in

Anggaran Mepet, Pemkab Batang Pilih Pelihara RTH Dibanding Bangun Baru

Suasana Alun-alun Kabupaten Batang. (Foto : batangkab.go.id)

 

HALO BATANG – Persoalan keuangan daerah tahun ini, memaksa Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Kabupaten Batang untuk makin mengencangkan ikat pinggang.

Perangkat daerah tersebut, sesuai kemampuan angaran, lebih memilih memprioritaskan pemeliharaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) atau taman yang sudah ada, dibandingkan dengan mambuat baru.

Hal itu diungkapkan Kepala DPRKP Batang, Tatang Sontani, terkait dengan pembangunan RTH di Batang.

Dia mengungkapkan bahwa keterbatasan anggaran, menjadi alasan utama pembangunan RTH baru harus keluar dari daftar prioritas, atau dia mengistilahkan dengan kata “diparkir” dulu.

Tatang mengaku memahami bahwa RTH bukan sekadar tempat terbuka atau tempat publik, akan tetapi juga magnet pertumbuhan ekonomi bagi warga sekitar.

Namun keterbatasan anggaran, memaksa Pemkab Batang harus benar-benar menghitung untuk menentukan skala prioritas.

“Untuk saat ini, perhatian penuh pemerintah daerah tertuju pada RTH Alun-alun Batang dan RTH Bandar,” kata dia, di Kantornya, Selasa (19/5/2026).

Dua kawasan ini, diprioritaskan agar tetap berfungsi optimal, terutama dalam menjamin kenyamanan dan terangnya pencahayaan bagi para pengunjung.

“Rutin itu bagaimana mempertahankan fungsi RTH, supaya tetap optimal. Misalnya lampu jangan sampai mati, itu juga ada anggaran pemeliharaan,” kata dia, seperti dirilis batangkab.go.id.

Tatang menjelaskan, manajemen pengelolaan RTH sebenarnya dibagi menjadi dua kamar kegiatan rutin dan proyek pembangunan.

Pemeliharaan rutin mencakup urusan harian seperti memastikan lampu penerangan tetap menyala, sementara pembangunan RTH baru masuk dalam kategori proyek, yang anggarannya tidak selalu mulus mengalir setiap tahun.

Dia pun kemudian mengemukakan untuk pemeliharaan sekitar 500 lampu, yang lebih kurang membutuhkan anggaran Rp500 juta, namun anggaran yang tersedia hanya Rp50 juta hingga Rp75 juta per tahun.

“Saat ini, anggaran yang dikantongi untuk pemeliharaan lampu penerangan RTH berkisar antara Rp50 juta hingga Rp75 juta per tahun. Angka ini masih berjalan pincang jika dibandingkan dengan kebutuhan ideal di lapangan, apalagi jumlah RTH di Batang terus merangkak naik,” jelasnya.

Tantangan di lapangan pun tidak melulu soal usia pakai bohlam lampu yang meredup.

Tatang membeberkan bahwa pembengkakan biaya sering dipicu oleh tangan-tangan jahil, yang merusak dan melakukan vandalisme di fasilitas publik.

“Selain Alun-alun Batang dan RTH Bandar, wilayah lain seperti Wonotunggal dan Blado sebenarnya sudah memiliki kawasan hijau serupa. Semua lokasi ini juga membutuhkan sentuhan

Ia berharap, setiap tahun ada RTH baru karena RTH itu magnet ekonomi. Tapi melihat kemampuan daerah, yang berat justru biaya pemeliharaannya.

Tatang juga mengajak, seluruh lapisan masyarakat untuk ikut pasang badan menjaga fasilitas ruang publik yang sudah dibangun.

“Gotong royong merawat ini penting agar usia pakai fasilitas bisa lebih panjang, dan anggaran daerah tidak habis terkuras hanya untuk membiayai kerusakan yang tidak perlu,” kata dia. (HS-08)

 

 

Pemkab Batang Salurkan Bantuan Keuangan Rp15,8 Miliar untuk Desa

Bupati Batang Dorong Desa Mandiri Kelola Sampah