HALO SEMARANG – Akhir tahun ini, Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang akan membentuk empat kelurahan sebagai pilot project atau model percontohan wilayah mandiri pangan guna mengantispasi dampak resesi global. Harapannya, nantinya wilayah mandiri pangan juga ada di tingkat kota, kecamatan, sampai tingkat kelurahan. Empat kelurahan tersebut yaitu Kelurahan Tanjungmas (Kecamatan Semarang Utara), Kelurahan Mugassari (Semarang Selatan), Kelurahan Mangunsari (Gunungpati) dan Purwosari (Mijen).
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Bambang Pramushinto mengatakan, program kelurahan mandiri pangan ini guna menghadapi kekhawatiran resesi global tahun 2023, salah-satunya terhadap kebutuhan bahan pangan.
“Sebelumnya hal itu sudah disampaikan Pak Presiden, lalu telah dilaksanakan koordinasi pusat dan daerah, terkait situasi tahun depan ada kekhawatiran terjadinya resesi. Untuk itu perlu adanya antisipasi di daerah untuk bisa mencukupi kebutuhan pangan mandiri,” terangnya, Minggu (6/11/2022).
Dirinya juga mengimbau kepada masyarakat untuk bisa bersiap menghadapi situasi tersebut. “Harus bijak manfaatkan sumber daya yang ada. Kan beberapa kelembagaan pusat juga memastikan daerah ketersediaan pangannya cukup, selain itu dari Badan Pangan Nasional yang mengajak masyarakat untuk mengkonsumsi makanan beragam, bergizi seimbang, dan aman. Tidak harus makan beras kalau ada jagung ya jagung dikonsumsi sebagai pangan alternatif,” paparnya.
Apalagi, belum lama ini pemerintah telah mensosialisasikan ada sebanyak enam pangan alternatif di antaranya kentang, jagung, dan sagu. Lalu, ada talas, yang bisa diolah untuk jadi pangan alternatif. “Begitu juga ketika memproses pengolahan bahan pangan agar diperhatikan, sehingga tidak terbuang percuma, kemudian masyarakat saat makan akan lebih baik ditakar dulu jangan sampai sisa. Eman-eman kalau dibuang begitu saja. Ini untuk antisipasi karena beberapa negara sudah krisis,” katanya.
Terkait stok bahan pangan di Kota Semarang, dijelaskan Bambang, saat ini masih aman. Karena bahan pangan di Kota Semarang dicukup dari wilayah sekitarnya.
“Hanya 11 persen saja dicukupi sendiri, selebihnya dari wilayah sekitar. Harapannya dengan adanya bahan pangan dari kelurahan mandiri, pangan bisa dicukupi oleh wilayahnya sendiri untuk mencapai dan mendukung kedaulatan pangan,” paparnya.
Misalnya, di Kelurahan Mangunsari, selain menanam padi, di wilayah tersebut bisa memanfaatkan lahan dengan menanam jagung atau sukun, sehingga tidak tergantung beras.
“Potensi beternak ayam diambil telurnya. Nantinya saat program ini telah berjalan bisa diketahui masyarakat yang kekurangan pangan ada berapa, dan untuk evaluasi pijakan program berikutnya,” imbuhnya.
Pihaknya juga berkoordinasi dengan OPD terkait untuk terlibat dalam mendukung program kelurahan mandiri pangan ini. “Khususnya untuk pembenahan sarana kesehatan, infrastruktur jalan distribusi pangan, kami akan berkolaborasi dengan OPD lainnya sehingga berjalan dengan baik,” jelasnya.(HS)