami tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Untuk diketahui, informasi mengenai kemungkinan tsunami tersebut, awalnya disampaikan Japan Meteorological Agency (JMA), yang merupakan Badan Meteorologi Pemerintah Jepang, dalam sebuah siaran pers, beberapa waktu lalu.
Adapun menurut analisa BNPB Indonesia, Gunung Semeru merupakan gunung api darat, dengan jarak cukup jauh dari laut, sehingga potensi letusan / pyroclastic / partial collapse, tidak sampai ke laut dan tidak bisa membangkitkan tsunami.
Kemudian, posisi Gunung Semeru berada di Selatan Jawa. Jika terjadi longsoran di Pantai Selatan Jawa akibat aktivitas vulkanik, kecil kemungkin tsunami yang terjadi bisa menjangkau Jepang, karena terhalang gugusan pulau-pulau di Indonesia.
Berdasarkan analisa tersebut, kabar yang beredar tentang letusan Gunung Semeru, akan menyebabkan tsunami hingga ke negara Jepang, menurut dia dapat dipastikan tidak tepat.
Dia mengimbau masyarakat, agar mengacu kabar dari lembaga yang berwenang di Indonesia, baik itu dari BNPB, BMKG, PVMBG, BPBD, dan lembaga-lembaga yang dimandatkan oleh Pemerintah Indonesia.
Pernyataan JMA
Sebelumnya, Lembaga Meteorologi Pemerintah Jepang, atau Japan Meteorological Agency (JMA), melalui media resminya jma.go.jp, menyampaikan publikasi dalam sebuah siaran pers, tentang kemungkinan tsunami akibat letusan Semeru.
Dalam siaran pers tersebut, JMA menyebut nama Gunung Semeru sebagai Semer.
“Kami sedang menyelidiki apakah ada tsunami di Jepang,” sebut JMA dalam siaran persnya.
Disebutkan dalam siaran pers JMA, sekitar pukul 11:18 tanggal 4 Desember 2020 (waktu Jepang), letusan skala besar terjadi di gunung berapi Semer. Informasi itu diperoleh JMA dari Pusat Informasi Abu Vulkanik Darwin Airways (VAAC).
Seandainya tsunami terjadi dengan letusan ini dan mencapai Jepang, JMA memperkiraan waktu kedatangannya lebih awal (wilayah Miyakojima/Yaeyama) sekitar pukul 14:30 pada tanggal 4. Ketinggian gelombang maksimum yang diharapkan dari tsunami tidak diketahui.
Citra satelit cuaca Himawari juga tidak menunjukkan perubahan yang jelas yang mungkin sesuai dengan gelombang tekanan yang terkait dengan letusan.
Saat ini, tidak ada perubahan signifikan pada tingkat pasang surut yang diamati di stasiun pengukur pasang surut di luar negeri. Kami akan terus mengabari Anda tentang pengamatan tsunami di masa mendatang.
“Nantikan informasi selanjutnya,” sebuh JMA dalam siaran persnya. (HS-08)