in

Lapas Kelas IIB Batang Latih Napi Produksi Briket

Dua napi Lapas Kelas IIB Batang berlatih membuat briket arang dengan memanfaatkan limbah kayu. (Foto : batangkab.go.id)

 

HALO BATANG – Lapas Kelas IIB Batang menggerakkan para narapidana (Napi) untuk membuat briket arang, dengan memanfaatkan limbah berupa potongan-potongan kayu.

Kepala Lapas Batang Rindra Wardhana, mengatakan potongan-potongan kayu tersebut merupakan salah satu limbah, yang banyak ditemukan di Lapas Kelas IIB Batang.

Menurut dia, jika limbah ini tidak ditangani secara khusus, maka dapat menyebabkan masalah lingkungan.

“Pembuatan briket arang ini untuk mengurangi limbah kayu,” kata dia, di Lapas Kelas IIB Kabupaten Batang, Selasa (8/11/2022), seperti dirilis batangkab.go.id.

Lebih lanjut, Rindra Wardhana mengatakan, melalui program ini, para napi atau warga binaan pemasyarakatan, memiliki keterampilan yang dapat mereka manfaatkan, setelah bebas.

Menurutnya, briket arang saat ini bernilai ekonomis karena dapat digunakan sebagai alternatif pengganti bahan bakar yang harganya mahal.

Rindra berharap, produksi briket di Lapas Batang dapat dukungan dari semua pihak dan dapat diterima di pasar.

“Semoga kegiatan produksi Briket arang ini mendapat dukungan dari semua pihak,” ujar dia.

Layanan Psikoterapi

Selain pembereian keterampilan, Rindra Wardhana juga mengemukakah rencana untuk membuka layanan psikoterapi bagi warga binaannya.

Rindra mengatakan, ide tersebut muncul setelah pihaknya melakukan studi tiru ke Lapas Kelas I Cirebon Jawa Barat bulan lalu.

Menurut Rindra, Lapas tersebut sudah melaksanakan layanan tersebut, dan dia berkesempatan untuk melihat warga binaan di sana mengikuti layanan tersebut.

“Setelah melihat layanan psikoterapi di Lapas Cirebon dan sepertinya cukup efektif sehingga kami ingin mengadopsinya di Lapas Batang,” jelasnya.

Menurut Rindra psikoterapi ini untuk membantu warga binaan pemasyarakatan agar menerima segala sesuatu yang ditakdirkan Allah Swt.

Dengan demikian mereka tidak stres, tidak mengganggu keamanan seperti melarikan diri, melawan petugas, atau bunuh diri.

 

“Psikoterapi ini bisa mengubah pola pikir WBP jadi lebih optimis, terutama bagi yang baru masuk terkadang ada sebagian yang tidak menerima kondisi psikologi mereka,” terangnya.

Untuk merealisasikan hal tersebut, Rindra berencana akan mengirim beberapa petugas Lapas Batang untuk belajar secara langsung teknik psikoterapi di Lapas Cirebon.

“Kami akan memberikan kesempatan kepada beberapa petugas Lapas Batang yang berkompeten di bidang terapi, supaya bisa mengetahui tekniknya,” tegasnya.

Beberapa teknik yang dilakukan yakni mindfulness atau meditasi, olahraga fisik yang berdampak secara psikis seperti terapi tertawa, senam otak dan senam pernapasan. Terapi ini tidak hanya bagi WBP baru saja. Namun bagi mereka yang melakukan pelanggaran, otomatis harus mengulang proses terapi ini dari awal.

Ia yakin dengan pemberian layanan psikoterapi dan dikombinasikan dengan pembinaan mental keagamaan yang sudah berjalan akan berdampak positif bagi WBP.

Saat ini Lapas Batang telah memberikan layanan pembinaan mental keagamaan di dalam lapas bagi WBP berupa pondok pesantren bagi yang beragama Islam. Bagi yang beragama Nasrani disediakan tempat ibadah gereja.

Rindra berharap, dengan dibukanya nanti layanan psikoterapi dapat membantu WBP untuk lebih tenang mengahadapi kasus yang menjeratnya sehingga tercipta keamanan dan ketertiban di dalam lapas. (HS-08)

Usulan UMK 2023, Disnaker Batang Masih Tunggu Penetapan UMP

Pj Bupati Batang, Minta ASN dan Tenaga Honorer Netral Dalam Pemilu 2024